Untung Lebih Besar, Interaksi Lebih Lancar
Minggu, 8 Juli 2012 | 08:35 WIB
Momen tepat untuk memulai bisnis penjualan via online.
E-commerce, menurut direktur perusahaan pengembangan ecommerce Ideosource, Andi S Boediman, akan terus berkembang. Kondisi ini menurutnya merupakan waktu paling tepat untuk memulai bisnis penjualan via online.
"Nilai belanja e-commerce (di Indonesia) terus bertumbuh dari 3 persen di tahun 2009, sekarang telah mencapai 6 persen dari 50 juta pengguna. Nilai belanjanya sendiri mencapai 290 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,69 triliun. Sekarang, merupakan waktu paling tepat untuk terjun sebagai online sellers," kata Andi yang merupakan mantan Chief Innovation Officer di Plasa.com itu beberapa waktu lalu di kawasan Kuningan, Jakarta.
Andi menuturkan, transaksi online secara garis besar bermula dari fitur-fitur dan kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan oleh Multiply, Facebook, dan forum Kaskus yang dikenal sebagai e-commerce consumer to consumer. Fitur yang dihadirkan situs-situs ini berbentuk katalog. Ada pula yang sifatnya business to business (B2B) yang dikenal dengan reseller.
"Kemudian berkembang menjadi bentuk yang dikenal sebagai marketplace, yakni semacam mal yang banyak tenant dan pembeli. Contohnya, Plasa.com, Rakuten, Blibli.com, eBay Indonesia, dan lainnya. Lalu, kini ada pula yang namanya online retailer yang menawarkan penjual margin lebih besar dan bisa mengatur pemasaran. Melihat kondisi Indonesia sekarang, saya perkirakan online retailer akan berkembang dalam 2 tahun mendatang," terangnya ketika dihubungi Beritasatu.com.
Keuntungan Berjualan Online
Dalam seminggu terakhir, setidaknya ada 3 pemain baru toko online yang mengkhususkan penjualan pada produk fashion memperkenalkan merek barunya kepada media; Scallope.com, Laavaa.com, dan Zalora.com. Masing-masing toko online ini mengusung tema yang mirip, yakni barang-barang fashion namun dengan target dan misi yang sedikit berbeda-beda.
Meski bukan terbilang jumlah peningkatan yang signifikan, namun dari dibukanya toko-toko yang mempersengit persaingan penjualan online ini sudah terlihat adanya peningkatan tren pelaku online seller.
Dari kacamata penjualan via online ada beberapa tipe, ada yang menjual sendiri langsung dengan metode consumer to consumer, ada pula yang menjual lewat sistem menitip ke pihak lain.
Salah satu desainer muda yang mulai memperbesar area penjualannya di bidang digital dengan menjual via online retailer, Mel Ahyar, menuturkan, ada banyak keuntungan baginya dengan menjual produknya di toko online.
"Saat ini saya menampilkan produk di dua toko online, yakni Fimela Shop dan Scallope.com, jadi pihak kedua, bukan toko online sendiri. Menurut saya, menjual barang via online tidak seribet menjual di toko nyata. Dari toko online pun saya jadi bisa terhubung dengan pelangan dari luar kota lebih cepat. Penjualan toko online membantu saya tetap fokus pada produksi dan pengembangan desain, sementara pihak kedua itu yang akan mengurus segalanya hingga sampai ke pelanggan," jelasnya saat dihubungi Beritasatu.com beberapa waktu lalu.
Mel saat ini memiliki dua label atas namanya, Mel Ahyar dan Happa. Label yang ia jual via online adalah lini siap pakainya, Happa. Selama ini ia menjual koleksi busananya di toko nyata yang terletak di Grand Indonesia, Jakarta serta di department store. Menurut Mel, menjual produk via pihak kedua itu lebih menguntungkan.
"Menjual via online retailer selama ini menggunakan metode konsinyasi. Biasanya mereka mengambil sekitar 25-40 persen. Sementara kalau di department store, jumlah persentasenya lebih besar, antara 30-50 persen. Jadi, lumayan jauh bedanya. Dengan toko online pun tidak harus memikirkan biaya penjaga toko, tidak perlu mengkhawatirkan stok, dan sebagainya," kata Mel lagi.
Terlebih lagi, bagi Mel yang masih memproduksi barang-barangnya sendiri, barang hasil desainnya cenderung terbatas dan eksklusif. Penjualan lewat online lebih baik untuk mewadahi hal ini, karena penjualan lebih cepat dan mendorongnya berproduksi lebih cepat lagi.
Baginya yang memang bekerja dan ingin membesarkan brand-nya, penjualan dengan menitip kepada pihak kedua ini memiliki nilai lebih baginya. "Saya jadi bisa mengukur dan menilai sendiri apa yang diminati oleh pelanggan. Misal, ada satu busana merek orang lain yang laku, saya bisa memperkirkan, bisa jadi karena di tampilan display toko baju itu menarik perhatian karena warnanya sangat bagus, atau model tertentu yang sedang diminati pasar, dan sebagainya," jelasnya.
Ada pula pengalaman Dini Yanuarsih, penjual perorangan yang memulai usaha berjualan via online sejak tahun 2007. Berawal dari iseng-iseng mewadahi produk-produk kreasinya sendiri di Facebook, kini usaha Dini berkembang dan beromzet puluhan juta sebulan.
"Awalnya iseng-iseng di tahun 2007, lalu saya baru mulai serius berjualan di tahun 2010. Saya tidak modal apa-apa, hanya internet dan ponsel. Tadinya menjual barang-barang buatan sendiri, lalu berkembang dengan menjadi reseller. Saat ini sudah cukup banyak pelanggan tetap. Sejak pernah diliput salah satu majalah, pelanggan saya jadi tambah banyak dari berbagai daerah di Indonesia," katanya saat dihubungi Beritasatu.com.
Sejak serius menggeluti bisnis ini, Dini makin termotivasi untuk menambah ilmu dan memperkaya diri. "Saya juga ikut mencoba ajukan proposal pelatihan dari Departemen Koperasi dan UMKM. Dari ribuan orang yang mengajukan, saya satu dari 300 yang mendapatkan kesempatan ikut dalam program sarjana wirausaha dari pemerintah. Saya dapat bimbingan, pelatihan bisnis, dan jadi bisa bertemu banyak teman-teman yang berbisnis dari berbagai bidang. Saya jadi bisa memperluas jaringan dari situ," kata ibu satu anak ini.
Menurutnya, memulai usaha jualan ini tak terlalu susah, karena ia cukup menjual produk-produk yang ia sukai. "Seperti tas-tas lucu, sepatu-sepatu, produk kreasi ibu, baju, dan lainnya yang menurut saya bagus dan sukai. Kalau ternyata tidak laku, bisa saya pakai, kan dasarnya saya sudah suka. Tapi jarang yang tidak laku," katanya.
Untuk memastikan bisnisnya berjalan lancar, Dini juga memperkaya diri dengan informasi dari majalah, internet, dan memperhatikan kecenderungan tren. "Tetapi juga perlu disiasati supaya tidak habis di ongkos. Saya jadwalkan kapan pengambilan barang dari supplier," katanya yang mengaku memiliki 15 penyuplai yang bekerjasama dengannya.
Interaksi
Salah satu fitur menguntungkan dari penjualan via online adalah fitur yang memudahkan interaksi antara penjual dan pembeli.
Mel mengaku sering mendengarkan masukan dan keluhan dari pelanggannya yang menurutnya berharga untuk memperbaiki kualitas. "Dari pengalaman saya, pelanggan barang-barang di internet untuk Happa cukup setia. Sekali puas, mereka akan kembali lagi. Karena penjualan lewat jalur ini bergantung pada kepercayaan, maka penting untuk menjaganya. Kita dengarkan feedback pelanggan lalu dibicarakan di toko nyata," jelasnya.
Ia menambahkan, berinteraksi dengan pelanggan akan membantu membangun rasa percaya. "Membangun trust pelanggan tidak bisa dengan berkoar-koar sepihak dan mengatakan kita terbaik, selain dengan berinteraksi dengan mereka, harus juga jaga kualitas produk dan pengiriman yang sesuai janji," katanya.
Sementara Erica Fox dari Laavaa.com yang memulai bisnis ini pertengahan April lalu mengatakan, ia mendirikan toko online ini berdasarkan passion. "Passion itu membuat kami betah berlama-lama menghadapi pertanyaan dan memberi saran kepada pelanggan-pelanggan yang butuh bantuan memadu padan barang yang ada di toko online kami. Kami berusaha menjawab sendiri feedback pelanggan. Ini membuat mereka percaya kepada kami dan setia," tuturnya sambil menuturkan kini pelanggan beroperasi dari Jakarta Selatan ini sudah mencapai Kanada dan beberapa negara lain di Asia dan Eropa.
Tantangan
"Berjualan di internet itu bisnisnya 'trust'. Pelanggan harus benar-benar percaya kepada si penjual supaya ia setia dan mau terus belanja," kata Nidya Indriasari, pemilik toko online Scallope.com kepada Beritasatu.com awal bulan Juli ini.
Rasa percaya itu bukan hal mudah untuk dipertahankan. Mengingat persaingan di penjualan produk di internet saat ini kian ketat, pelanggan bisa dengan mudahnya "jatuh ke lain hati".
"Susahnya lagi kalau dikira saya adalah penipu. Penting untuk membangun trust dari pelanggan. Karenanya, testimonial dari pelanggan itu harus dipasang. Salah satu cara saya adalah dengan selalu memasang foto barang hasil jepretan sendiri, tidak pernah ambil dari situs lain. Supaya pelanggan bisa melihat bentukan aslinya, editannya pun seadanya saja. Ukuran juga harus detail dicantumkan," terang Dini.
Sementara menurut Andi, salah satu tantangan yang terberat adalah masih banyak yang takut membeli karena urusan pembayaran. Menurutnya, kebanyakan online buyers masih concern dengan cara pembayaran, terutama yang kartu kredit. Karena selama ini penjualan online masih pro kepada penjual karena mengharuskan pembeli mengirim uang dulu, lalu dijanjikan barang datang.
"Tetapi akan makin banyak pilihan cara pembayaran yang sama-sama menyenangkan. Contoh yang sudah dimulai adalah sistem cash on delivery (bayar saat pengiriman barang). Ke depannya akan berkembang sistem rekening bersama. Caranya, ada satu sistem yang menyimpan uang di pihak ketiga, begitu barang tiba di pembeli dan diterima dengan baik, uangnya baru cair ke penjual, sebalinya, kalau si pembeli membatalkan, barang kembali ke penjual, uang akan kembali ke calon pembeli tadi," jelas Andi.
E-commerce, menurut direktur perusahaan pengembangan ecommerce Ideosource, Andi S Boediman, akan terus berkembang. Kondisi ini menurutnya merupakan waktu paling tepat untuk memulai bisnis penjualan via online.
"Nilai belanja e-commerce (di Indonesia) terus bertumbuh dari 3 persen di tahun 2009, sekarang telah mencapai 6 persen dari 50 juta pengguna. Nilai belanjanya sendiri mencapai 290 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,69 triliun. Sekarang, merupakan waktu paling tepat untuk terjun sebagai online sellers," kata Andi yang merupakan mantan Chief Innovation Officer di Plasa.com itu beberapa waktu lalu di kawasan Kuningan, Jakarta.
Andi menuturkan, transaksi online secara garis besar bermula dari fitur-fitur dan kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan oleh Multiply, Facebook, dan forum Kaskus yang dikenal sebagai e-commerce consumer to consumer. Fitur yang dihadirkan situs-situs ini berbentuk katalog. Ada pula yang sifatnya business to business (B2B) yang dikenal dengan reseller.
"Kemudian berkembang menjadi bentuk yang dikenal sebagai marketplace, yakni semacam mal yang banyak tenant dan pembeli. Contohnya, Plasa.com, Rakuten, Blibli.com, eBay Indonesia, dan lainnya. Lalu, kini ada pula yang namanya online retailer yang menawarkan penjual margin lebih besar dan bisa mengatur pemasaran. Melihat kondisi Indonesia sekarang, saya perkirakan online retailer akan berkembang dalam 2 tahun mendatang," terangnya ketika dihubungi Beritasatu.com.
Keuntungan Berjualan Online
Dalam seminggu terakhir, setidaknya ada 3 pemain baru toko online yang mengkhususkan penjualan pada produk fashion memperkenalkan merek barunya kepada media; Scallope.com, Laavaa.com, dan Zalora.com. Masing-masing toko online ini mengusung tema yang mirip, yakni barang-barang fashion namun dengan target dan misi yang sedikit berbeda-beda.
Meski bukan terbilang jumlah peningkatan yang signifikan, namun dari dibukanya toko-toko yang mempersengit persaingan penjualan online ini sudah terlihat adanya peningkatan tren pelaku online seller.
Dari kacamata penjualan via online ada beberapa tipe, ada yang menjual sendiri langsung dengan metode consumer to consumer, ada pula yang menjual lewat sistem menitip ke pihak lain.
Salah satu desainer muda yang mulai memperbesar area penjualannya di bidang digital dengan menjual via online retailer, Mel Ahyar, menuturkan, ada banyak keuntungan baginya dengan menjual produknya di toko online.
"Saat ini saya menampilkan produk di dua toko online, yakni Fimela Shop dan Scallope.com, jadi pihak kedua, bukan toko online sendiri. Menurut saya, menjual barang via online tidak seribet menjual di toko nyata. Dari toko online pun saya jadi bisa terhubung dengan pelangan dari luar kota lebih cepat. Penjualan toko online membantu saya tetap fokus pada produksi dan pengembangan desain, sementara pihak kedua itu yang akan mengurus segalanya hingga sampai ke pelanggan," jelasnya saat dihubungi Beritasatu.com beberapa waktu lalu.
Mel saat ini memiliki dua label atas namanya, Mel Ahyar dan Happa. Label yang ia jual via online adalah lini siap pakainya, Happa. Selama ini ia menjual koleksi busananya di toko nyata yang terletak di Grand Indonesia, Jakarta serta di department store. Menurut Mel, menjual produk via pihak kedua itu lebih menguntungkan.
"Menjual via online retailer selama ini menggunakan metode konsinyasi. Biasanya mereka mengambil sekitar 25-40 persen. Sementara kalau di department store, jumlah persentasenya lebih besar, antara 30-50 persen. Jadi, lumayan jauh bedanya. Dengan toko online pun tidak harus memikirkan biaya penjaga toko, tidak perlu mengkhawatirkan stok, dan sebagainya," kata Mel lagi.
Terlebih lagi, bagi Mel yang masih memproduksi barang-barangnya sendiri, barang hasil desainnya cenderung terbatas dan eksklusif. Penjualan lewat online lebih baik untuk mewadahi hal ini, karena penjualan lebih cepat dan mendorongnya berproduksi lebih cepat lagi.
Baginya yang memang bekerja dan ingin membesarkan brand-nya, penjualan dengan menitip kepada pihak kedua ini memiliki nilai lebih baginya. "Saya jadi bisa mengukur dan menilai sendiri apa yang diminati oleh pelanggan. Misal, ada satu busana merek orang lain yang laku, saya bisa memperkirkan, bisa jadi karena di tampilan display toko baju itu menarik perhatian karena warnanya sangat bagus, atau model tertentu yang sedang diminati pasar, dan sebagainya," jelasnya.
Ada pula pengalaman Dini Yanuarsih, penjual perorangan yang memulai usaha berjualan via online sejak tahun 2007. Berawal dari iseng-iseng mewadahi produk-produk kreasinya sendiri di Facebook, kini usaha Dini berkembang dan beromzet puluhan juta sebulan.
"Awalnya iseng-iseng di tahun 2007, lalu saya baru mulai serius berjualan di tahun 2010. Saya tidak modal apa-apa, hanya internet dan ponsel. Tadinya menjual barang-barang buatan sendiri, lalu berkembang dengan menjadi reseller. Saat ini sudah cukup banyak pelanggan tetap. Sejak pernah diliput salah satu majalah, pelanggan saya jadi tambah banyak dari berbagai daerah di Indonesia," katanya saat dihubungi Beritasatu.com.
Sejak serius menggeluti bisnis ini, Dini makin termotivasi untuk menambah ilmu dan memperkaya diri. "Saya juga ikut mencoba ajukan proposal pelatihan dari Departemen Koperasi dan UMKM. Dari ribuan orang yang mengajukan, saya satu dari 300 yang mendapatkan kesempatan ikut dalam program sarjana wirausaha dari pemerintah. Saya dapat bimbingan, pelatihan bisnis, dan jadi bisa bertemu banyak teman-teman yang berbisnis dari berbagai bidang. Saya jadi bisa memperluas jaringan dari situ," kata ibu satu anak ini.
Menurutnya, memulai usaha jualan ini tak terlalu susah, karena ia cukup menjual produk-produk yang ia sukai. "Seperti tas-tas lucu, sepatu-sepatu, produk kreasi ibu, baju, dan lainnya yang menurut saya bagus dan sukai. Kalau ternyata tidak laku, bisa saya pakai, kan dasarnya saya sudah suka. Tapi jarang yang tidak laku," katanya.
Untuk memastikan bisnisnya berjalan lancar, Dini juga memperkaya diri dengan informasi dari majalah, internet, dan memperhatikan kecenderungan tren. "Tetapi juga perlu disiasati supaya tidak habis di ongkos. Saya jadwalkan kapan pengambilan barang dari supplier," katanya yang mengaku memiliki 15 penyuplai yang bekerjasama dengannya.
Interaksi
Salah satu fitur menguntungkan dari penjualan via online adalah fitur yang memudahkan interaksi antara penjual dan pembeli.
Mel mengaku sering mendengarkan masukan dan keluhan dari pelanggannya yang menurutnya berharga untuk memperbaiki kualitas. "Dari pengalaman saya, pelanggan barang-barang di internet untuk Happa cukup setia. Sekali puas, mereka akan kembali lagi. Karena penjualan lewat jalur ini bergantung pada kepercayaan, maka penting untuk menjaganya. Kita dengarkan feedback pelanggan lalu dibicarakan di toko nyata," jelasnya.
Ia menambahkan, berinteraksi dengan pelanggan akan membantu membangun rasa percaya. "Membangun trust pelanggan tidak bisa dengan berkoar-koar sepihak dan mengatakan kita terbaik, selain dengan berinteraksi dengan mereka, harus juga jaga kualitas produk dan pengiriman yang sesuai janji," katanya.
Sementara Erica Fox dari Laavaa.com yang memulai bisnis ini pertengahan April lalu mengatakan, ia mendirikan toko online ini berdasarkan passion. "Passion itu membuat kami betah berlama-lama menghadapi pertanyaan dan memberi saran kepada pelanggan-pelanggan yang butuh bantuan memadu padan barang yang ada di toko online kami. Kami berusaha menjawab sendiri feedback pelanggan. Ini membuat mereka percaya kepada kami dan setia," tuturnya sambil menuturkan kini pelanggan beroperasi dari Jakarta Selatan ini sudah mencapai Kanada dan beberapa negara lain di Asia dan Eropa.
Tantangan
"Berjualan di internet itu bisnisnya 'trust'. Pelanggan harus benar-benar percaya kepada si penjual supaya ia setia dan mau terus belanja," kata Nidya Indriasari, pemilik toko online Scallope.com kepada Beritasatu.com awal bulan Juli ini.
Rasa percaya itu bukan hal mudah untuk dipertahankan. Mengingat persaingan di penjualan produk di internet saat ini kian ketat, pelanggan bisa dengan mudahnya "jatuh ke lain hati".
"Susahnya lagi kalau dikira saya adalah penipu. Penting untuk membangun trust dari pelanggan. Karenanya, testimonial dari pelanggan itu harus dipasang. Salah satu cara saya adalah dengan selalu memasang foto barang hasil jepretan sendiri, tidak pernah ambil dari situs lain. Supaya pelanggan bisa melihat bentukan aslinya, editannya pun seadanya saja. Ukuran juga harus detail dicantumkan," terang Dini.
Sementara menurut Andi, salah satu tantangan yang terberat adalah masih banyak yang takut membeli karena urusan pembayaran. Menurutnya, kebanyakan online buyers masih concern dengan cara pembayaran, terutama yang kartu kredit. Karena selama ini penjualan online masih pro kepada penjual karena mengharuskan pembeli mengirim uang dulu, lalu dijanjikan barang datang.
"Tetapi akan makin banyak pilihan cara pembayaran yang sama-sama menyenangkan. Contoh yang sudah dimulai adalah sistem cash on delivery (bayar saat pengiriman barang). Ke depannya akan berkembang sistem rekening bersama. Caranya, ada satu sistem yang menyimpan uang di pihak ketiga, begitu barang tiba di pembeli dan diterima dengan baik, uangnya baru cair ke penjual, sebalinya, kalau si pembeli membatalkan, barang kembali ke penjual, uang akan kembali ke calon pembeli tadi," jelas Andi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




