Bentrokan Warnai Kedatangan Presiden Turki di Washington

Sabtu, 2 April 2016 | 00:41 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Petugas keamanan mengawal mobil limosin yang membawa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meninggalkan Brookings Institution, lokasi di mana dia menyampaikan pidato, di sela-sela KTT Nuklir di Washington DC, Kamis, 31 Maret 2016 waktu setempat.
Petugas keamanan mengawal mobil limosin yang membawa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meninggalkan Brookings Institution, lokasi di mana dia menyampaikan pidato, di sela-sela KTT Nuklir di Washington DC, Kamis, 31 Maret 2016 waktu setempat. (AFP Photo/Nicholas Kamm)

Washington – Para wartawan dan pendukung militan Kurdi terlihat baku hantam serta saling hina dengan para pengawal yang bertugas melindungi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Washington, menjelang pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama.

Sekelompok kecil pemrotes terlihat berkumpul di luar lembaga think tank, Brookings Institute, Kamis (31/3) waktu setempat, di mana presiden Turki dijadwalkan berpidato. Mereka mengacungkan spanduk-spanduk YPG atau kelompok militan Kesatuan Perlindungan Rakyat Kurdi yang berbasis di Suriah.

Pemerintah Ankara menganggap YPG sebagai afiliasi dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), gerakan separatis utama Kurdi di Turku, dan telah dinyatakan sebagai ancaman teroris.

Namun, Washington memandang gerilyawan YPG sebagai sekutu kunci dalam operasi serangan militer melawan kelompok Negara Islam (NI).

Beberapa saat menjelang kedatangan Erdogan ke Brookings Institute, di Washington, para petugas keamanan Turki bentrok dengan kerumuman, sebelum akhirnya polisi setempat memisahkan mereka.

Pengawal presiden Turki juga menyerang wartawan.

Bahkan salah seorang pengawal berniat menendang dada wartawan Amerika yang berusaha merekam tindak pelecehan terhadap reporter oposisi Turki, dan lainnya meneriakkan kata-kata "pelacur PKK" kepada mahasisiwi kebijakan luar negeru.

Petugas keamanan Turki mencoba mencegah dua wartawan Turki, di mana salah satu dari mereka adalah karyawan yang kerja untuk surat kabar harian oposisi, Zaman, yang telah ditutup oleh pemerintah.

Kesemuanya ini terjadi sebelum pertemuan Obama-Erdogan yang sepertinya dijadwalkan di menit-menit terakhir.

Setelah sebelumnya dinyatakan bahwa kedua orang itu tidak mungkin menggelar perundingan dengan duduk bersama – keputusan yang dianggap luas sebagai bentuk penghinaan dari Washington. Gedung Putih mengatakan kedua pemimpin sudah bertemu di sela-sela pertemuan puncak keamanan nuklir.

Dikatakan, mereka membahas kerja sama AS-Turki di bidang keamanan regional, kontra terorisme, dan migras
Namun, fakta bahwa tidak adanya pertemuan presiden saat lawatan Erdogan ke ibu kota AS saja sudah mencolok.

Kedua negara dimaksudkan menjadi sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di tengah-tengah pertarungan melawan kelompok NI di Suriah.

Akan tetapi ketegangan itu telah memicu serangan Ankara terhadapp gerilyawan Kurdi, beberapa di antaranya dipandang Washington sebagai taruhan terbaik untuk menanggulangi NI di Irak dan Suriah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon