Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci Indonesia Naik Kelas
Kamis, 5 Februari 2026 | 15:26 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai tren pertumbuhan ekonomi yang tetap positif menjadi peluang penting bagi Indonesia untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country).
AHY menegaskan, momentum bonus demografi harus dimanfaatkan secara optimal karena jendelanya terbatas. Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi prasyarat utama untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
“Tentunya kita berharap bisa terus mengejar pertumbuhan (ekonomi) yang tinggi, mengapa? Karena kita harus memanfaatkan jendela yang begitu terbatas menghadapi bonus demografi. Saya ulangi, kita berupaya untuk menjadikan bonus demografi sebagai modal besar kita untuk keluar dari yang sering disebut sebagai middle income trap atau jebakan kelas menengah, dan kita berharap bisa naik kelas menjadi negara yang berpendapatan tinggi pada saatnya nanti dan ini harus kita kejar melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” ujar AHY di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ia mengakui capaian tersebut bukan hal mudah, mengingat dinamika geopolitik global yang masih bergejolak. Ketegangan internasional hingga konflik bersenjata berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia, termasuk rantai pasok energi dan faktor-faktor fundamental yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut AHY, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan terus berupaya menjaga faktor-faktor penopang ekonomi agar tetap tumbuh positif. Faktor tersebut meliputi konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, serta kinerja ekspor yang diharapkan mampu mengimbangi tekanan dari impor.
“Semua faktor penopang ekonomi, baik konsumsi domestik, belanja pemerintah, investasi, maupun ekspor, harus terus dijaga agar pertumbuhan ekonomi kita tetap positif,” ujarnya.
Lebih lanjut, AHY menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dilihat secara parsial. Pertumbuhan yang dicapai harus berjalan seiring dengan pemerataan dan keadilan sosial, agar tidak meninggalkan kelompok masyarakat prasejahtera, termasuk mereka yang masih berada dalam kemiskinan ekstrem.
“Itulah mengapa Bapak Presiden Prabowo Subianto juga menekankan pertumbuhan tinggi tapi merata di seluruh Indonesia. Tidak boleh ada kawasan yang tertinggal, termasuk Indonesia bagian timur dan saudara-saudara kita di Papua,” kata AHY.
Ia menambahkan, kehadiran Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua dalam agenda tersebut menjadi penting untuk memastikan pemerintah terus mendengar prioritas kebutuhan daerah, khususnya terkait pembangunan infrastruktur.
Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11% secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).
Dari sisi pengeluaran, kontribusi kedua komponen tersebut secara kumulatif mencapai 82,65% terhadap total perekonomian nasional. Kinerja ini terutama didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat yang memicu kenaikan belanja makanan dan minuman, transportasi, serta komunikasi, di samping peningkatan investasi barang modal seperti mesin dan peralatan.
BPS juga mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp 13.580,5 triliun, sementara PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 23.821,1 triliun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




