Claude Bantu NASA Jelajahi Mars, Rover Perseverance Dipandu AI
Senin, 2 Februari 2026 | 08:42 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Sejak mendarat di Mars pada 2021, penjelajah Perseverance milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) telah mencetak banyak tonggak bersejarah, termasuk mengirimkan rekaman audio pertama dari Planet Merah.
Hampir lima tahun kemudian, rover seukuran mobil ini kembali mencatat sejarah baru. Pada Desember 2025, Perseverance berhasil menyelesaikan rute di Kawah Jezero yang dirancang oleh Claude, model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif milik Anthropic.
Pencapaian ini menandai pertama kalinya NASA menggunakan model bahasa besar (large language model/LLM) untuk merencanakan navigasi robot di planet lain, sebuah langkah penting dalam penerapan AI di dunia nyata untuk eksplorasi antarplanet.
Claude Merancang Rute di Medan Mars
Disitat dari Engadget, antara 8 Desember hingga 10 Desember 2025, Perseverance melaju sekitar 400 meter melintasi medan berbatu di Kawah Jezero. Rute tersebut dirancang oleh Claude dan kemudian dijalankan sepenuhnya oleh rover pada hari Mars ke-1.707 dan ke-1.709.
Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA memberikan akses terbatas kepada Claude untuk menyusun jalur navigasi. Proses ini jauh dari sekadar memasukkan satu perintah teks.
Perencanaan rute rover merupakan tugas kompleks dengan risiko tinggi, mulai dari roda tergelincir, kendaraan terbalik, hingga terjebak di medan berbahaya.
Sejak awal misi, operator manusia biasanya menyusun jalur secara manual menggunakan titik arah atau breadcrumbs, berdasarkan kombinasi citra satelit dan kamera onboard Perseverance. Metode ini memakan waktu dan memerlukan koordinasi intensif antartim.
Cara Claude Merencanakan Jalur Perseverance
Agar mampu menjalankan tugas tersebut, NASA terlebih dahulu membekali Claude Code, agen pemrograman Anthropic, dengan kumpulan data kontekstual yang sangat besar dari misi Perseverance. Data ini mencakup informasi historis rover, kondisi medan, serta parameter keselamatan.
Claude kemudian melakukan pemetaan secara bertahap dengan menyusun rute dalam segmen-segmen sekitar 10 meter, merangkai titik arah satu per satu. Setiap segmen dianalisis, dikritik, dan diulang hingga membentuk jalur berkelanjutan yang aman.
Menurut Anthropic, Claude menggunakan analisis gambar berbasis visi dari kamera HiRISE milik NASA serta model elevasi digital untuk mengenali fitur medan.
Dari sana, AI menghasilkan jalur navigasi dan menerjemahkannya ke dalam rover markup language, format perintah khusus yang digunakan sistem NASA.
Verifikasi Ketat oleh Insinyur NASA
Meski dirancang AI, seluruh rute tetap melalui proses verifikasi ketat. Insinyur JPL menjalankan jalur yang dihasilkan Claude melalui simulasi internal yang sama seperti yang digunakan untuk perencanaan harian rover.
Simulasi ini menganalisis lebih dari 500.000 variabel telemetri, memastikan setiap perintah aman sebelum dikirim ke Perseverance. NASA melaporkan hanya diperlukan perubahan kecil pada rute Claude.
Salah satu penyesuaian terjadi karena tim JPL memiliki akses ke citra permukaan tanah yang belum tersedia bagi Claude selama proses perencanaan. Hasil akhirnya, Perseverance berhasil menjalankan seluruh rute yang dirancang AI tanpa kendala berarti.
Efisiensi Misi dan Dampaknya
NASA memperkirakan penggunaan Claude dapat memangkas waktu perencanaan rute hingga setengahnya. Pengurangan waktu untuk pekerjaan manual yang melelahkan memberi operator lebih banyak ruang untuk merencanakan perjalanan tambahan, mengumpulkan data ilmiah lebih banyak, dan melakukan analisis yang lebih mendalam.
Dalam pernyataan resminya, NASA menilai pendekatan ini memungkinkan misi menjadi lebih produktif dan konsisten, sehingga pengetahuan manusia tentang Mars dapat berkembang lebih cepat.
Administrator NASA Jared Isaacman menyebut uji coba ini sebagai bukti bagaimana teknologi otonom mampu meningkatkan efisiensi misi sekaligus memaksimalkan hasil ilmiah eksplorasi luar angkasa. Penerapan AI ini juga datang pada masa penuh tantangan bagi NASA.
Selama musim panas 2025, badan antariksa AS tersebut kehilangan sekitar 4.000 karyawan, hampir 20% dari total tenaga kerjanya, akibat pemotongan administratif era Donald Trump. Memasuki 2026, usulan penghapusan hampir setengah anggaran sains NASA sempat diajukan sebelum akhirnya ditolak Kongres AS pada awal Januari.
Meski demikian, pendanaan lembaga ini masih berada di bawah level 2025, sementara tuntutan misi tetap tinggi, termasuk rencana kembali ke Bulan dengan sumber daya manusia yang jauh lebih terbatas dibanding era Apollo. Dalam konteks ini, alat AI yang mampu meningkatkan efisiensi kerja ilmuwan dan insinyur menjadi semakin relevan.
Bagi Anthropic, kolaborasi ini menjadi pencapaian besar. Kurang dari setahun lalu, Claude masih kesulitan menavigasi gim sederhana seperti Pokémon Red. Kini, model yang sama berhasil merencanakan jalur rover di planet lain.
NASA menyambut positif hasil uji coba ini dan membuka peluang kolaborasi lanjutan. Lembaga tersebut menilai sistem AI otonom berpotensi membantu wahana menjelajahi wilayah tata surya yang semakin jauh dan menantang.
Keberhasilan Claude di Mars menjadi sinyal kuat AI generatif tidak lagi sekadar alat eksperimental, melainkan mulai memainkan peran nyata dalam masa depan eksplorasi antariksa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Tiba di Cimahi, Jenazah Mayor Zulmi Disambut Lantunan Doa




