ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Barabai Perlu Tempat Parkir Air Besar Agar Terbebas dari Banjir

Jumat, 26 Februari 2021 | 20:21 WIB
CF
JS
Penulis: Chairul Fikri | Editor: JAS
Banjir di Barabai, Kalimantan Selatan.
Banjir di Barabai, Kalimantan Selatan. (istimewa)

Barabai, Beritasatu.com - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan pada Januari 2021 lalu, memang sangat memprihatinkan. Dampaknya tidak saja hanya menghancurkan harta benda dan infrastruktur tapi juga telah mengakibatkan korban jiwa.

Banjir yang terjadi merupakan beberapa gambaran fenomena geologi yang kerap terjadi. Namun demikian sudah seharusnya dilakukan pengkajian untuk merekayasa wilayah ini sehingga mempunyai tata kelola air yang baik untuk meminimalisasi dampak yang terjadi. Hal itu diungkapkan Pakar Hidrogeologi dan Sumberdaya Air, Rachmat Fajar Lubis, dalam keterangan persnya menanggapi bencana banjir di Barabai, Kalimantan Selatan itu.

"Dahulu Kalimantan dibangun dengan konsep tata ruang bebas banjir, namun dengan kondisi pertumbuhan saat ini, konsep tersebut tidaklah berlaku lagi. Seiring pertumbuhan pembangunan dan masyarakat di wilayah ini, menghasilkan perubahan konsep tata ruang. Ditambah lagi dengan perubahan iklim yang memunculkan event-event cuaca ekstrem seperti perubahan intensitas hujan yang terjadi belakangan ini, membuat konsep bebas banjir ini harus dikaji ulang," ungkap Rachmat.

Ditambahkannya, sebagai provinsi yang disebut-sebut memiliki sejarah banjir sejak 1823, Kalimantan Selatan memiliki keunikan secara geologi. Salah satu wilayah yang menjadi prioritas kajian ini adalah kota Barabai, yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

ADVERTISEMENT

"Kota ini secara geografis terbagi dalam tiga kawasan rawa, dataran rendah, dan wilayah pegunungan Meratus. Hingga secara alami kawasan ini memiliki siklus tata air (hidrologi) yang sangat rentan akan perubahan tata ruang yang secara langsung dapat mengubah neraca keseimbangan air (water balance) yang ada," tutur Rachmat.

"Ini bukan saja terhadap sistem tata air tetapi juga sistem lainnya. Ini sebabnya harus selalu ada Analisis Dampak Lingkungan yang akan terjadi apabila direncanakan akan ada suatu aktivitas baru di suatu wilayah yang berskala besar," tambahnya.

Senada dengan Rachmat, Iwan Ridwansyah yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI juga menjelaskan sebagai sebuah kota kecamatan sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Barabai perlu strategi khusus untuk membuat air yang turun saat hujan bisa tertampung dengan baik dan tidak menyebabkan banjir.

"Barabai perlu adanya strategi tempat parkir air, seperti waduk, setu, atau danau besar yang berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar. Ini berdasarkan evaluasi yang telah terjadi di sana. Masyarakat juga perlu menambah kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi," ungkapnya.

"Bencana ini dapat berupa banjir dan tanah longsor. Oleh sebab itu, pemerintah daerah harus memiliki perencanaan tata ruang kabupaten atau kota yang berpotensi tinggi terkena bencana harus dikelola ulang sesuai dengan analisis ilmiah berbasis kebencanaan," tandasnya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon