"A Monster in Paris,” Antara Ambisi dan Kemanusiaan

Kamis, 3 Mei 2012 | 16:50 WIB
YI
B
Penulis: Yanuar Rahman/Ririn Indriani | Editor: B1
Film
Film "A Monster in Paris"
Film animasi yang dikemas dengan jenaka ini sarat pesan moral.

Mengambil latar di daerah Seine, Prancis saat daerah tersebut mengalami bencana banjir pada tahun 1910, A Monster in Paris coba mengangkat tema tentang ambisi dan kemanusiaan.

Emile, seorang projeksionis amatir yang berteman dengan Raoul, seorang kurir sekaligus penemu barang-barang unik, suatu hari pergi mengantar barang untuk seorang profesor ahli botani ke kediamannya.

Sesampainya di sana, mereka hanya bertemu dengan asisten profesor tersebut, yaitu seekor monyet bekantan bernama Charles. Di dalam laboratorium milik profesor, seharusnya Emile dan Raoul tidak boleh masuk lebih jauh.

Hal ini disampaikan oleh Charles lewat catatan kecil di secarik kertas. Namun Raoul tak mengindahkan perintah tersebut, ia mengajak Emile untuk melihat-lihat laboratorium dan menyuruh Emile untuk mendokumentasikannya.

Tak hanya melihat-lihat, Raoul justru bermain-main dengan cairan formula milik sang profesor misterius. Naas, ia kemudian bertindak ceroboh dan memecahkan beberapa ramuan tak dikenal yang ada di sana.

Ledakan besar pun tak terelakkan. Namun beruntung, baik Raoul, Emile dan Charles selamat. Tapi ada kejadian janggal terjadi, Emile yang berusaha mencari Raoul di kepulan asap ledakan formula misterius melihat sosok menyeramkan dan kemudian meloncat keluar dari laboratorium.

Raoul yang panik karena telah membuat ruang kerja sang profesor berantakan, tak mendengarkan cerita Emile. Ia justru mengajak kawannya itu cepat-cepat keluar dari lokasi tersebut. Sosok menyeramkan yang Emile lihat di laboratorium profesor botani itu mulai berkeliaran dan membuat takut para penduduk dengan penampakannya.

Di tempat lain, Lucille yang merupakan teman kecil Raoul sekaligus penyanyi kabaret di sebuah klab bernama, L'Oiseau Rare sedang mengalami dilema. Sebagai seorang penyanyi kabaret bersuara merdu dan berparas cantik, ia diminta untuk memenuhi ajakan kencan seorang kepala kepolisian setempat yang bernama Maynott oleh bibinya.

Bagi Lucille, sosok Maynott bukanlah tipe lelaki idamannya. Selain itu, ia juga merupakan pribadi yang licik dan berambisi besar untuk menempati posisi gubernur di wilayah Seine dengan cara-cara liciknya. Tapi karena paksaan bibinya, Lucille pun dengan terpaksa memenuhi ajakan makan malam bersama Maynott.

Makan malam tersebut berakhir tidak mengesankan bagi Lucille. Ia pun pulang dan berisitrahat. Saat hendak tidur, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ketika Lucille membuka pintu, ia melihat sosok raksasa mengenakan topi dan jubah di depan pintunya.

Bertemu Sang Monster
Betapa Lucille terkejut ketika melihat wujud asli sosok tersebut, karena ternyata itulah makhluk menyeramkan yang meneror penduduk Seine. Ia berusaha lari ketakutan dan mengunci diri dalam rumah. Namun sosok tersebut tidak berusaha mengejar, apalagi menyakitinya.

Melihat reaksi Lucille, sosok tersebut justru merasa sedih. Dalam kesedihannya itu, ia berusaha menyuarakannya lewat lantunan nada-nada nyanyian. Ia yang mendengar suara merdu tersebut akhirnya tergerak untuk mendatangi makhluk tersebut, dan mengajaknya masuk. Bahkan ia kemudian berteman dan memberi nama makhluk tersebut dengan panggilan Francœur.

Francœur ternyata memiliki kemampuan mengenali nada yang sangat baik. Selain memiliki suara merdu, Francœur juga bisa dengan cepat menguasai alat-alat musik seperti gitar dan piano. Bakat ini kemudian tercium oleh bibi Lucille yang menyangka Francœur adalah seorang teman musisi Lucille.

Francœur yang sudah 'didandani' layaknya manusia pada umumnya akhirnya berkolaborasi dengan Lucille diatas panggung klab. Persahabatan antar mereka pun terjalin erat.

Di sisi lain, Maynott yang sudah mengetahui hal ini justru melihat kemunculan Francœur yang ditakuti para penduduk sebagai kesempatannya untuk berkampanye supaya terpilih menjadi gubernur.

Program utamanya adalah membasmi monster yang menakuti penduduk Seine. Dengan bantuan asistennya, Pate, Maynott langsung mengkampanyekan diri dan programnya.

Mengetahui monster ciptaannya berada bersama Lucille, Emile dan Raoule pun berusaha melindungi Francœur dengan bantuan Charles. Belakangan diketahui bahwa Francœur ternyata adalah seekor kutu yang hidup di tubuh Charles, dan terkena ledakan formula Raoul saat berada di laboratorium profesor botani.

Kubu pun terbagi menjadi dua, antara pihak Raoul dan teman-temannya dengan pihak Maynott yang berusaha menghabisi Francœur. Adegan kejar-mengejar tak terelakkan, dan masing-masing pihak berusaha memenuhi tujuan mereka.

Di dalam cerita pun terlihat sosok Francœur yang merupakan monster justru terlihat begitu manusiawi dibandingkan Maynott yang dikuasai oleh ambisi pribadinya yang membuat ia justru terlihat tidak manusiawi.

Film yang diproduseri oleh Luc Besson ini berdurasi sekitar 90 menit. Menampilkan animasi yang terlihat hidup dan menghibur, A Monster in Paris coba mengedepankan adegan musikal dan dialog percakapan yang mendalam dan jenaka.

Memang bila dibandingkan dengan rumah produksi Pixar dan Dreamworks, film besutan Bibo Bergeron ini terlihat belum mampu bersaing. Tapi dengan isi cerita yang memberikan pesan moral kepada para penontonnya, A Monster in Paris menjadi sebuah hiburan tepat untuk Anda dan keluarga disaat senggang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon