Ditolak Maskapai, Enam Terduga Teroris Dipindahkan Lewat Jalan Darat

Senin, 22 Februari 2016 | 06:56 WIB
AS
YD
Penulis: Aries Sudiono | Editor: YUD
Anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri melakukan penggeledahan di sebuah rumah yang digunakan sebagai tempat persembunyian para terduga teroris di Perumahan Greenhill, Ngijo, Karangploso, Malang, Jawa Timur, 20 Februari 2016. Antara/Ari Bowo Sucipto
Anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri melakukan penggeledahan di sebuah rumah yang digunakan sebagai tempat persembunyian para terduga teroris di Perumahan Greenhill, Ngijo, Karangploso, Malang, Jawa Timur, 20 Februari 2016. Antara/Ari Bowo Sucipto

Malang - Enam orang lelaki terduga teroris, yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri dari tiga tempat di wilayah Kabupaten Malang, Jatim, dipindahkan dari Mako Brimob Detasemen Pelopor B Ampeldento, Pakis, Malang ke Mako Brimob Kelapa Dua di Jakarta, Minggu (21/2) siang.

Mereka terdiri dari Badrodin alias Abu Gar, Ahmad Ridho Wijaya, Muhammad Romly, Handoko, Rudi Hadianto alias Cimot, dan Aidin Suryana alias Aji alias Abu Zilan. Dengan pengawalan ketat petugas Brimob bersenjata lengkap, keenam pasang mata terduga teroris sengaja ditutup agar memudahkan proses pemindahan dari Malang ke Jakarta.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, lima orang ditangkap dalam aksi penggerebekan tim Densus 88 ketika mereka bermobil hendak keluar dari Perumahan Griya Permata Alam dan Perumahan Greens Hills di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang dengan naik mobil Daihatsu Xenia warna silver, Jumat (19/2) malam.

Seorang lainnya, bernama Aidin ditangkap di suatu tempat terpisah di wilayah Dau, juga tidak jauh dari Balai Desa Ngijo. Sehari sesudahnya, Sabtu (20/2) petugas juga menggeledah di dua tiga tempat yang menemukan sejumlah barang bukti handak, buku-buku jihad, stiker ISIS dan daftar nama-nama mujahid.

"Untuk petugas pengawalan memang kita kerahkan 30 personel pilihan bersenjata lengkap," ujar Kepala Satuan Brimob Polda Jatim Detasemen B Pelopor di Ampeldento, Pakis, Malang, AKBP Sunadi usai pemberangkatan rombongan, Minggu sore.

Pemindahan sengaja memakai jalur darat karena banyak maskapai penerbangan yang keberatan bila harus membawa penumpang terduga teroris.

Sementara itu Kapolres Malang, AKBP Yudo Nugroho Sugianto, Minggu tadi malam menjelakan, bahwa dari hasil penyidikan sementara di Mako Brimob Ampeldento diketahui, bahwa terduga teroris Aidin berjaringan dengan kelompoknya Romly. Aidin yang bertugas mencari dana dengan kamuflase usaha pencurian kendaraan bermotor itu diringkus petugas Satreskrim Polres Malang Kota.

"Ini merupakan pengembangan dari kasus penggerebekan teroris di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah," ujar Yudo.

Keenam orang terduga teroris yang dimasukkan dalam satu unit mobil tahanan itu semuanya memakai baju tahanan berwarna oranye. Kaki dan tangan mereka diborgol. Sementara mata mereka ditutup memakai lakban. Sekitar pukul 13.00 wib, rombongan meninggalkan markas Ampeldento. Rombongan akan menempuh perjalanan darat hingga ke Mako Brimob di Kelapa Dua Jakarta.

Terduga aksi terorisme yang ditangkap di Malang diberangkatkan ke Jakarta, Minggu (21/2/2016) pukul 13.00 wib. Ada enam orang yang diberangkatkan ke Jakarta. Mereka menaiki sebuah minibus. Puluhan personel mengawal pemindahan itu.

"Mereka dipindahkan ke Mako Brimob di Kelapa Dua. Pemindahan mereka kali ini melalui jalur darat," ujar Kapolres Malang AKBP Yudo Nugroho Sugianto.

Buku bacaan
Buku dan majalah tentang jihad hasil penggeledahan dibawa petugas gabungan usai menggeledah empat rumah warga yang diduga terlibat aksi terorisme, Sabtu (20/2). Ada kesamaan judul dan jenis buku bacaan para terduiga teroris yang ditemukan di tiga rumah terduga teroris, Ahmad Ridho Widjaya, Rudi Hadianto dan Muhammad Romli.

Buku itu antara lain berjudul; Tarbiyatul Jihadiyah, Mengenal Ajaran Nabi Bukan Teroris, Kafir Tanpa Sadar, dan Gerakan Radikalisasi. Tidak hanya buku tentang jihad, petugas juga menemukan simbol ISIS. Bahkan di rumah Muhammad Romli di Kecamatan Dau, petugas menemukan daftar nama mujahid.

"Ya benar, bukunya ini tentang jihad," ujar salah seorang petugas Densus yang menolak dituliskan nama dan identitas lainnya ketika membeber barang yang disita dari rumah terduiga teroris.

Kapolres Malang AKBP Yudo Nugroho Sugianto mengatakan jika penggeledahan itu merupakan tindaklanjut dari penangkapan yang dilakukan, Jumat malam.

"Mungkin masih ada yang membahayakan, sehingga perlu penggeladan dan pengamanan serta untuk penyidikan setelah adanya penangkapan kemarin," ujarnya sambil membenarkan adanya dugaan mereka yang diamankan di Malang itu diduga terkait aksi teror di Thamrin, Jakarta Pusat. Gerakan mereka sudah mulai dipantau sejak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, sampai akhirnya ditangkap di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Romli alias Romelan
Muhammad Romli, warga yang tinggal di Jalan Mergojoyo Gang 3 No 7, Dusun Jetis Desa Mulyoagung Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, memiliki nama asli Romelan. Nama itu tertera di kartu keluarga (KK) dan KTP. Ketua RT setempat, Juari juga mengenal nama asli Romelan.

"Ya Romelan atau Romli itu yang tertera di kartu namanya," ujar Juari yang ditemui wartawan, Minggu pagi. Di fotokopi KTP yang dibawa tim penggeledah juga tertera nama Romelan. Laki-laki itu merupakan pendatang yang berasal dari Tulungagung. Romli merupakan satu dari enam orang yang ditangkap Densus 88. Romli selama ini dikenal sebagai juru bicara kelompok Ansharul Khilafah Malang (AKM).

Kelompok AKM tersebut sempat membuat geger pada Agustus 2014 yang lalu dengan cara membuat kegiatan secara bergiliran di banyak masjid, namun banyak pengurus Takmir Masjid yang menolak karena dijadikan kegiatan kelompok mereka. Sampai akhirnya kelompok ini berkegiatan di masjid ‘Biru’ di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau yang ada di tengah sawah kebun tebu. Kelompok tersebut diafiliasikan dengan gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Ketika itu warga resah dan Muspika Dau memanggil Muhammad Romli selaku pengurus masjid yang diketahui pula sebagai juru bicara Ansharul Khilafah. Ketika itu, Romli membantah jika kelompoknya berafiliasi dengan ISIS. Namun pada Jumat malam, Romli bersama teman-teman satu kelompoknya ditangkap tim Densus 88 Antiteror usai rapat di rumah Badrodin karena diduga terlibat dalam aksi terorisme.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon