Ini Strategi Kemendikbudristek Melestarikan Bahasa Daerah
Sabtu, 2 Juli 2022 | 11:56 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Aminudin Aziz mengatakan Indonesia memiliki bahasa daerah terbanyak nomor 2 di dunia setelah Papua Nugini. Dalam hal ini, Papua Nugini sekira 815 bahasa daerah dan Indonesia memiliki 718 bahasa daerah.
Menurut Aziz, ada beberapa bahasa daerah yang terancam punah karena disebabkan banyak faktor. Salah satunya, berkurangnya jumlah penutur. Untuk itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) sejak tahun 2021 melakukan berbagai upaya melestarikan bahasa daerah yang terancam punah.
Salah satu strategi melestarikan bahasa daerah dilakukan melalui sekolah yang dikemas dengan cara yang menarik dan tidak membosankan. Dalam hal ini, Badan Bahasa memberi kebebasan kepada siswa untuk belajar bahasa daerah melalui menulis puisi, dongeng, cerita pendek, menulis aksara daerah, pidato, dan stand up komedi.
"Pelatihan di sekolah itu sesuai dengan keinginan siswa. Mereka wajib menggunakan bahasa daerahnya, misalnya menulis puisi dalam bahasa daerah. Jadi ada kelas puisi atau cerita pendek dan semua pakai bahasa daerah," kata Aziz saat memberi keterangan tentang; "Dua Tahun Badan Bahasa dalam Angka", Jumat (1/7/2022).
Aziz menambahkan perubahan strategi program melestarikan bahasa daerah ini mendapat sambutan baik dari masyarakat hingga pemerintah daerah (pemda). Pasalnya, revitalisasi bahasa daerah merupakan salah satu langkah penting dalam upaya perlindungan bahasa dan sastra.
"Masyarakat sangat antusias ingin melestarikan bahasa daerahnya. Mudah-mudahan nanti pada perayaan Bahasa Ibu Internasional 21 Februari 2023, kita akan melakukan selebrasi nasional untuk bahasa ibu yang ada di Indonesia ini. Kami memang sedang bicara dengan tim UNESCO supaya Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Hari Bahasa Ibu Internasional," ucapnya.
Aziz juga menambahkan bahwa program revitalisasi bahasa daerah merupakan paket kebijakan yang dikemas dalam Merdeka Belajar Episode 17, yang diluncurkan tanggal 22 Februari 2022 yang lalu. Revitalisasi bahasa daerah perlu dilakukan, mengingat dari 718 bahasa daerah di Indonesia, sebagian besar kondisinya terancam punah dan kritis.
Sasaran dari revitalisasi bahasa daerah ini adalah 1.491 komunitas penutur bahasa daerah, 29.370 guru, 17.955 kepala sekolah, 1.175 pengawas, serta 1,5 juta siswa di 15.236 sekolah.
Sementara itu, untuk komunitas penutur, Kemendikbudristek akan melibatkan secara intensif keluarga, para maestro, dan pegiat pelindungan bahasa dan sastra dalam penyusunan model pembelajaran bahasa daerah, pengayaan materi bahasa daerah dalam kurikulum, dan perumusan muatan lokal kebahasaan dan kesastraan.
Kemendikbudristek akan melatih para guru utama dan guru-guru bahasa daerah; mengadopsi prinsip fleksibilitas, inovatif, kreatif, dan menyenangkan yang berpusat kepada siswa; mengadaptasi model pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing; serta membangun kreativitas melalui bengkel bahasa dan sastra.
Pada tahun 2022 ini, jumlah bahasa daerah yang akan menjadi objek revitalisasi sebanyak 38 bahasa daerah yang tersebar di 12 provinsi, yaitu Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Tiba di Cimahi, Jenazah Mayor Zulmi Disambut Lantunan Doa




