31 Daerah Rawan Longsor, Jateng Akan Tetapkan Siaga Darurat

Selasa, 27 September 2016 | 10:58 WIB
ST
WP
Penulis: Stefi Thenu | Editor: WBP
Warga menggotong keranda mayat korban longsor menuju pemakaman di Desa Gumelem Kulon, Susukan, Banjarnegara, Jawa Tengah, 19 Juni 2016. Hujan deras yang mengakibatkan longsor di Kabupaten Banjarnegara, terjadi pada Sabtu (18/6) dan menyebabkan enam orang meninggal dunia dan tiga luka-luka. Antara/Idhad Zakaria
Warga menggotong keranda mayat korban longsor menuju pemakaman di Desa Gumelem Kulon, Susukan, Banjarnegara, Jawa Tengah, 19 Juni 2016. Hujan deras yang mengakibatkan longsor di Kabupaten Banjarnegara, terjadi pada Sabtu (18/6) dan menyebabkan enam orang meninggal dunia dan tiga luka-luka. Antara/Idhad Zakaria

Semarang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah akan menetapkan siaga darurat bencana tanah longsor di provinsi ini pada awal Oktober mendatang.

"Di Jawa Tengah, mayoritas daerah rawan longsor. Jumlahnya 29 sampai 31 daerah," ujar Kepala BPBD Jateng, Sarwa Pramana, kepada SP, Selasa (27/9).

Sarwa menyatakan, siklus musim hujan diprediksi mencapai puncaknya pada Januari-Februari 2017. Atas dasar itu, status siaga darurat ditetapkan bulan Oktober.

Dijelaskan, di Kabupaten Banjarnegara ada 18 kecamatan yang berpotensi mengalami longsor susulan. Dari data terakhir, Basarnas Semarang, terdapat dua bencana longsor yang memakan korban di Banjarnegara. Longsor pertama pada Minggu (25/9) yang menyebab rumah milik Sugianto roboh di Desa Sidengok Pejawaran Banjarnegara. Akibatnya, Nurhaidin, anak korban tewas dan delapan orang lainnya luka-luka. Disusul longsoran kedua terjadi di RT 02/II Desa Sirukem, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara yang menimbun rumah milik Ali Mundasir. Korban luka-luka ada tiga orang.

"Cuaca sudah mulai hujan. Praktis tahun ini kita nyatakan tidak ada bencana kekeringan karena kita fokuskan dulu ke longsor dan banjir. Apalagi, di tiap titik selalu ada rawan longsor," ungkap Sarwa.

Sarwa menambahkan pemerintah daerah kini telah menyiapkan dana perbaikan pascabencana (recovery) yang jumlahnya bervariasi sekitar Rp 3-5 miliar. "Itu belum ditambah dana cadangan bencana yang akan dikucurkan Pemprov Jateng dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)," ujarnya.







Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon