DKI Targetkan 75.000 Kelas 5 SD Divaksin Kanker Serviks

Senin, 28 November 2016 | 15:20 WIB
DP
WP
Penulis: Deti Mega Purnamasari | Editor: WBP
Ilustrasi Kanker Serviks
Ilustrasi Kanker Serviks (Istimewa)

Jakarta- Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menargetkan pada tahun ini sebanyak 75.000 murid perempuan kelas 5 di Jakarta divaksin Human Papilloma Virus (HPV) guna pencegahan kanker serviks. Dananya berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 10 miliar.

"Jadi itu hanya untuk vaksinnya, karena dalam melakukan vaksinasi ada dukungan operasional yang dilakukan puskesmas melalui dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)-nya, sedangkan vaksinnya kami dapat APBN, jumlahnya Rp 10 miliar," ujar Koesmedi di Balai Kota, Jakarta, Senin (28/11).

Ia mengatakan, program yang dilaksanakan sejak Oktober 2016 ini sudah menjangkau 63.702 jiwa. Perinciannya, di Jakarta Pusat 6.492 orang, Jakarta Utara 11.127 orang, Jakarta Barat 15.115 orang, Jakarta Selatan 15.461 orang, dan Jakarta Timur 22.493 orang, serta Kepulauan Seribu 199 orang.

Tahun depan, Pemprov DKI menargetkan kelas 5 dan 6 bisa dilakukan vaksinasi pada program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) mulai Agustus nanti.

Sementara dana BLUD di puskesmas dianggarkan sebesar Rp 1,1 miliar untuk 44 kecamatan. Sasaran imunisasi vaksin HPV ini adalah murid perempuan SD, madrasah ibtidaiyah (MI), sekolah swasta, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) dan panti. "Kami juga sedang mengejar anak perempuan usia 9-10 tahun, tapi tidak sekolah," pungkasnya.

Kepala Himpunan Obstetri Ginekologi Indonesia (HOGI), dr. Andrijono mengatakan, anak-anak usia 9-10 tahun diberikan vaksin dengan dosis dua, sedangkan dosis anak di atas 14 tahun sebanyak tiga. Dengan program nasional ini, maka kanker serviks diharapkan turun signifikan, termasuk kanker mulut dan anus.

Dia mengatakan, sebanyak 70 persen penderita kanker serviks berobat ke rumah sakit pada stadium tiga. "Biasanya jika stadium lanjut, dua tahun sudah meninggal semua, paling lama tiga tahun," kata dia.

Menurut dia, penderita kanker serviks di Jakarta harus menunggu radiasi hingga 1-2 bulan. Sementara di Yogyakarta 1-2 tahun, Semarang enam bulan, dan Surabaya tujuh bulan.

Ia mengatakan, di Amerika dalam 10 tahun terakhir vaksin kanker serviks sudah menjadi program nasional sehingga penderitanya menurun. Sementara di Indonesia baru dimulai dengan tujuan masyarakat terlindungi. "Jadi tidak ada itu namanya menopause dini. WHO menyatakan vaksin ini aman diberikan kepada anak," pungkasnya.

Sebelumnya beredar pesan berantai yang menyebutkan program pemberian vaksin kanker serviks kepada anak-anak SD berakibat menopause dini dan kemandulan. Padahal, program tersebut dihadirkan pemerintah pusat dimana Pemprov DKI dinilai sebagai daerah yang paling siap. Program ini mengantisipasi kanker serviks merupakan penyakit mematikan kedua di dunia setelah kanker payudara.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon