Polri Terjunkan Brimob Gerilya Anti Gerilya untuk Buru Teroris
Selasa, 30 Oktober 2012 | 14:26 WIB
Perburuan jaringan teroris Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) di bawah kendali Santoso yang diduga bertanggungjawab terhadap pembunuhan dua anggota polisi yang hilang di Poso sejak 8 Oktober dan sejumlah teror lainnya, terus dilakukan polisi.
Gelombang pertama peleton tempur Brimob Kelapa Dua, Depok, yang berkualifikasi Gerilya Anti Gerilya (GAG), pun dikirimkan ke Poso, Selasa (30/10), dari Jakarta.
"Ada 32 orang yang berangkat, Mas. Senjata yang dibawa juga siap tempur, (yaitu) M14 dan Glock. Juga ada sniper dan senjata jenis PGI. Ini peleton bentukan Kepala Korps Brimob (Irjen) Syafei Aksal," kata sumber di lingkungan Mabes Polri, saat dihubungi hari ini.
Untuk bisa bergabung dalam peleton ini, sumber itu melanjutkan, personel polisi harus mempunyai pengalaman lima kali berangkat ke operasi di daerah konflik. Mereka dilatih di Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), dan pemantapan tempur di Kelapa Dua selama tiga bulan.
Mereka ini adalah tim elite milik Brimob, selain tim lain yakni CRT (Crisis Respond Team) yang berkualifikasi andal di medan perkotaan.
Seperti diketahui, dua anggota polisi itu ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan pada Selasa (16/10), berada di lokasi latihan jaringan teroris yang disebut polisi terkait dengan JAT (Jamaah Anshoru Tauhid). Hanya saja, JAT telah membantah keras tudingan itu.
Kedua personel itu hilang di sekitar Tamanjeka, Poso, kawasan yang bersama dengan Gunung Biru dikenal sebagai basis teroris.
Bahkan, Santoso sendiri telah mengirimkan surat yang berisi tantangan kepada Densus 88/Antiteror untuk perang secara terbuka, dan menyiapkan sejumlah ranjau di lokasi. Beberapa ranjau rakitan itu telah ditemukan polisi di lokasi.
Santoso adalah buron kasus teror nomor wahid saat ini. Namanya selalu muncul dalam setiap pengungkapan kasus terorisme. Santoso adalah bagian dari jaringan Abu Tholut alias Mustafa yang diyakini polisi merupakan panglima perang JAT.
Nama Santoso kembali muncul pada Senin (8/10), saat Densus 88/Mabes Polri menangkap buron teror bernama Imron di Palu, Sulteng, tak jauh dari Poso. Imron merupakan lulusan Pondok Pesantren (Ponpes) Darussaadah, Boyolali, Jawa Tengah. Ponpes ini adalah tempat di mana salah satu aktor pelaku bunuh diri dalam Bom Bali 2005 bernama Salik Firdaus, menuntut ilmu.
Gelombang pertama peleton tempur Brimob Kelapa Dua, Depok, yang berkualifikasi Gerilya Anti Gerilya (GAG), pun dikirimkan ke Poso, Selasa (30/10), dari Jakarta.
"Ada 32 orang yang berangkat, Mas. Senjata yang dibawa juga siap tempur, (yaitu) M14 dan Glock. Juga ada sniper dan senjata jenis PGI. Ini peleton bentukan Kepala Korps Brimob (Irjen) Syafei Aksal," kata sumber di lingkungan Mabes Polri, saat dihubungi hari ini.
Untuk bisa bergabung dalam peleton ini, sumber itu melanjutkan, personel polisi harus mempunyai pengalaman lima kali berangkat ke operasi di daerah konflik. Mereka dilatih di Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), dan pemantapan tempur di Kelapa Dua selama tiga bulan.
Mereka ini adalah tim elite milik Brimob, selain tim lain yakni CRT (Crisis Respond Team) yang berkualifikasi andal di medan perkotaan.
Seperti diketahui, dua anggota polisi itu ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan pada Selasa (16/10), berada di lokasi latihan jaringan teroris yang disebut polisi terkait dengan JAT (Jamaah Anshoru Tauhid). Hanya saja, JAT telah membantah keras tudingan itu.
Kedua personel itu hilang di sekitar Tamanjeka, Poso, kawasan yang bersama dengan Gunung Biru dikenal sebagai basis teroris.
Bahkan, Santoso sendiri telah mengirimkan surat yang berisi tantangan kepada Densus 88/Antiteror untuk perang secara terbuka, dan menyiapkan sejumlah ranjau di lokasi. Beberapa ranjau rakitan itu telah ditemukan polisi di lokasi.
Santoso adalah buron kasus teror nomor wahid saat ini. Namanya selalu muncul dalam setiap pengungkapan kasus terorisme. Santoso adalah bagian dari jaringan Abu Tholut alias Mustafa yang diyakini polisi merupakan panglima perang JAT.
Nama Santoso kembali muncul pada Senin (8/10), saat Densus 88/Mabes Polri menangkap buron teror bernama Imron di Palu, Sulteng, tak jauh dari Poso. Imron merupakan lulusan Pondok Pesantren (Ponpes) Darussaadah, Boyolali, Jawa Tengah. Ponpes ini adalah tempat di mana salah satu aktor pelaku bunuh diri dalam Bom Bali 2005 bernama Salik Firdaus, menuntut ilmu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




