Isu Keluarga Dahlan Iskan Berbisnis dari Milis Tetangga
Kamis, 1 November 2012 | 00:23 WIB
Menteri BUMN Dahlan Iskan meradang dengan pernyataan yang mengait-ngaitkan keluarganya dalam tender-tender di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), termasuk soal penyewaan genset listrik dari China.
Ketika dikonfirmasi wartawan soal pernyataan politikus Partai Golkar, Bambang Soesatyo di sebuah media online soal keterlibatan anaknya, Dahlan menolaknya.
"Betul dia mengatakan itu? Dia akan saya persoalkan, Anda saksinya," kata Dahlan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31/10) malam.
"Saya tak mau membantah-bantah. Saya mau cek dulu dia ngomong apa," imbuh Dahlan.
Sebelumnya, di sebuah media online, Bambang Soesatyo meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan penyimpangan uang negara sebesar Rp37 triliun oleh PLN.
Ia juga meminta aparat penegak hukum agar mengusut dugaan keterlibatan Nani Wijaya, petinggi Jawa Pos dan istrinya Dahlan, serta dugaan keterlibatan anak Dahlan, Azrul Ananda, yang terlibat pengadaan mesin genset dari China tanpa melalui tender terbuka.
"Juga terkait tender proyek jaringan transmisi PLN dari Jawa Timur ke Bali yang dimenangi konsorsium bersama Nani Wijaya dan Azrul Ananda bekerja sama dua perusahaan China menggunakan APBN. Kini proyek tersebut telantar dikarenakan kontraktor asal China kabur," kata Bambang mengutip media online itu.
Belakangan Bambang Soesatyo mengklarifikasi dirinya tidak pernah menuduh Dahlan Iskan demikian.
"Tidak benar saya memberikan pernyataan seperti itu. Itu bukan pendapat saya. Saya hanya dapat informasi dari milis tetangga. Bukan untuk diberitakan," kilah pengurus DPP Partai Golkar itu.
Bambang menambahkan, dirinya dalam memberikan pernyataan tidak akan pernah menyinggung perkara yang bersifatnya pribadi. "Mana mau saya, dan enggak mungkinlah statement saya menyerang pribadi seperti itu," sergah Bambang.
Terlepas dari itu, soal keterkaitan keluarga Dahlan Iskan dalam proyek yang menyebabkan inefisiensi di PLN sudah menjadi topik hangat secara informal di media sosial, khususnya Twitter.
Dahlan akhirnya memahami itu dan memberi klarifikasi soal keadaan keluarganya.
"Begini lho, anak saya itu, Azrul Ananda dan seluruh keluarga saya keberatan saya menjadi Dirut PLN. Tapi karena ini perintah dari Bapak Presiden SBY dan dokter juga mengizinkan, maka saya mau. Begitu anak saya tahu saya menerima jabatan Dirut PLN itu, dia bersumpah untuk tidak mau menginjakkan kaki di kantor PLN manapun," kata Dahlan yang merintis karier sebagai wartawan hingga menjadi pemilik grup media Jawa Pos.
Dia melanjutkan, anaknya sangat mematuhi sumpah itu karena menjaga reputasi dirinya.
"Dia tahu bagaimana cara harus menjaga reputasi media sehingga dia, jangankan ngobyek, menginjakkan kaki di PLN saja dia tak mau. Sumpah itu dia penuhi sampai saya berhenti jadi Dirut," ujarnya.
"Anak saya (Azrul), ya dia kan dari reporter kemudian jadi pimred, kemudian jadi Dirut Jawa Pos Grup."
Ketika dikonfirmasi wartawan soal pernyataan politikus Partai Golkar, Bambang Soesatyo di sebuah media online soal keterlibatan anaknya, Dahlan menolaknya.
"Betul dia mengatakan itu? Dia akan saya persoalkan, Anda saksinya," kata Dahlan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31/10) malam.
"Saya tak mau membantah-bantah. Saya mau cek dulu dia ngomong apa," imbuh Dahlan.
Sebelumnya, di sebuah media online, Bambang Soesatyo meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan penyimpangan uang negara sebesar Rp37 triliun oleh PLN.
Ia juga meminta aparat penegak hukum agar mengusut dugaan keterlibatan Nani Wijaya, petinggi Jawa Pos dan istrinya Dahlan, serta dugaan keterlibatan anak Dahlan, Azrul Ananda, yang terlibat pengadaan mesin genset dari China tanpa melalui tender terbuka.
"Juga terkait tender proyek jaringan transmisi PLN dari Jawa Timur ke Bali yang dimenangi konsorsium bersama Nani Wijaya dan Azrul Ananda bekerja sama dua perusahaan China menggunakan APBN. Kini proyek tersebut telantar dikarenakan kontraktor asal China kabur," kata Bambang mengutip media online itu.
Belakangan Bambang Soesatyo mengklarifikasi dirinya tidak pernah menuduh Dahlan Iskan demikian.
"Tidak benar saya memberikan pernyataan seperti itu. Itu bukan pendapat saya. Saya hanya dapat informasi dari milis tetangga. Bukan untuk diberitakan," kilah pengurus DPP Partai Golkar itu.
Bambang menambahkan, dirinya dalam memberikan pernyataan tidak akan pernah menyinggung perkara yang bersifatnya pribadi. "Mana mau saya, dan enggak mungkinlah statement saya menyerang pribadi seperti itu," sergah Bambang.
Terlepas dari itu, soal keterkaitan keluarga Dahlan Iskan dalam proyek yang menyebabkan inefisiensi di PLN sudah menjadi topik hangat secara informal di media sosial, khususnya Twitter.
Dahlan akhirnya memahami itu dan memberi klarifikasi soal keadaan keluarganya.
"Begini lho, anak saya itu, Azrul Ananda dan seluruh keluarga saya keberatan saya menjadi Dirut PLN. Tapi karena ini perintah dari Bapak Presiden SBY dan dokter juga mengizinkan, maka saya mau. Begitu anak saya tahu saya menerima jabatan Dirut PLN itu, dia bersumpah untuk tidak mau menginjakkan kaki di kantor PLN manapun," kata Dahlan yang merintis karier sebagai wartawan hingga menjadi pemilik grup media Jawa Pos.
Dia melanjutkan, anaknya sangat mematuhi sumpah itu karena menjaga reputasi dirinya.
"Dia tahu bagaimana cara harus menjaga reputasi media sehingga dia, jangankan ngobyek, menginjakkan kaki di PLN saja dia tak mau. Sumpah itu dia penuhi sampai saya berhenti jadi Dirut," ujarnya.
"Anak saya (Azrul), ya dia kan dari reporter kemudian jadi pimred, kemudian jadi Dirut Jawa Pos Grup."
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




