Pengacara: Peristiwa di Australia, Pembunuhan Karakter Jessica
Kamis, 18 Agustus 2016 | 18:37 WIB
Jakarta - Penasihat hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan menilai, keterangan atau data yang didapatkan Ahli Psikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, dr Natalia Widiasih Raharjanti, dari teman Jessica dan kepolisian Australia, tidak ada hubungannya dengan kasus kopi beracun.
"Saya kira saksi ahlinya sih berbicara bagus, tetapi pertanyaan Jaksa yang jadi melebar. Pertanyaannya rumor. Kita akan membuktikan pembunuhan berencana, tapi yang dibicarakan tentang kehidupan dia (Jessica) di luar negeri, dan anehnya yang dikejarnya itu tentang pacarnya Jessica dengan orang lain," ujar Otto, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/8).
Dikatakannya, Jaksa Penuntut Umum beralasan menanyakan hal itu kepada saksi ahli karena ingin mengetahui emosi Jessica. Namun, tidak ditanyakan kaitannya dengan kasus kopi beracun.
"Tidak ditanya kan kaitannya dengan kematian Mirna. Jadi kalau tingkat emosinya tinggi apa kaitannya dengan Mirna, ini lost. Jadi saya menganggap menanyakan tentang latar belakang Jessica ini hanya merupakan pembunuhan karakter Jessica. Secara hukum itu tidak ada artinya," ungkapnya.
Ia menyampaikan, apakah ada kaitannya kejadian di Australia dengan kejadian tewasnya Mirna?
"Kalau dulu ada eskalasi emosi, ya tentunya kita melihat yang berkaitan dengan Mirna. Ini tidak ada pertanyaan mengenai Mirna. Padahal kalau bicara soal eskalasi emosi, kaitannya dengan Mirna. Jadi yang ditanya adalah rumor tentang bagaimana dia pacaran, bagaimana dengan bosnya dan sebagainya," katanya.
Menurutnya, Jaksa ingin mengkaitkan karena ada sesuatu hal di Australia, seakan-akan Jessica berbuat kejahatan.
"Karena dia di sana ada sesuatu hal seakan-akan dia berbuat, itu jauh sekali. Kan harus ada kaitan dengan Mirna dong. Katakanlah itu benar, berarti kaitannya emosinya melakukan itu terhadap pacarnya bukan terhadap Mirna, karena dia emosi dan dia marah dengan pacarnya. Jadi apa hubungannya dengan Mirna?" jelasnya.
Ia menegaskan, saksi Christie-teman atau atasan Jessica di Australia-tidak disumpah dalam memberikan keterangannya. Sehingga, apa yang disampaikan hanya rumor.
"Ahli juga mengatakan tidak tahu itu (pernyataan Christie) benar atau tidak, itu katanya dia. Wajar dong kalau marahan sama teman, orangnya jelek-jelekin. Itu lah yang saya katakan itu adalah pembunuhan karakter terhadap Jessica," terangnya.
"Jessica bilang, pak Otto apa lah nasib saya ini. Kalau saya ketawa saya dibilang pembunuh berdarah dingin, kalau saya cemberut saya dibilang takut, jadi kemana pun saya selalu salah," tambahnya.
Menyoal ada keterangan kalau Jessica tahu cara bagaimana membunuh, Otto mengungkapkan, itu hanya kata orang.
"Itu kan kata orang, bukan kata Jessica. Itu kan kata orang yang tidak disumpah di sini. Itu lah yang dilarang hakim tadi. Itu kan di Australia, dari mana dia tahu, jadi jangan kita bawa rumor," katanya.
Apalagi, tambahnya, dalam hukum kesaksian ahli bukan menceritakan tentang fakta, tapi terkait keilmuannya.
"Jadi kalau pun ada sumber yang dipakai ahli ini untuk mendapatkan kesimpulan, itu keterangan bukan merupakan fakta di persidangan. Yang menjadi fakta persidangan adalah kesimpulan dari ahli (Jessica tidak ada gangguan kejiwaan)," ucapnya.
Ihwal pernyataan Jessica kalau tidak pulang ke Indonesia, peristiwa ini tidak akan terjadi, Otto menjelaskan, kliennya hanya menyesali peristiwa ini terjadi pada saat dirinya pulang ke Indonesia dan bertemu dengan teman-temannya.
"Tapi orang itu berpikir kok seakan-akan membunuh. Bukan begitu. Tadi ahli menceritakan dengan baik kalau (Jessica) tidak pulang, tidak ada kejadian ini, tidak ke Olivier tidak ada kejadian. Dari situ kita menangkap Jessica tidak melakukan apa-apa. Di situ dia menyesali dirinya kok aku pulang ya," tandasnya.
Sebelumnya diketahui, Natalia terbang ke Australia untuk mengumpulkan keterangan dan data yang akan digunakan untuk menyimpulkan kejiwaan Jessica. Di sana, didapatkan keterangan dari kepolisian dan beberapa teman Jessica kalau Jessica pernah beberapa kali mau bunuh diri, menabrak rumah panti jompo, dan lainnya.
Hal itu, diduga dipicu karena permasalahan hubungan percintaan Jessica dengan mantan pacarnya Patrick.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




