Jalur Palu–Tolitoli Tak Bisa Dilewati Akibat Banjir

Senin, 12 Februari 2018 | 10:09 WIB
JL
FB
Penulis: John Lory | Editor: FMB
Ratusan kendaraan umum, pemasok sembako dan BBM terpaksa berhenti di pingir jalan akibat longsor yang menutupi badan jalan di kilometer 34 Jalur Trans Sulawesi, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (26/1). Longsoran yang terjadi sejak Sabtu (25/1) pagi di sedikitnya 68 titik itu memutuskan satu-satunya jalur distribusi barang termasuk pasokan BBM yang telah dua hari ini tertahan di jalur tersebut.
Ratusan kendaraan umum, pemasok sembako dan BBM terpaksa berhenti di pingir jalan akibat longsor yang menutupi badan jalan di kilometer 34 Jalur Trans Sulawesi, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (26/1). Longsoran yang terjadi sejak Sabtu (25/1) pagi di sedikitnya 68 titik itu memutuskan satu-satunya jalur distribusi barang termasuk pasokan BBM yang telah dua hari ini tertahan di jalur tersebut. (Antara/Basri Marzuki)

Palu - Jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Palu dan Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah (Sulteng) belum dapat dilewati kendaraan umum akibat genangan banjir dengan ketinggian 70 sampai 100 sentimeter.

Genangan air terjadi sepanjang 200 meter di kilometer 45, tepatnya di Desa Marissa, Kecamatan Basidondo, Kabupaten Tolitoli. Bahkan dua desa lain yakni Desa Silonduo dan Sibaluton genangan banjir cukup tinggi mencapai dada orang dewasa.

"Jalan mulai tertutup banjir pada Minggu (11/2) sekitar pukul 07.30 Wita, hingga malam tadi air belum surut," kata Kapolres Tolitoli AKBP Muh Iqbal Alqudusy, Senin (12/2).

Menurut Kapolres, genangan banjir yang melanda jalan Trans Sulawesi di Pantai Barat Sulawesi itu terjadi akibat hujan deras mengguyur wilayah itu sejak Sabtu (10/2) malam

Meski hujan mulai reda, tetapi hingga malam tadi sekitar pukul 21.00 Wita, dikabarkan, ketinggian air belum juga surut sehingga terjadi antrian kendaraan roda empat maupun truk mencapai 1 kilometer lebih.

Khusus kendaraan roda dua terpaksa harus digotong oleh warga menggunakan rakit dengan imbalan Rp 15.000 per kendaraan.

Sampai saat ini, dikabarkan, ketinggian air mulai turun sehingga kendaraan yang terjebak sejak Minggu, bisa melintas.

Meski demikian, warga setempat maupun pengendara yang melintas di jalur tersebut diimbau tetap waspada untuk mengantisipasi banjir yang lebih besar, yang bisa terjadi kapan saja.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon