Mogok Ribuan Karyawan Freeport Ganggu Produksi Open Pit

Selasa, 4 Oktober 2016 | 14:00 WIB
RI
JM
Penulis: Robert Isidorus | Editor: JEM
Ilustrasi Tambang PT Freeport.
Ilustrasi Tambang PT Freeport. (Mining Global)

Jayapura -  Aksi mogok kerja sekitar 1.200 karyawan PT Freeport Indonesia (FI) yang menuntut kenaikan bonus kerja masih terus berlanjut sampai Selasa (4/10) sudah memasuki hari keenam aksi mogok itu dilakukan.

Dari sisi ketertiban dan keamanan, menurut Kapolsek Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Iptu Hasmuliadi, situasi tetap aman tertib dan bisa dikendalikan.

"Keamanan bisa dikendalikan, dan para pekerja yang demo sudah kembalike baraknya masing-masing," katanya ketika dihubungi SP, Senin (3/10) malam sekitar pukul 23.00 WIT.

Seperti diketahui, sekitar 1.200 karyawan Freeport yang bekerja di bagian open pit (tambang terbuka) Grasberg, Tembagapura, melakukan aksi mogok kerja sejak Rabu (28/9) lalu. Mereka menuntut persamaan bonus karyawan di semua departemen di sektor open it.

Sekretaris Hubungan Internasional Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT FI, Tri Puspital mengatakan, aksi mogok terdiri dari empat kru yakni kru 1, 2, 3 dan 4 di bagian open pit.

"Mogok kerja sejak Rabu, tanggal 28 September 2016," katanya, ketika dihubungi wartawan, Selasa pagi.

Penyebab mogoknya ribuan karyawan tersebut karena adanya perbedaan pemberian bonus antara karyawan yang berbeda departemen.

Menurut Tri Puspital, karyawan open pit hanya mendapatkan bonus 17 persen sementara yang gio tech bonusnya 45 persen. "Mereka sama-sama di grasberg tetapi bonusnya yang berbeda. Ini yang menyebabkan karyawan open pit mogok kerja,'' ujarnya.

Hal lain, kata Tri Puspital, karyawan yang di bagian open pit hanya dikategorikan sebagai pekerja jasa penunjang bukan sebagai utama.

''Itulah yang membuat karyawan tersinggung karena jasa mereka hanya dikategorikan sebagai penunjang, bukan sebagai produksi,'' katanya.

Menurut Tri Puspital, maalah ini sudah dilakukan pertemuan antara karyawan dan pihak manajemen perusahaan, namun belum ditemukan kata sepakat.

''Karyawan tidak mau gaduh sehingga mempersilakan managemen untuk membuat tanggapan serta solusi. Karyawan akan tetap mogok sampai ditemukan kata sepakat," katanya.

Aksi mogok kerja ribuan karyawan Freeport di sektor open pit itu, diakui telah mengganggu sistem produksi perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu.

Menurut Tri Puspital, setiap harinya dari bagian open pit diproduksi 200 ton ore (biji mineral) per hari. Namun dengan adanya mogok kerja, maka produksi konsentrat yang harus disuplai ke pabrik itu tak terpenuhi.

"Hanya produksi dari underground (tambang bawah tanah) yang mensuplai ore ke pabrik,'' jelasnya.

Sementara itu, Juru Bicara PT FI, Riza Pratama, yang dikonfirmasi membenarkan jika operasi pertambangan di grasberg terkena dampak dari aksi mogok para pekerja tersebut.

Menurutnya, PT FI saat ini sedang berupaya untuk mengatasi masalah ini dan mengembalikan operasi tambang terbuka. Meskipun open pit terganggu, tapi menurut Riza tambang bawah tanah tidak terkena dampak dari aksi mogok tersebut.

''Operasi tambang bawah tanah tidak terkena dampak dari gangguan ini dan operasi pabrik pengolahan masih berlangsung secara terbatas,'' ujarnya lewat pesan singkat WhatsApp.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon