ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Laba NICL Melejit 386 Persen Didukung Penjualan Nikel

Rabu, 23 Juli 2025 | 10:07 WIB
TD
AD
Penulis: Thresa Sandra Desfika | Editor: AD
PT PAM Mineral Tbk (NICL).
PT PAM Mineral Tbk (NICL). (Istimewa/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - PT PAM Mineral Tbk (NICL), perusahaan pertambangan yang berada di bawah kendali Christopher Sumasto Tjia, mencetak penjualan sebesar Rp 1,05 triliun pada semester I 2025. Angka ini melesat 152,07% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan Rp 419,19 miliar.

Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan signifikan volume penjualan nikel, dari 707.597 metrik ton menjadi 1,885 juta metrik ton, melonjak hingga 166,46%. Peningkatan volume dan efisiensi operasional berkontribusi besar terhadap lonjakan kinerja keuangan perseroan.

Laba kotor perusahaan tercatat naik drastis dari Rp 142,85 miliar menjadi Rp 523,46 miliar, mencerminkan lonjakan 266,43% secara tahunan. Marjin laba kotor juga naik tajam, dari 34,08% menjadi 49,54%.

ADVERTISEMENT

Seiring tren tersebut, laba usaha perseroan melesat 419,32% menjadi Rp 456,30 miliar, sementara laba bersih periode berjalan mencapai Rp 358,07 miliar naik tajam 386,51% dari semester I 2024 yang sebesar Rp 73,59 miliar.

“Sejak akhir 2024, harga acuan nikel domestik terkoreksi 3,80% mengikuti tren global dan normalisasi permintaan kendaraan listrik. Namun, kami sudah mengantisipasinya sejak awal tahun,” ujar Direktur Utama PAM Mineral, Ruddy Tjanaka, dalam keterangannya pada Senin (21/7/2025).

Ia menambahkan penurunan ini hanya fluktuasi jangka pendek dan perseroan akan tetap adaptif dalam menghadapi dinamika pasar.

Aset perseroan juga tumbuh menjadi Rp 1,09 triliun atau naik 4,73% dari Rp 1,05 triliun pada akhir 2024. Pada Juni 2025, jumlah liabilitas turun menjadi Rp 150,69 miliar dari Rp 171,92 miliar di Desember 2024. Perseroan juga bebas dari utang bank jangka panjang.

Ekuitas meningkat dari Rp 878,18 miliar menjadi Rp 949,13 miliar, didorong kenaikan signifikan pada saldo laba berjalan.

Perseroan memproyeksikan harga nikel akan tetap berfluktuasi di semester II 2025 akibat tekanan tarif dagang AS dan kelebihan pasokan global.

Namun, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai alternatif pasokan logam penting bagi negara-negara barat di tengah ketegangan dengan Tiongkok.

Dengan berkembangnya smelter berteknologi tinggi di dalam negeri, PAM Mineral melihat peluang untuk menyesuaikan produk ore sesuai kebutuhan pasar.

Perusahaan juga aktif memperluas jaringan pemasaran ke Pulau Obi dan Halmahera, serta membuka kerja sama dengan smelter dan trader untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon