Tarif Trump Turun, IMF Upgrade Pertumbuhan Ekonomi Global
Rabu, 30 Juli 2025 | 05:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dana Moneter Internasional (International Monetery Fund/IMF) meningkatkan prospek ekonomi untuk tahun 2025. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
Lembaga yang berbasis di Washington tersebut mengatakan bahwa "de-eskalasi tarif" oleh Gedung Putih mendorong pemulihan perdagangan global dan ekspansi ekonomi yang lebih luas, meskipun kebijakan AS masih sangat tidak pasti dan risiko terhadap pertumbuhan tetap menunjukan penurunan.
Kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, meningkatkan proyeksi pertumbuhan global pada 2025 menjadi 3% dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,8%. Prospek untuk tahun 2026 ditingkatkan dari 3% menjadi 3,1%.
Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves mengatakan prakiraan IMF menunjukkan bahwa Inggris tetap menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Eropa di G7. "Terlepas dari tantangan ekonomi global yang kita hadapi," ungkapnya seperti dilansir dari The Guardian.
Pada bulan April, Trump mengancam akan mengenakan tarif impor yang berat kepada eksportir barang terbesar dunia, termasuk Inggris, Uni Eropa, China, dan Korea Selatan, untuk melawan apa yang diyakini presiden AS sebagai persaingan tidak adil.
Pasar saham anjlok dan dolar AS melemah karena investor, yang khawatir dengan potensi dampaknya terhadap perdagangan dunia, membeli aset safe haven. AS kemudian menunda atau mengurangi tarif sebagai imbalan atas komitmen untuk membeli barang-barang buatan AS, membalikkan penurunan pasar.
Pada akhir pekan, Trump setuju untuk menaikkan tarif menjadi 15% untuk Eropa dari sebelumnya 30% pada impor barang Uni Eropa. Trump pun meminta imbalan konsesi dari Uni Eropa, termasuk pembelian minyak dan gas AS senilai hampir 600 miliar poundsterling.
Pada sisi lain, bank sentral di seluruh dunia berhasil mencapai ‘soft landing’ meskipun terjadi lonjakan inflasi baru-baru ini sangat bergantung pada independensi dan kredibilitas mereka yang diperoleh dengan susah payah.
Data perdagangan yang dirilis menunjukkan bahwa impor barang dari Inggris ke AS turun sebesar US$ 11,5 miliar (8,6 miliar poundsterling) menjadi US$ 264,2 miliar, setelah terjadi peningkatan impor awal tahun ini karena perusahaan-perusahaan berusaha menghindari tarif Trump.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




