Isu Pergantian Kasau dan Kasal, Pimpinan TNI Wajib Kuasai Pertahanan Antisenjata Biologi

Minggu, 3 Mei 2020 | 16:42 WIB
YS
AO
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: AO
Susaningtyas NH Kertopati
Susaningtyas NH Kertopati (Istimewa/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Dua pimpinan matra di TNI, yaitu Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Siwi Sukma Adji dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Yuyu Sutisna akan segera memasuki masa pensiun. Laksamana Siwi Sukma Adji akan memasuki masa pensiun pada Mei 2020, sementara Marsekal Yuyu Sutisna memasuki masa pensiun pada Juni 2020.

Di dalam organisasi TNI, pergantian Kasal dan Kasau tentunya harus dapat berkontribusi bagi pembangunan kekuatan dan soliditas di dalam tubuh TNI. Dibutuhkan pimpinan matra yang solid dan sejalan dengan visi misi Panglima TNI dan Presiden.

Tidak hanya itu, banyak pihak menilai bahwa tantangan ke depan yang harus dihadapi TNI AL dan AU tentu sudah semakin kompleks. Tantanngan yang dimaksud adalah adanya ancaman serangan senjata biologis nirmiliter yang tidak kasat mata, seperti penyebaran virus yang saat ini terjadi.

Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas NH Kertopati mengingatkan, saat ini Indonesia tengah berada di bawah ancaman nirmiliter, yakni dengan adanya penyebaran virus corona jenis baru, SARS-CoV-2, yang menyebabkan penyakit Covid-19. Ancaman tersebut harus dapat dihadapi dengan seluruh kekuatan yang ada, termasuk dari TNI.

"Wabah Covid-19 merupakan ancaman nirmiliter. Ancaman nirmiliter berbeda dengan ancaman militer dan ancaman nonmiliter. Ketiganya kini dikenal sebagai ancaman hibrida dan telah mengubah perspektif ancaman di masa mendatang," kata pengamat yang akrab disapa Nuning itu kepada Beritasatu.com di Jakarta, Minggu (3/5/2020).

Karena itu, menurut Nuning, senjata biologi dan pertahanan negara antisenjata biologi merupakan ilmu pengetahuan yang harus dan wajib dikuasai TNI. Pada masa depan, ancaman nuklir, biologi, dan kimia (nubika) harus masuk dalam kewaspadaan seluruh prajurit.

"Para Prajurit TNI kini dituntut memiliki kemampuan tempur konvensional dan kemampuan tempur kontemporer. Tuntutan kemampuan di masa depan tersebut harus menjadi agenda pimpinan TNI yang baru," ujarnya.

Menurut Nuning, dalam waktu dekat ini beberapa laksamana calon Kasal dan marsekal calon Kasau juga dituntut memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Mereka harus memiliki latar belakang penugasan operasional yang juga dilengkapi dengan pengalaman pendidikan tinggi.

"Para laksamana dan marsekal sebagian sudah dikenal publik sebagai intelektual TNI merupakan hasil proses seleksi dari Mabes TNI dalam mengajukan para calon Kasal dan calon Kasau yang memiliki kriteria sebagai scholar warrior," ucap Nuning.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon