Agustus, Deflasi 0,02%
Desember, Suku Bunga Kredit Single Digit
Jumat, 2 September 2016 | 00:01 WIB
JAKARTA -- Perbankan optimistis suku bunga kredit menurun hingga single digit Desember nanti, didukung terkendalinya inflasi tahun ini dan dipangkasnya suku bunga acuan Bank Indonesia. Terjadinya deflasi pada bulan lalu 0,02% membuat inflasi Januari-Agustus 2016 hanya sebesar 1,74%, sehingga inflasi tahun ini diperkirakan bisa 3%.
Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung
mengatakan, meski suku bunga acuan BI sudah diturunkan ke level 5,25%, ruang pelonggaran moneter masih terbuka seiring inflasi yang terjaga dan indikator makro lainnya cukup stabil. Bank sentral memberlakukan BI 7-day (reverse) repo rate sebagai suku bunga acuan baru per 19 Agustus lalu, menggantikan BI rate.
"Ruang pelonggaran moneter masih terbuka dengan tetap mempertimbangkan timing yang tepat, dengan melihat perkembangan bulan ke bulan. Ruang penurunan suku bunga kredit juga masih terbuka, seiring suku bunga dana yang sudah turun lebih besar dibandingkan penurunan yang sudah terjadi pada suku bunga kredit," kata Juda di Jakarta, Kamis (1/9).
Penurunan bunga kredit akan meringankan beban dunia usaha dan selanjutnya bisa mendorong pertumbuhan kredit ke depan. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan, pertumbuhan kredit pada Agustus 2016 sudah mulai naik ke level 8-9% secara year on year (yoy), dari 7,7% pada Juli lalu.
"Berdasarkan rencana bisnis bank (RBB) yang masuk, pertumbuhan kredit bank tahun ini ditargetkan tumbuh 11%. Kami akan melihat juga perkembangan pada September ini, seberapa besar dana amnesti pajak bisa mendorong pertumbuhan kredit," ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (1/9).
Deputi Direktur Pengembangan dan Pengawasan Manajemen Krisis OJK Aslan Lubis mengatakan sebelumnya, meski merevisi perkiraan pertumbuhan kredit tahun ini dari semula 12-14%, namun pihaknya optimistis kredit masih bisa tumbuh 10-12%.
Sementara itu, BI mengumumkan sebelumnya, penyaluran kredit perbankan per Juli 2016 hanya tumbuh 7,7% (yoy), kembali melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 8,2% (yoy). Hingga akhir tahun ini, BI memproyeksikan kredit tumbuh 7-9%.
Bunga Kredit Korporasi
Terkait perkembangan suku bunga kredit, Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, rata-rata suku bunga kredit segmen korporasi kini sudah berada pada level satu digit. Secara umum, suku bunga kredit terus menunjukkan tren penurunan.
"Rata-rata industri, untuk bunga kredit korporasi sudah berada pada level satu digit, terutama pada bank-bank besar. Dari seluruh segmen kredit, kredit korporasi paling cepat mencapai rata-rata bunga kredit satu digit," ujar Nelson kepada Investor Daily, Kamis (1/9).
Nelson mengakui, suku bunga kredit memang turun lebih lambat karena jatuh tempo kredit lebih lama dibandingkan dengan simpanan deposito. Namun demikian, setelah bunga kredit korporasi turun, lanjut dia, OJK berharap rata-rata bunga kredit pada segmen ritel dan kecil segera menyusul turun ke level satu digit. "Yang jelas, untuk kredit baru bunganya sudah turun," imbuhnya.
Berdasarkan data OJK, hingga Juni 2016, rata-rata suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan pada seluruh segmen menurun dibandingkan posisi akhir tahun lalu. Rata-rata SBDK segmen korporasi misalnya, turun 66 bps dari 11,8% menjadi 11,14%. Sedangkan SBDK ritel turun 81 bps dari 12,76% menjadi 11,95%, SBDK usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turun 101 bps dari 15,33% menjadi 14,32%, SBDK kredit perumahan rakyat (KPR) turun 65 bps dari 12,18% menjadi 11,53%, dan SBDK kredit konsumsi non-KPR turun 69 bps dari 13,34% menjadi 12,65%.
Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rohan Hafas mengatakan, adanya amnesti pajak akan meningkatkan likuiditas perbankan dan selanjutnya turut mendorong penurunan suku bunga simpanan. Penurunan suku bunga simpanan akhirnya akan menurunkan suku bunga pinjaman.
Terjadinya deflasi pada Agustus 2016, lanjut Rohan, bisa lebih memacu penurunan suku bunga simpanan dan pinjaman. "Kami melihat ada potensi penurunan lebih cepat suku bunga simpanan dan kredit dengan adanya penurunan tingkat inflasi Januari-Agustus lalu. Saat ini, suku bunga pinjaman sudah banyak yang berada di bawah 10%. Oleh karena itu, sampai akhir tahun 2016, kami optimistis bisa mendukung target pemerintah untuk menuju suku bunga pinjaman single digit," papar dia di Jakarta, Kamis (1/9).
Dengan lebih banyaknya likuiditas tersedia dan suku bunga kredit yang menurun, menurut Rohan, pertumbuhan kredit akan terpacu naik. "Untuk kredit di segmen korporasi, Bank Mandiri akan memacu pertumbuhannya menjadi 15% dan untuk segmen mikro 28%. Sedangkan pertumbuhan kredit di segmen komersial sedikit direm, sehingga total pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini diperkirakan berkisar 9-10%," imbuhnya.
Undisbursed Loan Mulai Turun
Sementara itu, berdasarkan data OJK, fasilitas kredit kepada nasabah yang belum dicairkan (undisbursed loan) perbankan sebesar Rp 1.242 triliun hingga April 2016 atau naik 6,6% dibandingkan bulan sama tahun lalu. Namun demikian, pada Juni lalu, undisbursed loan menurun menjadi Rp 1.222 triliun seiring dengan pencairan belanja infrastruktur pemerintah yang meningkat.
Nelson mengatakan sebelumnya, jumlah undisbursed loan tersebut akan semakin terkikis seiring dengan meningkatnya penyerapan kredit sektor riil secara keseluruhan ke depan. Optimisme ini juga didukung dengan telah membaiknya kondisi makro ekonomi.
Inflasi Turun
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus lalu terjadi deflasi 0,02%. Untuk tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2016 sebesar 1,74% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2016 terhadap Agustus 2015)
sebesar 2,79%.
Sedangkan inflasi komponen inti pada Agustus 2016 mencapai 0,36%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender 2016 sebesar 2,24% dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun sebesar 3,32%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menyatakan, hingga akhir tahun ini, inflasi akan berada di bawah 4%. "Ini akan dipengaruhi beberapa faktor. Inflasi di bawah 4% bisa dicapai jika sejak sekarang pemerintah mengantisipasi penyediaan transportasi liburan Natal dan Tahun Baru yang memadai, agar tarif tidak naik signifikan. Pemerintah juga perlu memastikan penyediaan bahan pokok yang cukup di periode paceklik nanti, agar harga pangan tidak naik signifikan," kata dia di Jakarta, Kamis (1/9).
Sasmito mengatakan, pada Agustus lalu terjadi deflasi karena penurunan harga yang berasal dari kelompok utama bahan makanan, serta kelompok transportasi, telekomunikasi, dan jasa keuangan. Bahan makanan mencatatkan deflasi 0,68% dan kelompok transportasi, telekomunikasi, dan jasa keuangan deflasi 1,02%.
Sedangkan kelompok yang mengalami inflasi adalah makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,41%. Berikutnya, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi 0,41%. Adapun inflasi kelompok sandang 0,40% dan kesehatan 0,39%. Terakhir, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga menyumbang 1,18%.
Dari 82 kota yang disurvei, Indeks Harga Konsumen (IHK) 49 kota mengalami deflasi dan 33 kota inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kupang 0,87% karena turunnya tarif angkutan udara. Adapun deflasi terendah di Cilegon 0,01%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Manokwari dan Sorong 1,27% dan inflasi terendah di Jakarta serta Kendari 0,01%.
Juda Agung menilai, rendahnya inflasi pada Agustus 2016 akibat pengaruh seasonal. Sedangkan sampai akhir 2016, dia memprediksi inflasi akan berada di kisaran bawah yakni 3-4%.
"Terkait dengan pengaruh terhadap suku bunga acuan BI, kami terlebih dahulu harus mencermati pergerakan suku bunga The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat). Kami memperkirakan, suku bunga The Fed akan naik satu kali lagi di kisaran September hingga Desember nanti," imbuhnya.
Sedangkan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira berpendapat, BI harus mulai memikirkan untuk mengambil langkah tambahan agar kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan bisa efektif.
"BI memang sudah bekerja keras. BI rate yang kini digantikan BI 7-day (reverse) repo rate telah turun hingga 100 basis poin, tapi suku bunga kredit tidak mengalami penurunan signifikan. Kebijakan moneter mulai tidak mencukupi dan perlu ada kebijakan lain," ujar dia saat dihubungi Investor Daily, Kamis (1/9) malam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




