Tingkat Spekulasi Properti Masih Tinggi di Tahun Ini
Kamis, 8 November 2012 | 18:46 WIB
Tren properti yang sedang naik secara alamiah membuat pasar spekulasi semakin tinggi karena pertumbuhan harga juga tinggi.
Jumlah pembelian rumah di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) hingga September 2012 masih didominasi oleh para spekulan properti.
Spekulan yang membeli rumah untuk investasi tersebut telah menyebabkan pasar properti kelebihan nilai (over value).
Berdasarkan survei Kajian Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia (BI) September 2012, masih banyak hunian alias rumah yang ternyata kosong setelah dibeli pemiliknya.
Kondisi ini menunjukkan, masih banyak masyarakat yang membeli rumah hanya sebagai investasi bukan sebagai sarana tempat tinggal.
Menurut data, di wilayah Jabodetabek, untuk semester I-2010, dari seluruh produk hunian yang ditawarkan dapat diserap (terjual) sebesar 86,80%.
Sedangkan pada semester II tahun 2010 dan semester I-2011 berturut-turut terjual 88,30% dan 89,40%.
Namun dari jumlah yang terjual tersebut, tingkat hunian untuk semester I dan II-2012 hanya berkisar 80,6% dan 82,8%.
Okupansi tertinggi sempat terlihat pada hunian yang rampung pada semester I-2011 yakni 85,2%. Kekosongan hunian hingga 20% hingga semester I-2012 akibat tingginya aksi spekulan.
"Banyak rumah yang dijadikan spekulasi sehingga membuat pasar properti over value. Penyebabnya, saat ini siklus properti sedang dalam tren naik sehingga mendorong spekulasi dengan harapan mendapat capital gain," kata Ali Tranghada, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) seperti dikutip dari laman Investor Daily.
Tren properti yang sedang naik, kata Ali, secara alamiah membuat pasar spekulasi semakin tinggi karena pertumbuhan harga juga tinggi. Para investor pun memanfaatkan hal tersebut dengan membeli hunian di sejumlah lokasi yang dianggap strategis.
"Dalam batas tertentu, aksi para spekulan ini memang memberikan keuntungan pribadi. Namun, ada batasannya karena pasar relatif sudah jenuh. Tahun depan, pasar investor diprediksikan sudah menurun berganti pasar end user atau pengguna," papar dia.
Ketua Umum asosiasi pengembang Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso mengakui, komposisi pembelian rumah dan apartemen antara end user dan investor cukup seimbang.
"Pembelinya sama besar untuk pemilik yang menghuni dan para investor. Ini terjadi terutama untuk residensial kelas menengah ke atas," kata Maharso.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi membenarkan, pembelian apar temen memang banyak dilakukan oleh para investor. Namun, untuk end user juga menjadi target perseroan.
"Selama ini, pembeli apartemen relatif seimbang antara pengguna hunian dan hanya untuk investasi," kata dia.
Jumlah pembelian rumah di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) hingga September 2012 masih didominasi oleh para spekulan properti.
Spekulan yang membeli rumah untuk investasi tersebut telah menyebabkan pasar properti kelebihan nilai (over value).
Berdasarkan survei Kajian Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia (BI) September 2012, masih banyak hunian alias rumah yang ternyata kosong setelah dibeli pemiliknya.
Kondisi ini menunjukkan, masih banyak masyarakat yang membeli rumah hanya sebagai investasi bukan sebagai sarana tempat tinggal.
Menurut data, di wilayah Jabodetabek, untuk semester I-2010, dari seluruh produk hunian yang ditawarkan dapat diserap (terjual) sebesar 86,80%.
Sedangkan pada semester II tahun 2010 dan semester I-2011 berturut-turut terjual 88,30% dan 89,40%.
Namun dari jumlah yang terjual tersebut, tingkat hunian untuk semester I dan II-2012 hanya berkisar 80,6% dan 82,8%.
Okupansi tertinggi sempat terlihat pada hunian yang rampung pada semester I-2011 yakni 85,2%. Kekosongan hunian hingga 20% hingga semester I-2012 akibat tingginya aksi spekulan.
"Banyak rumah yang dijadikan spekulasi sehingga membuat pasar properti over value. Penyebabnya, saat ini siklus properti sedang dalam tren naik sehingga mendorong spekulasi dengan harapan mendapat capital gain," kata Ali Tranghada, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) seperti dikutip dari laman Investor Daily.
Tren properti yang sedang naik, kata Ali, secara alamiah membuat pasar spekulasi semakin tinggi karena pertumbuhan harga juga tinggi. Para investor pun memanfaatkan hal tersebut dengan membeli hunian di sejumlah lokasi yang dianggap strategis.
"Dalam batas tertentu, aksi para spekulan ini memang memberikan keuntungan pribadi. Namun, ada batasannya karena pasar relatif sudah jenuh. Tahun depan, pasar investor diprediksikan sudah menurun berganti pasar end user atau pengguna," papar dia.
Ketua Umum asosiasi pengembang Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso mengakui, komposisi pembelian rumah dan apartemen antara end user dan investor cukup seimbang.
"Pembelinya sama besar untuk pemilik yang menghuni dan para investor. Ini terjadi terutama untuk residensial kelas menengah ke atas," kata Maharso.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi membenarkan, pembelian apar temen memang banyak dilakukan oleh para investor. Namun, untuk end user juga menjadi target perseroan.
"Selama ini, pembeli apartemen relatif seimbang antara pengguna hunian dan hanya untuk investasi," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




