ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sembilan Juli di TPU Rorotan

Sabtu, 10 Juli 2021 | 23:54 WIB
WM
WM
Penulis: Willy Masaharu | Editor: WM
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Joanes Joko
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Joanes Joko (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Joanes Joko mengenang kepergian tokoh-tokoh yang wafat terenggut Covid-19. Dalam tulisan yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (10/7/2021) malam, Sekjen Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) ini menuturkan, pandemi sejatinya telah meruntuhkan kesombongan sebagai manusia moderen.

"Segala ikhtiar harus dilakukan. Selemah-lemahnya, cukup dengan kita patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Mematuhi anjuran pemerintah. Kita boleh berbeda apapun: pandangan politik, etnis suku bahkan agama, namun untuk kali ini kita harus sama dan sepakat, atas nama kemanusiaan pandemi ini harus kita lawan dan akhiri."

Berikut isi tulisannya

Jam di HP menunjukkan jam 11.15. Aplikasi temperatur udara memunculkan angka 34 derajat celcius. Cuaca cerah matahari pun mengeluarkan sinar teriknya lengkap dengan sapuan udara panas, membuat siapapun tidak ingin berlama-lama merasakannya.

ADVERTISEMENT

Dari kejauhan sebuah mobil ambulans putih melaju perlahan diatas tanah padatan yang mulai mengering. Bergerak menuju sisi lubang-lubang yang baru saja digali oleh alat ekskavator. Dibelakangnya kembali menyusul beberapa ambulans jenazah lainnya yang kemudian menunggu antrean.


 


 

Sesaat kemudian lima orang sosok penggali makam yang menggunakan APD (alat pelindung diri) ketat berwarna putih mendekati pintu belakang ambulans tersebut. Tak terbayangkan hawa panas yang dirasakan para petugas pemakaman itu.

Sesaat kemudian, pintu belakang ambulans terbuka, tampak ada empat peti berwarna putih yang ditumpuk dalam dua lapis. Dalam setiap peti itu, ada sesosok raga yang beberapa jam lalu telah mengalah, di melepaskan jiwanya menuju keabadian yang diyakininya masing-masing. Mereka harus dimakamkan dengan protokol pemakaman Covid-19.

Raga-raga yang tak berdaya itu pernah memiliki catatan sejarah melewati ziarah kehidupannya masing-masing. Mereka memiliki saudara dan sahabat dekat yang pernah menorehkan cerita cinta di kehidupannya.

Namun pandemi ini membuat mereka tidak bisa menghantarkan raga-raga tersebut hingga ke liang terakhir. Sekadar hanya mengucap doa sederhana pun harus dilakukan dari jarak puluhan meter. Hanya boleh mendekat setelah tanah makam menutup sempurna peti putih itu.

Kehilangan orang tercinta adalah kesedihan yang luar biasa. Kesedihan dan kepiluan semakin terasa berat, sesaat membayangkan para keluarga itu hanya bisa melihat dari kejauhan, orang yang dikasihi benar-benar dalam kesendirian menuju rumah terakhirnya.


 


 

Setelah selesai, beberapa anggota keluarga berjalan lunglai menuju kendaraan masing-masing, membawa tas dan beberapa helai kain dan pakaian yang pernah dibawa oleh raga-raga tersebut saat diawal menjalani perawatan.

Hari-hari ini, upacara pemakaman yang diiringi para handai taulan dengan kekhidmatan prosesi doa di sekitar liang lahat terbuka menjadi suatu kemewahan.

Para raga yang selayaknya mendapatkan penghormatan terbaik diakhir ziarah kehidupannya, harus benar-benar dalam kesendirian tanpa ada puja-puji pelepasan ataupun doa penyerahan pada Sang Pemilik Kehidupan.

Kita boleh saja jumawa menghadapi situasi pandemi. Tubuh kita ini mungkin memang kuat menghadapi virus. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang kita cintai dan para sahabat yang kita kasihi? Mereka yang berusia rentan atau bahkan yang masih muda belia namun memiliki penyakit bawaan? Kesombongan dan keacuhan kita hanyalah menjadi senjata pembunuh bagi mereka.

Memang benar hidup, jodoh, dan mati sudah dituliskan takdirnya oleh Sang Maha Illahi. Tak bisa kita merubahnya. Tapi bukankah kita punya kemampuan untuk menentukan bagaimana penghormatan untuk para raga tersebut menuju peristirahatan kekalnya?

Penghormatan ini hanya bisa diberikan kembali bila pandemi ini usai. Pandemi sejatinya telah meruntuhkan kesombongan kita sebagai manusia moderen. Sudah seharusnya membuat kita sadar, betapa lemahnya peradaban ini dihadapan Sang Pencipta.

Segala ikhtiar harus dilakukan. Selemah-lemahnya, cukup dengan kita patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Mematuhi anjuran pemerintah. Kita boleh berbeda apapun : pandangan politik, etnis suku bahkan agama, namun untuk kali ini kita harus sama dan sepakat, atas nama kemanusiaan pandemi ini harus kita lawan dan akhiri.

Tulisan ini didedikasikan khusus untuk para sahabat-sahabatku yang pernah dekat dan mewarnai kehidupan saya. Tenang dan damailah kalian di Surga Keabadiaan, bersatu dengan Sang Maha. Doakanlah kami yang masih harus melangkah dalam ziarah kehidupan ini.

Dede Mangoting, Hasnil Fajri, Birgaldo Sinaga, Juli Nugroho, Mawardi Dedy, V Surawan Dibyosudarmo, Lanny Malyani, Aldo Calvarie



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon