Ini Respons TKN Jokowi-Ma'ruf soal Klaim Elektabilitas Prabowo-Sandi 45%

Sabtu, 22 Desember 2018 | 20:31 WIB
MS
JS
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: JAS
Sekretaris TKN Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto (kiri) saat Safari Kebangsaan IV menyusuri Banten, 21 Desember 2018.
Sekretaris TKN Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto (kiri) saat Safari Kebangsaan IV menyusuri Banten, 21 Desember 2018. (BeritaSatu Photo/Markus Junianto Sihaloho)

Jakarta - Sekretaris TKN Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto, menyatakan pihaknya menilai klaim kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno soal kenaikan elektabilitas sebagai strategi semata dan tak terlalu sepenuhnya benar.

Hal itu disampaikan Hasto menanggapi pertanyaan wartawan soal klaim Gerindra bahwa elektabilitas Prabowo-Sandi sudah sampai 45 persen. Padahal survei sejumlah lembaga justru menunjukkan elektabilitas pasangan itu di kisaran 30-31 persen.

Menurut Hasto, strategi menaikkan elektabilitas sendiri itu dilakukan demi mendapat bandwagon effect. Hal demikian biasa sebagai strategi partai politik.

"Ya namanya memberi semangat untuk diri sendiri kan sah-sah saja," kata Hasto, Sabtu (22/12).

Kata Hasto, pihaknya lebih memercayai survei sejumlah lembaga dan survei yang dilakukan secara internal. Berdasarkan survei internal, Jokowi-KH Ma'ruf Amin unggul di sejumlah provinsi padat penduduk.

Di Jatim menang tebal bersama Jawa Tengah. Di Jawa Barat, pasangan nomor urut 01 unggul 52,3 persen. Di Sumatera, juga relatif unggul dengan pengecualian di Sumatera Barat dan Riau.

"Luar Jawa itu rakyat merasakan betul komitmen Pak Jokowi di dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan antara wilayah. Ya seperti Maluku, Kalimantan, kemudian Papua, Papua Barat. Itu betul-betul diperhatikan," kata Hasto.

Untuk Banten, hasil survei menunjukkan tren positif kenaikan. Kata dia, survei terakhir bahkan menunjukkan Jokowi-KH Ma'ruf sudah memimpin.

"Secara nasional, dari survei antara 54,5 sampai 59 persen," imbuhnya.

Hasto melanjutkan, pihaknya yakin bisa meraup lebih banyak suara, sebab konfigurasi pemilih antara capres-cawapres yang diusung dengan partai itu berbeda. Sebagai contoh, Jokowi kuat di segmen pemilih perempuan. Sementara PDIP unggul di segmen pemilih perempuan.

Atau Jokowi sangat kuat di segmen pemilih milenial, sementara PDIP unggul di sektor pemilih berumur. Nah, segmentasi pemilih lainnya didapat dari parpol Koalisi Indonesia Kerja (KIK). Misalnya, kata Hasto, Golkar kuat di segmen kelas menengah dan PNS. Di basis karyawan swasta, ada Nasdem. Di segmen pemilih Islam dan NU, ada PKB dan PPP yang unggul.

"Jadi kalau kita lihat justru itu menunjukkan saling berkomplemen satu sama lain. Karena itulah tidak ada ketegangan di antara partai KIK," katanya.

"Kita makin kuat. Sehingga ke depan Pak Fadli Zon akan sulit mengganggu konsolidasi pemerintahan Pak Jokowi," katanya



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon