Pertengahan 2017, Frekuensi 2,1 GHz dan 2,3 GHz Dilelang
Senin, 20 Februari 2017 | 22:09 WIB
Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Komunikasi (Kemkominfo) memastikan akan melelang frekuensi 2.100 MHz (2,1 GHz) dan 2.300 MHz (2,3 GHz) pada pertengahan 2017. Dua frekuensi tersebut akan dilelang secara terbatas kepada operator eksisting untuk menambah kapasitas jaringan di kota-kota besar yang saat ini dinilai sudah terlampau padat.
Sementara itu, Peraturan Menteri (Permen) terkait proses lelang tersebut akan dikeluarkan sekitar akhir Maret 2017. Proses lelang direncanakan pertengahan tahun ini supaya operator pemenangnya segera melakukan refarming. Harapannya, pada akhir 2017, operator pemenang lelang sudah bisa beroperasi dengan menggunakan frekeuensi yang dimenanginya.
"Frekuensi 2.100 MHz dan 2.300 MHz akan dilelang bareng. Jadi, pemenangnya harus sudah ditetapkan pertengahan tahun juga karena diperlukan proses refarming setelahnya. Kita ingin akhir tahun semua harus sudah selesai," kata Menteri Komunikasi dan Informatikan (Menkominfo) Rudiantara, dalam diskusi Optimalisasi Spektrum Radio Guna Mendukung Akselerasi Program Nawacita yang digelar Telco Editor Forum di Jakarta, Senin (20/2).
Dia menegaskan, lelang dua frekuensi itu hanya boleh diikuti oleh operator seluler eksisting. Sebab, mereka saat ini sangat membutuhkan frekuensi tambahan. Karena, kapasitas frekuensi mereka yang berada di kota-kota besar sudah penuh dan terlalu padat.
"Sudah terlalu padat di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Jadi, mereka butuh frekuensi tambahan. Saya tidak mengalokasikan bagi yang tidak membutuhkan. Sebab, saat ini, desperate itu operator eksisting," ujarnya.
Frekuensi 2,1 GHz terdapat dua blok yang kosong, yaitu blok 11 dan 12. Lelang frekuensi 2,1 GHz nantinya pun melahirkan dua pemenang, mengingat pada frekuensi tersebut hanya terdapat dua blok kosong dengan masing-masing sebanyak 5 MHz.
Dua blok tersebut merupakan warisan Axis pascamerger dengan XL. Tuntasnya program refarming pada November 2015 untuk memuluskan layanan 4G LTE membuat blok frekuensi 2,1 GHz kembali berubah dengan susunan alokasi, yakni Tri (pada blok 1 dan 2), Telkomsel (blok 3,4, dan 5), Indosat (blok 6 dan 7), XL (blok 8,9,10), serta blok 11 dan 12 yang akan dilelang.
Wakil President Direktur Hutchison Tri Indonesia Danny Buldansyah mengaku berminat dan tidak keberatan terhadap proses lelang frekuensi 2,1 GHz. Sebab, Tri sendiri masih sangat membutuhkan tambahan frekuensi untuk menambah kapasitas di kota-kota besar.
"Kami sangat berminat. Tidak masalah skemanya lelang, karena sekarang pun harganya sudah mahal. Lelangnya nanti berdasarkan evaluasi. Sudah jelas operator yang paling butuh frekuensi itu siapa, dan itu sudah jelas. Buat kita lebih mudah. Nanti, pembayarannya ikut yang lama. Kalau 5 MHz di 2,1 itu harganya sekitar Rp 350 miliar per tahun ditambah 20% front fee, jadi sekitar Rp 700 miliar," ungkap Danny.
Sementara itu, pada frekuensi 2,3 GHz terdapat total lebar pita sebesar 100 MHz. Terdiri atas 30 MHz lisensi nasional yang masih kosong, 30 MHz sudah menjadi milik Smartfren, 30 MHz punya operator Broadband Waireless Acces (BWA) regional, dan 10 MHz untuk keperluan Universal Service Obligation (USO).
Sebelumnya, 2,3 MHz identik dengan layanan BWA. Saat ini, operator yang menggunakan frekuensi tersebut adalah Bolt Internux dengan coverage Jabodetabek, Medan, dan Aceh. Operator lainnya ada Hinet, milik PT Berca Hardaya Perkasa yang beroperasi di Denpasar, Makasar, dan Pekanbaru. Seperti halnya di 2,1 GHz, penggunaan teknologi netral membuat frekuensi 2,3 GHz juga dapat digunakan untuk layanan 4G.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




