BoJ Rombak Kebijakan Moneter

Rabu, 21 September 2016 | 23:09 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Gubernur bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda sedang menyampaikan pidato.
Gubernur bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda sedang menyampaikan pidato. (AFP Photo)

Tokyo - Bank sentral Jepang pada Rabu (21/9) secara mengejutkan mengumumkan perombakan kebijakan moneter. Bank of Japan (BoJ) berjanji untuk menggandakan upaya meningkatkan inflasi dan perekonomian.

Usai rapat kebijakan, BoJ mengatakan akan menetapkan target bagi imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun, supaya naik. Pada saat yang sama BoJ menunda pemotongan suku bunga lebih dalam ke teritori negatif.

BoJ juga melonggarkan target pembelian aset tahunan, yang menjadi kunci dari kebijakan moneternya selama tiga tahun terakhir. BoJ menyatakan target pembelian obligasi bisa naik turun agar pihaknya fleksibel sambil fokus menjaga stabilitas imbal hasil.

Imbal hasil obligasi pemerintah berjangka 10 tahun kemudian untuk pertama kalinya sejak Maret 2016 naik ke teritori positif, tapi tak lama kemudian jatuh lagi. BoJ juga mengulangi janji untuk melanjutkan pelonggaran moneter sampai inflasi naik dan stabil di level target 2,0%.

Harga-harga di Jepang masih jauh dari level tersebut. Tapi, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda menepis anggapan pengumuman pada Rabu menunjukkan perubahan total kebijakan.

"Tidak berarti kami sudah meninggalkan kebijakan sebelumnya. Sasaran inflasi BoJ tidak berubah sedikit pun," kata dia kepada para wartawan di Tokyo.

Pengumuman -yang beberapa jam sebelum The Federal Reserve (The Fed) atau bank sentral AS mengumumkan hasil pertemuan kebijakannya- tampaknya ditujukan kepada para pengkritik BoJ. Ini termasuk bank dan perusahaan asuransi yang terimbas kebijakan suku negatif.

Suku bunga negatif dimaksudkan untuk mendorong penyaluran kredit kepada perorangan maupun pebisnis kepada bank. Bank dikenai biaya kalau menyimpan kelebihan dananya di BoJ. Tapi pihak bank komersial mengeluhkan kebijakan bank sentral tersebut menggerus labanya.

BoJ juga menyatakan akan mencabut kontrol terhadap masa jatuh tempo obligasi yang dibeli berdasarkan program pembelian aset. Ada kekhawatiran bahwa BoJ kehabisan obligasi pemerintah yang dapat dibeli, yang bilamana terjadi dapat memicu volatilitas di pasar utang.

Menanggapi pengumuman BoJ, pasar saham rally, ditandai lonjakan indeks Nikkei 225 hampir 2% pada penutupan perdagangan Rabu. Nilai tukar yen jatuh dan ini merupakan kabar baik bagi para eksportir.

Langkah-langkah pelonggaran moneter cenderung menekan yen karena jumlahnya yang beredar di sistem keuangan bertambah banyak.

Nilai tukar dolar AS melonjak ke level 102,64 yen dari sebelumnya 101,66 yen di awal perdagangan Rabu. Tapi tak lama kemudian turun lagi.

BoJ juga pada Rabu merilis rapor terbarunya mengenai kondisi perekoomian Jepang. Dalam penilaiannya, BoJ menyebut kegagalan mencapai target inflasi karena penurunan harga minyak, kenaikan pajak penjualan pada 2014, dan kesulitan di ekonomi luar negeri.

Namun, BoJ menyatakan kebijakan-kebijakannya telah mengubah persepsi masyarakat terhadap inflasi sehingga ekspektasi inflasi naik.

Tapi sejumlah analis skeptis tentang ide BoJ menilai diri sendiri, seiring berkembangnya keraguan bahwa Abenomics dapat menghidupkan kembali perekonomian.

"Penilaian yang dilakukan oleh yang bersangkutan cenderung agak lunak dan mungkin tidak objektif," kata analis Credit Suisse Hiromichi Shirakawa.

Sejak diluncurkan pada awal 2013, Abenomics yang merupakan bauran dari belanja pemerintah besar-besaran, pelonggaran moneter, dan janji memotong birokrasi, secara umum gagal menuai kesuksesan.

Ekonomi Jepang berkontraksi dalam tiga bulan terakhir 2015, sebelum tumbuh kembali pada Januari-Maret 2016 dengan kenaikan 0,5% pada kuartal lalu dan ekspansi 0,2% pada April-Juni 2016.

Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe baru-baru ini mengumumkan paket stimulus sebesar 28 triliun yen untuk membantu mendorong pertumbuhan. Stimulus dikeluarkan setelah keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (UE) pada Juni lalu mengguncang pasar keuangan dan memicu rally yen, yang akibatnya mengikis laba perusahaan-perusahaan Jepang.

Sebelum pasar finansial dibuka pada Rabu, pemerintah Jepang mengumumkan defisit perdagangan pada Agustus. Data ini menggarisbawahi perjuangan berat yang dihadapi Abe dan Kuroda.

"Saya pikir reaksi positif terhadap keputusan BoJ akan berumur pendek. Laporan itu tidak jelas dan pasar akan segera mulai mempertanyakan apakah kebijakan tersebut benar-benar akan menaikkan inflasi dan suku bunga," kata Daisuke Uno, kepala strategi pasar di Sumitomo Mitsui Bank. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon