Jangan Mengira Sudah Jago Naik Motor
Sabtu, 24 Februari 2018 | 23:07 WIB
Tangerang - Siswanto sudah 22 tahun bekerja di industri sepeda motor dan selama 14 tahun terakhir juga menggeluti profesi sebagai instruktur keselamatan berkendara atau safe riding.
Dari pengalaman dan pengamatannya selama ini, sedikit sekali orang yang tahu bagaimana mengendarai sepeda motor dengan benar dan -- yang paling penting -- secara aman baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
"Contoh sederhana saja, pengendara motor jarang yang mau berhenti di belakang garis putih saat lampu merah. Kalau ada orang menyeberang, dia harus berjalan zig-zag akibat egoisme para pengendara," kata Siswanto saat memberi pengarahan kepada sekitar 30 peserta pelatihan keselataman berkendara di Wahana Honda, Jatake, Tangerang, Sabtu (24/2).
"Seringkali di tengah kota, ada yang buru-buru kalau perlu menerjang lampu merah dengan segala risikonya. Saya memilih berhenti, dan di lampu merah berikutnya ketemu dia lagi. Dia ngebut lagi, perempatan berikut ketemu lagi. Jadi buat apa mengambil risiko ngebut di jalanan kota?"
Siswanto menilai kesadaran tentang keselamatan berkendara di kalangan pengguna sepeda motor masih sangat rendah. Kalau pun mereka ingat menggunakan alat keselamatan, biasanya juga belum menjadi kesadaran penuh.
"Ada ibu-ibu yang lengkap memakai helm, sarung tangan, jaket, dan masker, tapi anaknya yang masih balita berdiri di depan tanpa perlindungan apa pun. Ini banyak terjadi," ujarnya.
Lalu dia berkisah tentang pengalamannya menghentikan seorang ibu seperti gambarannya tersebut, dalam sebuah perjalanan di pesisir Banten.
Sempat didebat karena dirinya bukan polisi, Siswanto akhirnya bisa berbincang dengan ibu tersebut.
"Saya tanya 'kenapa ibu pakai helm, jaket, masker dan sebagainya?' Dia menjawab 'di sini kan banyak asap dan debu'," tutur Siswanto.
"Lalu bagaimana dengan anak ibu yang berdiri di depan tanpa perlindungan apa pun? Dia tak bisa menjawab."

Siswanto mengingatkan bahwa kehati-hatian dan kedisiplinan pengendara motor adalah hal mutlak.
"Istilahnya kalau naik sepeda motor kan 'daging menutup besi'. Kalau terjadi benturan atau crash pengendara yang langsung menerima akibatnya. Beda dengan naik mobil, 'daging dilindungi besi'. Kalau kena tabrak, bemper dulu yang kena."
Dia menambahkan bahwa di Jakarta saja, setiap hari ada pengendara sepeda motor yang kehilangan nyawa di jalan.
Ternyata Susah
Peserta pelatihan tersebut rata-rata adalah pengguna sepeda motor berpengalaman, baik sebagai hobi maupun alat transportasi.
Namun, banyak hal kecil yang diminta para instruktur ternyata sulit untuk dipraktikkan di tempat latihan tersebut.
Misalnya, pengendara motor tipe sport diminta untuk tidak menggunakan kopling saat melakukan slalom atau pun putar balik kecepatan rendah. Disebutkan bahwa fungsi kopling adalah untuk membantu perpindahan gigi saja, dan kalau dipakai di luar fungsi itu justru membuat motor melaju tanpa engine brake sehingga tanpa disadari menambah kecepatan saat menikung.
Banyak yang mesinnya mati mendadak ketika mencoba melakukan manuver itu tanpa menarik tuas kopling.
Lalu diinstruksikan agar jari tangan kanan sepenuhnya berada di pegangan gas, karena kebanyakan pengendara motor menaruh dua jari dalam posisi siaga di tuas rem.
Menurut instruktur, kebiasaan ini cukup riskan karena dalam situasi darurat pegangan setang kanan menjadi kurang kokoh dan bisa mengakibatkan kecelakaan, misalnya ketika ban depan masuk lubang. Dan ketika ketika dituntut melakukan pengereman berat, hanya dua jari yang bekerja sehingga kurang maksimal.
Lagi-lagi, saran sederhana seperti ini cepat dilupakan sehingga para instruktur terus berteriak mengingatkan "Lepaskan jari dari rem!"

Selain itu juga diajarkan pengereman yang efektif terutama dalam kondisi yang mengharuskan berhenti mendadak. Peserta disarankan agar menggunakan rem depan dan belakang secara bersamaan saat hendak berhenti dalam kecepatan di atas 40 km/jam.
Dalam praktik terlihat bahwa ketika menggunakan rem belakang saja, ban menjadi terkunci dan terseret tanpa kendali.
Jika hanya menggunakan rem depan, dampaknya ban belakang bisa terangkat dan mudah menimbulkan kecelakaan.
Praktik dilakukan di atas lahan beraspal dalam kondisi kering.
Penggiat keselamatan berkendara Edo Rusyanto yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan tidak banyak pengguna sepeda motor yang sadar bahwa cara mereka mengendarai atau perilaku mereka di jalan selama ini sebetulnya salah.
"Pelatihan semacam ini sangat penting agar kita tidak menjadi parasit di jalan, dan kalau bisa menjadi pelopor keselamatan berkendara," kata Edo, yang juga pengurus Independent Bikers Club (IBC).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




