Panja Flu Burung Berdebat soal Kelanjutan Proyek Flu Burung

Senin, 10 Desember 2012 | 21:13 WIB
MS
B
Pabrik vaksin flu burung di Cisarua Bandung Barat Jawa Barat. Menurut laporan BPK Juni 2012 proyek ini merugikan negara hingga Rp600 Miliar.FOTO:  Ulin Yusron/ Beritasatu.com
Pabrik vaksin flu burung di Cisarua Bandung Barat Jawa Barat. Menurut laporan BPK Juni 2012 proyek ini merugikan negara hingga Rp600 Miliar.FOTO: Ulin Yusron/ Beritasatu.com
Tak ada prospek bisnis apabila pabrik vaksin itu tetap dibangun.

Para anggota Panitia Kerja (Panja) DPR untuk proyek pabrik vaksin flu burung malah berperang pendapat soal perlunya melanjutkan pembiayaan negara atas proyek pembangunan itu. Mayoritas anggota Panja itu berpendapat keputusan PT Bio Farma (BF) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang ingin melanjutkan proyek itu agak aneh.

Menurut anggota Panja dari Fraksi PKS, M Mantri Agung, sudah jelas bahwa direksi PT BF mengakui tak ada prospek bisnis apabila pabrik vaksin itu tetap dibangun. Bahkan seperti diakui oleh Iskandar, Direktur Utama PT BF, biaya perawatan mesin pabrik saja sekitar Rp50 miliar per tahun.

"Kalau anda tak yakin ini menguntungkan, ya, harus ditolak. Daripada tiap tahun kinerja anda akan dinilai jeblok oleh Kementerian BUMN. Sebagai industri, (pabrik vaksin flu burung) pasti harus ada proyeksi bisnisnya, sehingga produknya memberi nilai tambah. Kalau tidak, ya jangan diterima," kata Mantri, dalam rapat Panja dengan Direksi PT BF di Bandung, Jawa Barat, hari ini.

"Jadi, tetap harus dihitung. Saya tak bisa terima kalau investasi besar namun rugi," kata Mantri.

Penolakan lainnya disampaikan oleh anggota Panja dari Fraksi Golkar, Poempida Hidayatulloh, yang meminta agar PT BF tak dibebani, maka proyek itu dikembalikan saja ke Kemenkes.

"Biar saja dibentuk perusahaan baru, misalnya khusus dibuat demi kebutuhan sosial. Kalau tugas mulia, negara lho tujuannya. Kalau (pabrik) ini bukan untuk bisnis. BUMN itu tak boleh bekerja driven by power, harus driven by market," kata Poempida.

Sementara dukungan agar negara mendukung proyek itu datang dari Heryanto, anggota Panja dari Fraksi Partai Demokrat, yang mendorong PT BF menunjukkan proyeksi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang dari pandemi flu burung. Termasuk proyeksi bisnis vaksin flu burung di masa mendatang.

"Supaya bisa kita akhirnya mendukung ke arah itu (dilanjutkannya proyek itu)," ujar Heryanto.

Dukungan militan lainnya datang dari rekan separtai Poempida, Charles Messang, yang menyatakan bahwa kelanjutan proyek itu adalah masalah bangsa dan negara.

"Bagi saya, ini harus dilanjutkan. Kita takkan perlu tunggu pandemi, baru ada pabrik ini," tutur Charles.

Charles melanjutkan bahwa sayang sekali bila bangunan dan peralatan yang sudah terlanjur dibeli, akan sia-sia apabila proyeknya tak diselesaikan.

"Ini juga bisa sama seperti dulu PT Nurtanio. Karena kita tak lanjut, Brasil yang diuntungkan, karena merekrut karyawan mereka dan akhirnya maju," kata Charles.

Panja Flu Burung DPR belum akan memutuskan apakah bakal mendukung atau menolak kelanjutan proyek itu dalam waktu dekat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon