UEA Khawatir, 60 Persen Perempuan Tidak Menikah

Rabu, 4 Juli 2012 | 14:32 WIB
AH
B
Penulis: AFP/ Arsito Hidayatullah | Editor: B1
Ilustrasi perempuan Uni Emirat Arab.
Ilustrasi perempuan Uni Emirat Arab. (Flickr/PH)
Dana Pernikahan yang disediakan pemerintah UEA bahkan dinilai tak membantu, sementara salah satu usulan solusi adalah poligami.

Jika Anda adalah perempuan berusia 30 tahun atau lebih, dan belum menikah, serta merupakan warga Uni Emirat Arab (UEA), maka Anda akan dikategorikan "sudah ketinggalan perahu". Soalnya, berdasarkan standar di UEA sana, Anda memang sudah akan digolongkan sebagai "terlambat menikah".

Pihak pemerintah di negara Teluk tersebut, baru-baru ini menyatakan bahwa belakangan ada semakin banyak perempuan di negeri itu yang masuk dalam kategori tersebut. Angka statistik terakhir mencatat 60 persen. Hal ini kontan menimbulkan kekhawatiran dari pihak berwenang, sekaligus memancing diskusi publik soal kenapa itu bisa terjadi.

Isu ini bahkan telah menjadi fokus diskusi selama berminggu-minggu di Dewan Nasional Federal (FNC), sebuah lembaga konsultatif di negeri itu. Anggota FNC mencoba mendiskusikan itu dalam rangka menemukan solusi terhadap masalah yang menurut mereka bisa menjadi persoalan demografis serius.

"Ini sangat mengkhawatirkan," ungkap Said al-Kitbi, salah seorang anggota FNC, seperti dikutip AFP.

Al-Kitbi menambahkan bahwa berdasarkan data yang ia punya, saat ini ada lebih dari 175.000 perempuan UEA yang sudah berusia di atas 30 tahun dan belum menikah. Kendati ia mengakui bahwa "menjadi perawan tua bukanlah suatu hal buruk", Al-Kitbi menyebutkan bahwa konsekuensi demografis di mana para perempuan itu tak memiliki anak, merupakan persoalan sebenarnya (bagi UEA).

Untuk diketahui, negeri kaya ini tercatat memiliki lebih dari 8 juta penduduk, namun hanya sekitar 950.000 orang yang berkewarganegaraan UEA. Sisanya adalah warga negara lain. Belakangan diketahui bahwa para laki-laki muda UEA lebih memilih menikahi warga asing tersebut (ketimbang perempuan UEA). Statistik terakhir menunjukkan setidaknya 20 persen laki-laki UEA menikah dengan perempuan warga non-Emirat.

Apa yang menyebabkan perkembangan itu, belumlah jelas diketahui sejauh ini. Beberapa pihak menilai bahwa beratnya "uang nikah" yang harus disediakan para perempuan (atau keluarganya) untuk menjadi istri seorang lelaki, merupakan faktor utama dari keadaan itu. Dana Pernikahan yang disediakan pemerintah bagi mereka yang tak mampu bahkan disebut tak membantu.

Sementara, pihak lain berargumen bahwa sebagian besar perempuan UEA di bawah usia 30 tahun justru lebih memilih memantapkan pendidikan atau kariernya lebih dulu, ketimbang menikah. Sementara para lelaki justru diketahui lebih memilih perempuan yang tidak bekerja, atau maksimal hanya bekerja paruh waktu.

Yang unik, berdasarkan survei dari sekitar 200 mahasiswa kedokteran, salah satu solusi yang sempat dikemukakan terhadap masalah ini (banyaknya perempuan 30-an yang belum menikah) adalah poligami. Disebutkan, sekitar 73 persen dari mereka yang disurvei setuju mendorong poligami sebagai solusi, dengan sekitar 59 persen dari perempuan ikut mendukung.

Tapi tentu saja, banyak juga yang kemudian menyatakan tidak setuju. "Ini (poligami) bukanlah sebuah solusi," ungkap jurnalis dan penulis perempuan UEA, Al-Saad al-Minhali. "Pernikahan adalah masalah pilihan pribadi (personal), dan tidak seharusnya dipergunakan demi memuaskan agenda nasional (urusan statistik)," lanjutnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon