Romahurmuziy: Pemilukada DKI Bukan Proyeksi tapi Prestise

Jumat, 13 Juli 2012 | 01:40 WIB
AN
B
Penulis: Antara/ Ratna Nuraini | Editor: B1
Sekjen DPP PPP Muhammad Romahurmuziy
Sekjen DPP PPP Muhammad Romahurmuziy (Antarafoto)
Semua "swing voter" yang jumlahnya sekitar 26 persen memilih Jokowi-Ahok.

Sekretaris Jenderal DPP PPP Muhammad Romahurmuziy menilai Pemilukada DKI Jakarta bukan merupakan proyeksi Pemilu Legisilatif dan Pemilu Presiden 2014, tapi hanya sebuah prestise.

"Tidak rasional jika menggunakan Pemilukada DKI Jakarta yang wilayahnya hanya meliputi lima kota dan satu kabupaten dengan jumlah pemilih sekitar tujuh juta jiwa dinilai sebagai barometer pemilu legislatif dan pemilu presiden yang wilayahnya meliputi 491 kabupaten dan kota dengan 174 juta pemilih," kata Romahurmuziy melalui layanan pesan singkat (SMS), di Jakarta, tadi malam.

Menurut Romy, panggilan akrab Romahurmuziy, kemenangan pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta Jokowidodo dan Basuki Tjahaja Purnama atau Jokowi-Ahok adalah keberhasilan sementara dalam mengelola kegagalan strategi pasangan calon lainnya, baik pada tataran kemasan maupun lapangan.

Pasangan Jokowi-Ahok, menurut Romy, adalah pasangan yang mampu menunjukkan sebagai pasangan calon "kuda hitam" yang lahir dari rakyat.

Dengan perolehan suara sementara hasil hitung cepat yang dilakukan oleh masing-masing tim sukses, lembaga survei independen, maupun media massa, menurut dia, di luar prediksi semua pollster (pengumpul suara), dan semua tim sukses kaget, termasuk tim sukses Jokowi-Ahok sendiri.

Menurut Romy, hasil perolehan suara sementara berdasarkan hitung cepat tersebut, menunjukkan semua suara mengambang atau "swing voter" pada akhirnya memilih pasangan Jokowi-Ahok. "Hal ini sesuatu yang sangat jarang terjadi pada banyak pemilukada," katanya.

Hasil sementara berdasarkan hitung cepat, pasangan Jokowi-Ahok memperoleh 42 persen suara, sedangkan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli atau Foke-Nara meraih 34 persen suara, sehingga kedua pasangan tersebut harus berkompetisi lagi di putaran kedua.

Romy meyakini, pada putaran kedua, belum tentu fenomena "swing voter" yang akhirnya memilih pasangan Jokowi-Ahok ini akan berlanjut, karena semua partai politik pendukungnya akan lebih sungguh-sungguh memberikan dukungan.

Ketua Komisi IV DPR RI ini menilai, hasil hitung cepat pasangan Jokowi-Ahok yang meraih suara 42 persen, menunjukkan semua "swing voter" yang jumlahnya sekitar 26 persen memilih pasangan Jokowi-Ahok. "Hal ini tidak bisa dijelaskan oleh pollster manapun," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon