Harga Minyak Rendah Tekan Mata Uang Kawasan Teluk
Minggu, 6 Maret 2016 | 23:10 WIB
Kuwait City – Harga minyak yang lemah menimbulkan ancaman kepada patokan mata uang negara-negara di kawasan Teluk Arab terhadap dolar. Namun menurut para analis, negara-negara yang kaya akan cadangan energi ini kemungkinan belum akan meninggalkan kebijakan yang telah ditetapkan.
Baik Bahrain, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akan mempertahankan nilai mata uang mereka terhadap dolar. Di sisi lain, Kuwait telah memiliki keterkaitan dengan kelompok mata uang termasuk dolar.
Akan tetapi, berkembang keraguan apakah kebijakan tersebut masih masuk akal.
Pasalnya, harga minyak dunia yang tergelincir telah menganggu perekonomian enam negara anggota Dewan Kerja Sama Negara Arab di Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) - Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) – di saat laju ekonomi Amerika membaik dan prospek suku bunga Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi mendongkrak dolar.
Untuk menjaga acuan mata uang maka seluruh anggota GCC, kecuali Qatar, telah menaikkan suku bunga mereka pada Desember 2015, mengikuti langkah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Padahal perekonomian negara mereka justru membutuhkan sebaliknya.
Sekarang negara-negara Teluk menghadapi dilema apakah harus menjaga patokan nilai tukar atau memilih untuk rezim nilai tukar yang fleksibel, sehingga memungkinkan mata uang mereka melemah terhadap dolar.
"Mempertahankan patokan nilai tukar sangat mahal. Bank sentral harus bersedia membeli atau menjual mata uangnya di pasar terbuka untuk mempertahankan patokan, yang dapat menguras cadangan devisa asing," ujar M.R. Raghu, kepala penelitian di Kuwait Financial Centre, kepada AFP, Minggu (6/3).
Dia menambahkan, ekpsor minyak bumi yang mencapai sekitar 80% dari pendapatan pemerintah negara yang tergabung dalam GCC, telah anjolk 70% sejak pertengahan 2014. Hal itu membuat patokan mata uang rentan karena harus mengurangi cadangan devisa asing.
Di sisi lain, meski negara-negara anggota GCC, kecuali Bahrain dan Oman, memiliki cadangan besar untuk mempertahankan patokan mereka. Namun beberaa spekulan bertaruh bahwa negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi, tidak akan mampu mempertahankan keterkaitan mata uang tanpa batas.
Jan Randolph, direktur Analisis Risiko di IHS Global Insight, meyakini kinerja kontras dari ekonomi negara AS dan Teluk yang akan menekan patokan. "Kebijakan moneter juga diharapkan berbeda, yakni dapat menstimulasi di GCC dan melakukan pengetatan bertahap di Amerika Serikat," kata dia kepada AFP.
Randolph menambahkan negara-negara anggota GCC memerlukan mata uang yang lemah dan suku bunga yang rendah untuk menaikkan laju perekonomian mereka yang melemah, terutama untuk mengembangkan sektor ekspor non-minyak.
"Semakin lama perbedaan ekonomi terus berlanjut maka semakin besar keinginan untuk mengarah kepada rezim nilai tukar yang lebih fleksibel," tambah dia.
Mempertahankan patokan dolar dapat membawa stabilitas keuangan dan kepastian kepada perekonomian negara-negara anggota GCC di tengah ketegangan geopolitik regional. Hal itu juga membantu menahan laju inflasi dan menaikkan kepercayaan investasi asing.
Di sisi lain, para produsen minyak seperti Rusia, Kazakhstan, Azerbaijan, dan Nigeria telah mendevaluasi mata uang mereka, kemudian menaikkan pendapatan minyak dalam mata uang lokal untuk membantu membatasi defisit rekening dan anggaran saat ini.
Akan tetapi ada harga yang harus dibayar mahal.
"Devaluasi biasanya menyebabkan laju inflasi lebih tinggi dan seringkali berakibat pada penurunan taraf standar kehiduan, yang dapat menganggu stabilitas sosial," bunyi laporan Standard and Poor's (S&P) baru-baru ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




