Analisis

Eksperimen Kedua Anas

Jumat, 18 Juni 2010 | 07:15 WIB
DI
B
Penulis: Dudi Iskandar | Editor: B1

Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, meretas untuk merealisasikan salah satu janji kampanyenya: transformasi partai menuju partai modern yang kuat dan solid, serta tidak bergantung pada individu.

Salah satu strateginya menempatkan pasukan muda dan memiliki basis pemikiran dalam kabinetnya.

Nama Ulil Abshar Abdalla (aktivis Jaringan Islam Liberal), Rachland  Nasidik (aktivis HAM, Andi Nurpati (anggota KPU), dan Kastorius Sinaga (staf ahli Kapolri) menandaskan indikator tersebut.
 
Koordinator Kontras, Usman Hamid, yang semula bersedia menjadi pengurus, mengundurkan diri dalam detik-detik terakhir.
 
Namun, Usman berjanji membantu dari luar partai.

Dalam kepengurusan yang berjumlah 130 orang itu, ada yang menarik untuk dicermati.
 
Yaitu politik akomodatif dan memanfaatkan frustrasi pejuang muda.
 
Akomodatif berarti merangkul kawan dan lawan pasca kongres di Bandung, Mei lalu.
 
Mantan Ketua Umum PB HMI itu "dipaksa" menjadikan Edhi Baskoro Yudhoyono yang masih "hijau" dalam dunia politik sebagai sekretaris jenderal.

Nama Ulil, Andi, Rachland, Kastorius, dan Hinca Panjaitan memang jaminan mutu dalam bidang pemikiran.

Namun kompetensi mereka patut dipertanyakan dalam politik praktis yang penuh dengan syahwat kekuasaan dan nafsu finansial.
 
Dalam konteks ini, Anas mencoba mengalihkan perhatian dari karisma dan popularitas Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono ke basis massa yang peduli dengan pemikiran Islam, HAM, dan politik.

Keberhasilan pengalihan basis kekuatan partai ini layak ditunggu.
 
 Apalagi Partai Demokrat menargetkan 30 persen suara dalam Pemilu 2014.
 
Anas berasumsi target suara itu akan tercapai jika terjadi sinergis antara kekuatan figur Susilo Bambang Yudhoyono dan basis massa pengurus baru yang disebutkan di atas.
 
Harus diakui selama ini suara-suara pinggiran dan floating mass belum tergarap secara maksimal oleh partai politik negeri ini.
 
Anak muda yang peduli di HAM, pemikiran Islam, dan politik kerap diabaikan.
 
Sehingga memilih untuk apatis bahkan golput.

Anas adalah corak pemimpin muda yang gaya kepemimpinannya rasional dengan landasan keilmuan.
 
Ini sudah diretas ketika dia memegang tampuk kepemimpinan tertingggi di HMI.
 
Nama Anas melejit dan menjulang dalam cakrawala organisasi mahasiswa berkat kemampuan intelektualnya.

Ketika memimpin di HMI, gaya kepemimpinan ini berhasil.
 
Menarik untuk dinanti, apakah eksperimennya di partai politik berhasil?
 
Sebab basis anggota HMI (mahasiswa) dan Partai Demokrat (masyarakat awam) berlainan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon