Sepekan, Puluhan Jiwa Melayang di Jalur Selatan, Tanggung Jawab Siapa?

Kamis, 28 Februari 2013 | 10:12 WIB
FA
B
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: B1
Bus Mustika Mega Utama, bernomor polisi F 7263 K, yang membawa kurang lebih 72 warga Sukajaya, Bogor hancur setelah menabrak tembok jalan Raya KM 89, Ciloto, Cipanas, Sukabumi.
Bus Mustika Mega Utama, bernomor polisi F 7263 K, yang membawa kurang lebih 72 warga Sukajaya, Bogor hancur setelah menabrak tembok jalan Raya KM 89, Ciloto, Cipanas, Sukabumi. (JG Photo/Vento Saudale)

Jakarta - Kecelakaan maut di jalur Cianjur-Bogor, tepatnya Ciloto, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat pada Rabu (27/2) yang melibatkan Bus Mustika Mega Utama --menewaskan sedikitnya 16 orang-- menambah panjang daftar nyawa yang melayang di jalur itu.

Kecelakaan ini hanya berselang empat hari dari peristiwa tabrakan maut di jalur Bangbayan depan Desa Bangbayan, Gekbrong, Cianjur, yang melibatkan truk pengangkut oli --juga menyebabkan 16 orang meninggal dunia-- pada Sabtu (23/2) lalu.

Siapa yang harus bertanggungjawab dalam rentetan peristiwa ini?

Kapolda Jabar Irjen Tubagus Anis Angkawijaya saat dihubungi Beritasatu.com, Kamis (28/2) mengatakan, tanggung jawab dalam mengatasi masalah ini berada pada pundak seluruh stakeholders yang terlibat dalam urusan lalu lintas.

"Kita semua bertanggungjawab. DLLAJR (Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) dengan KIR (tanda lulus uji pada mobil penumpang umum), Polri dalam menerbitkan SIM untuk pengemudinya, dan Pekerjaan Umum dengan fasilitas jalannya. Semua ini harus ikut peduli dalam meningkatkan keselamatan masyarakat berlalulintas," katanya.

Khusus untuk kecelakaan di Ciloto, sopir bus bernama Pandi, 45, yang beralamat di Desa Pamijahan, Cibening, Bogor --sedang dirawat di rumah sakit karena luka di kepalanya-- dipastikan akan menjadi tersangka.

"Pasti sopirnya akan kita jadikan tersangka (kelalaian)," lanjut Anis saat ditanya soal sopir yang memuat penumpang melebihi jumlah kapasitas bus.

Seperti diberitakan, bus yang membawa rombongan yang hendak melakukan ziarah ke Makam Cikundul, Cianjur, menabrak tebing hingga terguling.

Saat itu kondisi di kaki Gunung Gede Pangrango tersebut berkabut dan berangin kencang, sementara bus dipacu dalam kecepatan tinggi. Bus oleng dan tidak bisa dikendalikan sesampai di belokan Bumi Aki. Faktor kelalaian manusia (human error pun) dituding polisi sebagai penyebabnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon