Waspada! 186 Bank AS Berisiko Gagal seperti Silicon Valley Bank
Senin, 20 Maret 2023 | 05:16 WIB
Jakarta, Beritasatu.com– Sebuah laporan baru menemukan bahwa 186 bank di Amerika Serikat (AS) berisiko gagal seperti Silicon Valley Bank (SVB) karena kenaikan suku bunga Federal Reserves (The Fed) dan tingginya proporsi simpanan yang tidak diasuransikan.
Penelitian yang diunggah di Social Science Research Network berjudul Monetary Tightening and US Bank Fragility in 2023: Mark-to-Market Losses and Uninsured Depositor Runs? memperkirakan hilangnya nilai pasar aset masing-masing bank selama tren kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dikutip Investor Daily, Minggu (19/3/2023), nilai aset seperti treasury notes dan pinjaman hipotek dapat menurun ketika obligasi baru memiliki bunga yang lebih tinggi.
Studi ini juga meneliti proporsi pendanaan bank yang berasal dari deposan yang tidak diasuransikan dengan rekening senilai lebih US$ 250.000.
Jika setengah dari deposan yang tidak diasuransikan itu seketika menarik dananya dari 186 bank tadi, bahkan deposan yang diasuransikan akan menghadapi penurunan nilai, karena bank tidak akan memiliki aset yang cukup. Kondisi ini akan memaksa Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) untuk turun tangan, menurut penelitian tersebut, seperti dilansir Business Today, Sabtu (18/3/2023).
Namun, penting untuk dicatat bahwa penelitian tersebut tidak mempertimbangkan lindung nilai, yang dapat melindungi banyak bank dari kenaikan suku bunga acuan.
"Bahkan jika hanya setengah dari deposan yang tidak diasuransikan menarik diri, hampir 190 bank memiliki potensi risiko penurunan nilai deposan yang diasuransikan, dengan potensi US$ 300 miliar simpanan yang diasuransikan dalam risiko," bunyi penelitian tersebut.
Kegagalan Silicon Valley Bank (SVB) adalah contoh risiko yang ditimbulkan oleh kenaikan suku bunga dan simpanan yang tidak diasuransikan. Aset bank kehilangan nilainya karena kenaikan suku bunga, dan nasabah yang khawatir menarik simpanan mereka yang tidak diasuransikan. Akibatnya, bank tersebut gagal memenuhi kewajibannya kepada deposan dan terpaksa ditutup.
Para ekonom yang melakukan studi tersebut memperingatkan bahwa 186 bank ini berisiko mengalami nasib serupa tanpa intervensi atau rekapitalisasi pemerintah. Studi itu menggarisbawahi pentingnya manajemen risiko yang berhati-hati dan diversifikasi sumber pendanaan bagi bank untuk memastikan stabilitas mereka dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




