ITS Bentuk Tim Riset Teliti Gempa di Jawa Timur

Kamis, 13 Oktober 2016 | 20:07 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Tugu Surabaya
Tugu Surabaya

Surabaya - Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim, LPPM, Intitut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), tengah mengumpulkan peneliti gempa, khususnya di Jawa Timur. Mereka akan diajak untuk membentuk konsorsium kelompok riset gempa dan meneliti potensi gempa di Jawa Timur.

"Pertemuan ini berawal dari penelitian yang dilakukan ITB bahwa ada pergeseran patahan di Surabaya melalui ITS sampai Mayjen Sungkono sampai ke Cepu. Penelitian itu menunjukkan ada pergeseran 5 milimeter per tahun," Kata Dr Amien Widodo, peneliti Bencana ITS di Surabaya, Kamis (13/10).

Ditemui pada akhir Diskusi Terfokus Gempa Surabaya dan Sekitar di Ruang Sidang Utama, Rektorat ITS, Amien mengatakan, penelitian itu menjadi penting. Karena, patahan itu melewati di Surabaya dan daerah Jawa Tmur.

Dia menjelaskan, keaktifan Sesar Kendeng tersebut berdasarkan hasil penelitian Tim Gempa ITB selama beberapa tahun yang menyimpulkan bahwa hasil pengukuran deformasi permukaan tanah di beberapa tempat di Jawa Timur dan di Nusa Tenggara Timur berdasarkan hasil pengukuran GPS geodetik tercatat bergerak 5 mm/tahun.

"Ini mestinya menjadi keprihatinan kita bersama. Kami melakukan pengkajian kepada penelitian terkait yang pernah ada di Jawa Timur. Dari situ, kita bisa menyimpulkan yang seperti apa sebenarnya," tambahnya.

Amien menambahkan, BMKG sudah mengemukakan bahwa di Jawa Timur termasuk berisiko kecil terjadi gempa. Namun, dirinya tetap mengharapkan ada semacam hasil dari penelitian karena memang ada sesuatu masalah di bawah tanah Surabaya ini.

"Dari data yang pernah ada, ini potensinya masih kecil. Tapi, kalau kita diam saja, justru itu keliru," katanya.

Sementara itu, Kabid Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Dr Daryono menyatakan sangat mengapresiasi pertemuan tersebut. Menurut dia, ini momentum yang tepat bagi ITS maupun peneliti yang lain untuk membuktikan kebenaran dari peneliian yang telah dilakukan ITB.

"Perlu Ada seismologi riset. Dari riset tersebut nanti bisa saling melengkapi terhadap penelitian yang terdahulu," kata Daryono.

Walaupun terjadi pergeseran patahan setiap tahunnya, Daryono meminta masyarakat untuk tidak resah dan menyerahkan sepenuhnya ke tangan para peneliti.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon