ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Darmin: Target Defisit Transaksi Berjalan Sulit Dicapai

Kamis, 16 Oktober 2014 | 16:06 WIB
RS
FB
Penulis: Ridho Syukro | Editor: FMB
Mantan Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution
Mantan Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution (JG Photo)

Jakarta - Mantan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan agak berat bagi pemerintah baru untuk mencapai target defisit transaksi berjalan berada pada level di bawah 3 persen terhadap PDB.

Menurut dia ada 3 faktor yang mempengaruhinya, Pertama, pertumbuhan ekonomi domestik yang terus melambat, Kedua, kinerja ekspor Indonesia yang stagnan karena perekonomian Tiongkok melemah dan Ketiga, tingginya impor BBM.

Darmin menjelaskan permasalahan defisit transaksi berjalan sudah terjadi sejak 1980 namun defisit transaksi berjalan pada 1980-an terjaga dengan baik dan selalu berada pada level 1 persen terhadap PDB.

Pada tahun 1980 neraca perdagangan migas mengalami surplus sehingga mempengaruhi pergerakan defisit transaksi berjalan.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan pada tahun 1990, neraca transaksi berjalan kembali defisit tetapi defisitnya tetap terkendali, paling tinggi berada di atas 2 persen terhadap PDB karena neraca perdagangan non migas mengalami surplus.

Menurut dia, tingginya defisit transaksi berjalan hingga mencapai di atas 2 persen terhadap PDB baru terjadi di awal 2010 sampai saat ini.

Faktor penyebabnya adalah subsidi BBM yang terus meningkat dan kinerja ekspor yang terus melemah.

" Persoalan defisit transaksi berjalan harus segera diatasi dengan secepat mungkin oleh pemerintahan baru meskipun agak berat mencapai di bawah 3 persen," ujar dia ketika ditemui dalam acara " Bedah Tuntas Solusi Defisit Transaksi Berjalan, di Avara Lounge, EpiWalk, Jakarta, Kamis (16/10).

Darmin mengatakan ada 3 solusi yang bisa dilakukan pemerintahan baru untuk menurunkan defisit transaksi berjalan.

Pertama, mengendalikan subsidi BBM dengan cara menaikkan harga BBM. Menurut Darmin, kenaikan harga BBM tidak hanya menurunkan defisit transaksi berjalan tetapi juga menyehatkan ruang fiskal.

Darmin mengusulkan pemerintahan baru agar menaikkan harga BBM dengan kenaikan harganya 85 persen untuk 5 tahun ke depan.

Darmin mengatakan kenaikan harga BBM bisa menghemat anggaran belanja pemerintah, penghematan anggaran bisa digunakan untuk BPJS kesehatan, pembangunan infrastruktur dan pendidikan.

Cara kedua untuk menurunkan defisit transaksi berjalan adalah dengan meningkatkan penerimaan negara atau pajak.

Sedangkan cara ketiga untuk menurunkan defisit adalah dengan mengajak masyarakat gemar menabung karena dengan menabung sektor perbankan akan membaik.

Jika sektor pebankan membaik maka akan mempengaruhi neraca modal dan finansial.

" Neraca modal dan finansial merupakan komponen dari neraca transaksi berjalan," ujar dia

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Atma Jaya Prasetyantoko mengatakan sumber defisit transaksi berjalan yang paling utama berasal dari impor subsidi BBM dan impor barang modal.

Menurut dia agar defisit transaksi berjalan mengecil maka pemerintahan baru bisa mengendalikan subsidi BBM bisa dengan menaikkan harganya atau mencari sumber energi tambahan.

Dia mengatakan untuk mengatasi impor barang modal maka pemerintah baru bisa mendorong subtitusi impor.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon