Rusia Tarik Pesawat Tempur dari Suriah
Rabu, 16 Maret 2016 | 00:34 WIB
Moskow – Pesawat-pesawat tempur Moskow adalah yang pertama kali mendarat di Rusia setelah bertolak dari Suriah, Selasa (15/3). Itu merupakan langkah penarikan mengejutkan, namun para diplomat berharap hal ini akan meningkatkan babak baru dari perundingan damai dengan menekan rezim Damaskus.
Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, Staffan de Mistura menggambarkan tindakan penarikan itu sebagai perkembangan signifikan bagi perundingan yang dimulai di Jenewa, Senin (14/3) dalam upaya terakhir untuk mengakhiri konflik yang berlangsung lima tahun lamanya. Meski begitu, para pemimpin Barat tetap waspada.
"Kami harap ini akan berdampak positif pada kemajuan negosiasi," ujar de Mistura dalam sebuah pernyataan.
Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin telah memerintahkan pasukan-pasukan utamanya untuk keluar dari negara yang tengah dilanda perang, Senin. Namun Kremlin membantah, pihaknya berusaha menekan sekutu setianya Presiden Bashar al-Assad.
Menurut Putin, tujuan militer Moskow telah selesai sepenuhnya berikut sembilan ribu serangan tempur mendadak yang berlangsung sekitar 5,5 bulan, setelah Kremlin meluncurkan operasi militer pengeboman untuk mendukung Assad.
Media pemerintah pun menayangkan tayangan langsung dari kerumunan orang yang mengibarkan bendera menyapa para pilot pesawat yang keluar dari pangkalan militer di bagian barat daya Rusia bersamaan dengan dimainkannya pertunjukan musik yang terdiri dari berbagai alat musik tiup.
Kendati sudah menarik pasukannya, Namun, Rusia akan mempertahankan pasukan di wilayah udaranya dan pangkalan angkatan lautnya di Suriah. Bahkan, para pejabat senior militer menganjurkan pesawat-pesawat Rusia bisa melanjukan penyerangan ke target-target yang mencolok.
"Masih terlalu dini membicarakan kemenangan atas terorisme. Pasukan angkatan udara Rusia memiliki tugas untuk terus menyerang target-target teroris," demikian disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Nikolai Pankov, yang dikutip kantor berita Rusia, di pangkalan militer Hmeimim di Suriah.
Sementara itu, para pemimpin Barat bereaksi lebih berhati-hati karena Moskow belum menentukan batas waktu untuk menyelesaikan penarikan pasukan dan pejabat Kremlin masih bersikeras bahwa Rusia akan menjaga sistem pertahanan udara canggih di Suriah.
Alhasil, masih tipis harapan adanya terobosan baru di Jenewa karena kedua belah pihak terkunci dalam pertikaian sengit atas masa depan Assad seiring konflik memasuki tahun keenam.
De Mistura diperkirakan menggelar pertemuan resmi pertamanya dengan kelompok oposisi Komite Tinggi Negosiasi (HNC) – yang sudah berulang kali menyebutkan Assad tidak dapat menjadi bagian dari masa depan politik Suriah.
Sedangkan pihak rezim menegaskan penolakan untuk menyingkirkan Assad.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




