Pegawai Kementerian di Banten Mudik 510 Km Naik Sepeda ke Purbalingga
Senin, 16 Maret 2026 | 04:59 WIB
Lebak, Beritasatu.com - Tradisi mudik Lebaran di Indonesia selalu menghadirkan kisah menarik. Di tengah padatnya arus kendaraan setiap musim mudik, seorang pegawai kementerian di Provinsi Banten memilih cara berbeda untuk pulang kampung, yakni menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan sepeda.
Ia adalah Jeni Abdulrokhim, warga asal Purbalingga yang bekerja di wilayah Banten. Tahun ini, ia kembali menjalani tradisi mudik unik dengan bersepeda dari Rangkasbitung menuju kampung halamannya.
Perjalanan yang ditempuh tidaklah singkat. Jeni harus mengayuh sepeda sejauh sekitar 510 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat hari. Rute yang dilaluinya sebagian besar melewati jalur Pantai Utara Jawa atau Pantura, yang dikenal sebagai jalur utama penghubung berbagai kota di Pulau Jawa.
Bagi Jeni, mudik dengan sepeda bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan pengalaman yang memberikan kenikmatan tersendiri. Ia mengaku sudah dua kali melakukan perjalanan mudik dengan cara tersebut.
“Kalau bersepeda itu ada kenikmatan sendiri. Tahun kemarin saya juga mudik naik sepeda. Kita bisa menikmati perjalanan, apalagi saat bulan puasa, rasanya berbeda dari aktivitas sehari-hari,” ujar Jeni kepada wartawan, Minggu (15/3/2026).
Selain menikmati perjalanan, ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjalin silaturahmi dengan komunitas pesepeda yang ditemuinya di sepanjang jalur Pantura. Menurutnya, para pesepeda sering menyediakan tempat singgah bagi sesama goweser yang sedang melakukan perjalanan jauh.
“Biasanya ketemu teman-teman pesepeda di jalur Pantura. Mereka juga sering menyediakan tempat singgah, jadi sekalian silaturahmi,” katanya.
Meski terlihat ekstrem, Jeni menilai mudik dengan sepeda justru lebih hemat biaya dibanding menggunakan kendaraan bermotor. Ia tidak perlu mengeluarkan biaya bahan bakar seperti pengguna kendaraan lainnya.
Namun, ia tetap harus memperhatikan asupan makanan dan suplemen agar stamina tetap terjaga selama perjalanan panjang. “Kalau dibilang hemat dari segi BBM pasti lebih hemat karena tidak pakai bensin. Namun, tetap harus menjaga asupan makanan dan suplemen supaya tenaga tetap kuat saat gowes,” jelasnya.
Berdasarkan pengalamannya tahun lalu, biaya yang ia keluarkan selama perjalanan bahkan tidak mencapai Rp 100.000. Perjalanan jarak jauh dengan sepeda tentu memiliki tantangan tersendiri. Menurut Jeni, faktor cuaca menjadi kendala utama yang sering dihadapi selama perjalanan.
“Kalau panas terik tidak enak, hujan juga tidak nyaman. Paling enak kalau cuaca mendung dan sejuk,” ujarnya.
Sebelum memulai perjalanan, Jeni selalu melakukan persiapan matang. Selain menjaga kondisi fisik, ia juga memastikan sepeda yang digunakan dalam kondisi prima. Pengecekan dilakukan mulai dari ban, rantai, hingga sistem pengereman. Baginya, keselamatan dan kenyamanan menjadi hal utama dalam perjalanan jarak jauh seperti ini.
Kisah Jeni menjadi potret lain dari semangat mudik masyarakat Indonesia. Di tengah berbagai pilihan moda transportasi modern, ia membuktikan perjalanan pulang kampung juga bisa menjadi petualangan yang penuh makna sekaligus mempererat silaturahmi di sepanjang perjalanan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




