Menhan: Gejolak di Papua Masih Ranah Kepolisian
Senin, 11 Juni 2012 | 11:54 WIB
Hingga kini tidak ada penambahan pasukan TNI dari luar Papua.
Meski penembakan masih banyak terjadi menimpa warga sipil terjadi di Papua, pasukan TNI dinilai belum saatnya diturunkan ke lapangan.
TNI masih sebatas ikut campur jika terjadi gesekan yang berkaitan dengan masalah separatis. "Itu nanti biar Polri yang selidiki yang memastikan mereka, tapi BIN juga turun tapi ini mesti hati-hati karena masalah Papua ini sangat sensitif sekali," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di gedung Parlemen, Senayan, hari ini.
Dia menambahkan, hingga saat ini tidak ada penambahan pasukan TNI dari luar Papua untuk menjaga kawasan tersebut. Hanya ada aparat TNI yang masuk untuk menjaga daerah-daerah perbatasan.
"Jadi memang ada ancaman internal yang sifatnya masih dalam public order, kamtibmas dan itu dalam ranah Kepolisian. Biarkan mereka selesaikan dan kami siap bantu kalau diperlukan," lanjutnya.
Minggu (11/6) malam, kembali terjadi penembakan di Papua. Seorang yang ditengarai petugas keamanan ditemukan tewas di depan gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Hingga saat ini Kepolisian setempat masih menelusuri tewasnya warga sipil tersebut. Sebelumnya penembakan warga sipil, asing, dan warga negara Indonesia (WNI) juga terjadi di Jayapura.
"Kami tidak turunkan pasukan dari luar, pasukan dari luar hanya ada di perbatasan karena itu tugasnya mambantu menjaga perbatasan," kata dia.
Purnomo melanjutkan, pendekatan terhadap kondisi Papua selama ini sudah tepat, yakni pendekatan kesejahteraan dan ekonomi yang mulai digerakkan oleh Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang dipimpin oleh Bambang Darmono. Namun, kata dia, pendekatan ekonomi memang hasilnya tidak serta-merta cepat terlihat.
Dalam hal otonomi khusus Papua saat ini dinilai sudah mengalami progres. Antara lain, para pejabat yang seluruhnya merupakan putra daerah. Dengan pendekatan tersebut para pemimpin daerah diharapkan punya rasa memiliki yang lebih kuat untuk membangun pulau paling timur Indonesia tersebut.
"Jadi sekarang tidak ada lagi pejabat di daerah itu yang berasal dari luar Papua, semua berasal dari Papua sendiri," tutupnya.
Meski penembakan masih banyak terjadi menimpa warga sipil terjadi di Papua, pasukan TNI dinilai belum saatnya diturunkan ke lapangan.
TNI masih sebatas ikut campur jika terjadi gesekan yang berkaitan dengan masalah separatis. "Itu nanti biar Polri yang selidiki yang memastikan mereka, tapi BIN juga turun tapi ini mesti hati-hati karena masalah Papua ini sangat sensitif sekali," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di gedung Parlemen, Senayan, hari ini.
Dia menambahkan, hingga saat ini tidak ada penambahan pasukan TNI dari luar Papua untuk menjaga kawasan tersebut. Hanya ada aparat TNI yang masuk untuk menjaga daerah-daerah perbatasan.
"Jadi memang ada ancaman internal yang sifatnya masih dalam public order, kamtibmas dan itu dalam ranah Kepolisian. Biarkan mereka selesaikan dan kami siap bantu kalau diperlukan," lanjutnya.
Minggu (11/6) malam, kembali terjadi penembakan di Papua. Seorang yang ditengarai petugas keamanan ditemukan tewas di depan gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Hingga saat ini Kepolisian setempat masih menelusuri tewasnya warga sipil tersebut. Sebelumnya penembakan warga sipil, asing, dan warga negara Indonesia (WNI) juga terjadi di Jayapura.
"Kami tidak turunkan pasukan dari luar, pasukan dari luar hanya ada di perbatasan karena itu tugasnya mambantu menjaga perbatasan," kata dia.
Purnomo melanjutkan, pendekatan terhadap kondisi Papua selama ini sudah tepat, yakni pendekatan kesejahteraan dan ekonomi yang mulai digerakkan oleh Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang dipimpin oleh Bambang Darmono. Namun, kata dia, pendekatan ekonomi memang hasilnya tidak serta-merta cepat terlihat.
Dalam hal otonomi khusus Papua saat ini dinilai sudah mengalami progres. Antara lain, para pejabat yang seluruhnya merupakan putra daerah. Dengan pendekatan tersebut para pemimpin daerah diharapkan punya rasa memiliki yang lebih kuat untuk membangun pulau paling timur Indonesia tersebut.
"Jadi sekarang tidak ada lagi pejabat di daerah itu yang berasal dari luar Papua, semua berasal dari Papua sendiri," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




