BPPT Sebut Teknologi Sel Bahan Bakar Lebih Ramah Lingkungan
Jumat, 15 April 2016 | 17:43 WIBJakarta - Dampak perubahan iklim harus ditekan salah satunya melalui pengurangan emisi karbon. Karenanya, teknologi fuel cell atau sel bahan bakar bisa menjadi salah satu alternatif karena ramah lingkungan dan tidak menghasilkan emisi. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun telah melakukan riset tentang hal ini.
Peneliti Pusat Teknologi Material BPPT, Jarot Raharjo, mengatakan, teknologi fuel cell atau sel bahan bakar memiliki peran yang kuat dalam membantu mengurangi emisi bahan bakar fosil.
"Fuel cell adalah teknologi yang menawarkan efisiensi energi dan menjadi bagian penting sistem energi baru yang muncul menawarkan efisiensi tinggi dan dapat mengirimkan daya cepat," katanya di sela-sela seminar Nanomaterial dan Smart Energy di Jakarta, Jumat (15/4).
Jarot menjelaskan, sel bahan bakar merupakan perangkat yang mampu mengubah energi kimia ke energi listrik secara langsung. Bahan bakar di dalamnya bisa berupa hidrogen, metanol atau gas alam lainnya seperti metan. "Untuk membuat fuel cell, menjadi sumber daya atau potensi bahan bakunya sangat besar di Indonesia," ucapnya.
Bahkan, lanjut Jarot, BPPT masuk dalam konsorsium logam tanah jarang karena materialnya bisa dijadikan oksida padat untuk perangkat fuel cell.
Jarot menambahkan, sel bahan bakar ada dua jenis, yakni polimer electrolyte membrane fuel cell yang hanya berbahan bakar hidrogen dan solid oxide fuel cell yang bisa berisi beragam campuran bahan bakar misalnya hidrogen dan metanol.
"Jepang negara paling maju memanfaatkan fuel cell. Bahkan panas buangan reaktor nuklir dipakai pembuatan hidrogen untuk fuel cell," tuturnya.
Bahkan, kata dia, perusahaan otomotif ternama di Jepang sudah mengaplikasikan teknologi fuel cell ini pada kendaraan roda empat yang diproduksinya. "Kita harus berjuang, karena di luar negeri sudah ada regulasinya. Teknologi fuel cell di sana sangat diterima," ujarnya.
Khusus untuk daerah pelosok di Indonesia, lanjut Jarot, fuel cell bisa dikombinasikan dengan tenaga surya untuk menghasilkan listrik.
Saat ini di Indonesia, aplikasi fuel cell sudah dipakai pada industri telekomunikasi. Salah satunya perusahaan PT Cascadiant Indonesia pun telah banyak melayani perusahaan telekomunikasi.
"Operator telekomunikasi memakai fuel cell untuk menggantikan peran genset saat listrik padam. Selain bebas emisi, tidak bising dan harga sel bahan bakar ini lebih kompetitif," kata Direktur Pengembangan Bisnis PT Cascadiant Indonesia Charles Giroth.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




