Ekonom Ungkap Tantangan Kejar Target Ekonomi Tumbuh 6 Persen pada 2026
Selasa, 12 Mei 2026 | 17:34 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2026 dinilai masih memungkinkan untuk dicapai, meski menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan berbagai faktor, mulai dari percepatan belanja pemerintah hingga penguatan konsumsi dan investasi.
Menurut Josua, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I 2026 menjadi awal yang cukup positif. Namun, untuk mencapai target 6% sepanjang tahun, pertumbuhan ekonomi pada kuartal berikutnya harus mampu berada di atas level tersebut.
“Kalau kita melihat secara hitungan matematiknya saja, kuartal I memang menjadi awalan yang bagus, yakni 5,61%. Namun, untuk mencapai 6% secara keseluruhan tahun ini, artinya pada kuartal II, III, dan IV secara rata-rata pertumbuhan harus di atas 6%,” ujar Josua dalam acara Economic Review PIER, Selasa (12/5/2026).
Ia menilai kondisi global masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, perlambatan ekonomi dunia, hingga ketegangan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dinilai dapat menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Dengan kondisi kita melihat per hari ini saja tadi rupiah melemah, dan juga beberapa tantangan fundamental dan struktural yang pemerintah harus perlu jawab juga, tentunya ini PR berat sekali untuk mencapai 6% secara keseluruhan tahun ini," kata Josua.
Untuk itu, Josua menekankan pentingnya percepatan belanja pemerintah, terutama pada sektor yang memiliki efek berganda besar terhadap perekonomian masyarakat. Selain itu, daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah, juga perlu dijaga agar konsumsi domestik tetap kuat.
Ia menyoroti penurunan jumlah kelas menengah dalam periode 2019 hingga 2024 sebagai tantangan serius yang harus segera direspons pemerintah. Kondisi tersebut juga diperparah oleh dominasi sektor informal di pasar tenaga kerja nasional.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi dinilai menjadi faktor penting penopang pertumbuhan ekonomi. Pemerintah diminta terus memperbaiki iklim investasi dan menyelesaikan berbagai hambatan teknis di lapangan, termasuk melalui satgas debottlenecking.
Pada sisi eksternal, perlambatan ekonomi global turut menjadi perhatian. Pertumbuhan ekonomi China yang diperkirakan berada di bawah 5% serta perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) berpotensi menekan permintaan ekspor produk Indonesia.
Namun, Josua menilai target pertumbuhan ekonomi 6% tetap penting sebagai bentuk optimisme pemerintah dalam menjaga kepercayaan dunia usaha dan investor.
“Target pertumbuhan 6% dari Pak Menkeu Purbaya dapat dipahami sebagai sinyal optimisme. Itu penting untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor,” jelasnya.
Secara keseluruhan, Bank Permata memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,1% hingga 5,3%. Permintaan domestik diperkirakan masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar 5,4%.
Josua menambahkan, risiko eksternal, seperti perang dagang global, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi Tiongkok tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan kinerja ekspor Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas makroekonomi.
“Pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, dan menjaga kredibilitas APBN. Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sementara dunia usaha perlu menjaga efisiensi tanpa mengorbankan tenaga kerja secara berlebihan,” tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




