Pangkostrad: TNI Siap Hadapi Aksi Teror
Minggu, 2 Juli 2017 | 17:53 WIB
Medan - Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Edy Rahmayadi menegaskan, anggota TNI tidak akan pernah gentar menghadapi kemungkinan aksi teror yang dilakukan teroris pascapenyerangan terhadap polisi.
"Kita semua siap selalu untuk menghadapinya. Baik itu Polri maupun TNI. Negara tidak pernah kalah dengan teror," tegas Pangkostrad, saat menghadiri pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) VOX Point Sumut - Indonesia, Sabtu (1/7).
Edy mengatakan, seluruh anggota TNI sudah mempersiapkan diri atas kemungkinan aksi teror kelompok radikal. Apalagi, polisi dipastikan dapat melakukan pencegahan dalam menangani masalah terorisme tersebut.
Dalam pelantikan yang dihadiri berbagai suku di Tanjung Morawa tersebut, Remigo Yolanda Berutu menjabat sebagai Ketua DPD VOX Point Sumut dan Benyamin Winata sebagai sekretaris. Mereka dilantik oleh Ketua VOX Point Indonesia, Yohannes Handoyo.
Selain menargetkan polisi dan TNI untuk merampas senjata api, kelompok teroris sesuai dalam pengembangan pemeriksaan terhadap teroris Sywaluddin Pakpahan, juga berencana menyerang warga Tionghoa di Komplek Asia Mega Mass.
Menurut Bhiksu Nyana Pratama dari Sangha Agung Indonesia, upaya menebarkan cinta kasih sesama umat, baik itu etnis Tionghoa maupun non Tionghoa, apalagi yang bermukim di Asia Mega Mass, dapat mencegah aksi radikalisme teroris.
"Dengan cinta kasih dipastikan dapat mencegah maupun memperkecil aksi teroris. Masyarakat secara bersama saling menjaga kerukunan dan keharmonisan, bersatu dalam mencegah segala bentuk aksi teror tersebut," katanya.
Uskup Agung Medan, Mgr Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, O.F.M. Cap mengharapkan, masyarakat khususnya umat Katolik tidak perlu takut dalam menghadapi aksi teror. Peningkatan kewaspadaan sangat perlu dilakukan ke depannya.
"Kita harus bisa mempedomani gereja sebagai pembawa kedamaian yang senantiasa menularkan cinta kasih dengan menanamkan kebaikan - kebaikan. Pedoman ini dapat mencegah aksi teror oleh kelompok aliran keras itu," jelasnya.
Sementara itu, mantan teroris Khairul Gazali mengungkapkan, tidak sedikit orang yang sudah disiapkan untuk menjadi "pengantin" dalam menebar aksi teror di daerah tersebut. Bahkan, pemuda yang disiapkan itu sudah mengantre.
"Mereka yang disiapkan itu sudah siap untuk mati saat melakukan aksi teror. Mereka adalah orang - orang yang sudah dicuci otaknya dengan pola ajaran - ajaran menyesatkan. Padahal, agama tidak pernah membenarkan melakukan pembunuhan," ungkapnya.
Menurutnya, jihad yang dilakukan kelompok radikal itu sudah menyimpang dari ajaran agama Islam. Sebab, orang tidak berdosa turut menjadi korban. Selain itu, sasaran dari jihad itu juga tidak tepat bila dilakukan di Tanah Air.
"Proses pencucian otak terhadap calon pengantin ini berlangsung tidak lama. Pencucian otak ini dilakukan secara langsung terhadap orang - orang yang mengalami kegamangan dalam hidup dan setengah - setengah pemahaman agama," sebutnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




