Buzzer Paling Banyak Gunakan Twitter untuk Propaganda
Selasa, 31 Oktober 2017 | 22:33 WIB
Jakarta - Twitter dianggap sebagai media sosial yang paling efektif untuk melakukan propaganda. Hal ini membuat Twitter paling banyak digunakan oleh para buzzer untuk penyebaran pesan dengan cara menarik perhatian atau membangun percakapan.
"Twitter itu lebih terbuka, tweet apa saja bisa kita lihat tanpa harus mengikuti. Orang juga mudah sekali membuat akun-akun palsu untuk mengamplifikasi pesan, kemudian disebarkan oleh jaringan mereka sendiri. Apalagi kebutuhan orang-orang yang ada di belakang buzzer ini kan maunya ketika melemparkan isu bisa cepat menjadi viral. Hal ini paling mungkin dilakukan melalui Twitter," kata pendiri Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, di Jakarta, Selasa (31/10).
Untuk mengamplifikasi pesan melalui Twitter, para buzzer biasanya berkicau dengan tagar (#) unik serta membangun percakapan, baik secara alami maupun rekayasa. Apa yang disampaikan di Twitter belakangan juga sering menjadi sumber berita yang dikutip oleh media cetak maupun online.
"Status di Twitter itu paling sering dikutip wartawan. Tinggal capture Tweetnya sudah bisa menjadi berita. Ini juga yang membantu sebuah isu bisa menjadi cepat viral," tutur Ismail.
Berbeda halnya dengan Instagram. Ismail melihat media sosial ini lebih banyak digunakan oleh korporat yang ingin mempromosikan suatu produk atau layanan. Hal inilah yang kemudian melahirkan istilah selebriti instagram atau selebgram.
"Korporat itu sekarang larinya ke Instagram karena sifatnya yang lebih visual, ada gambarnya. Sementara buzzer untuk kepentingan politik lebih banyak bermain di Twitter," tutur dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




