Ini Tantangan dan Peluang Tarik Investasi di 2021
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 502.788 (4.65)   |   COMPOSITE 6122.88 (45.91)   |   DBX 1370.08 (6.4)   |   I-GRADE 175.932 (2.01)   |   IDX30 492.65 (5.36)   |   IDX80 132.743 (1.46)   |   IDXBUMN20 383.43 (5.77)   |   IDXESGL 136.189 (1.17)   |   IDXG30 136.661 (1.31)   |   IDXHIDIV20 439.142 (4.16)   |   IDXQ30 142.658 (1.28)   |   IDXSMC-COM 284.07 (1.29)   |   IDXSMC-LIQ 340.315 (4.03)   |   IDXV30 130.843 (1.67)   |   INFOBANK15 1002.8 (10.83)   |   Investor33 425.077 (4.4)   |   ISSI 180.015 (1.37)   |   JII 610.57 (6.12)   |   JII70 214.597 (2.04)   |   KOMPAS100 1179.92 (12.31)   |   LQ45 924.668 (10.2)   |   MBX 1646.91 (13.21)   |   MNC36 314.484 (3.35)   |   PEFINDO25 314.75 (0.73)   |   SMInfra18 301.265 (1.98)   |   SRI-KEHATI 359.316 (3.43)   |  

Ini Tantangan dan Peluang Tarik Investasi di 2021

Selasa, 26 Januari 2021 | 20:41 WIB
Oleh : Triyan Pangastuti / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan investasi pada 2021 sebesar Rp 900 triliun atau tumbuh 4,8% dari realisasi investasi yang dicantumkan dalam sasaran strategi dan indikator kinerja rencana strategis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar Rp 858,5 triliun.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan peningkatan investasi akan terdorong secara natural seiring dengan penguatan tren normalisasi ekonomi nasional. “Tantangan terbesar kita saat ini adalah mengendalikan pandemi secepatnya agar kita bisa lebih cepat normalisasi, menggenjot kinerja, membuka lapangan kerja dan kembali meningkatkan daya beli dan mengembalikan confidence konsumsi masyarakat,”tutur Shinta kepada Investor Daily, Senin (26/1/2021) malam.

Ia mengatakan tanpa pengendalian pandemi dan normalisasi, akan sangat sulit bagi pelaku usaha untuk mempertahankan eksistensi usaha karena modal akan terus terkikis oleh biaya operasi yang lebih besar daripada revenue-nya.

Apalagi Shinta menghitung bahwa biaya operasi akan semakin berat dibandingkan tahun lalu disebabkan beberapa faktor yakni kenaikan upah di beberapa wilayah, subsidi perusahaan untuk kesehatan atau kesejahteraan karyawan terkait Covid-19 seperti tes Covid-19, disinfeksi ruang kerja, pemberian vitamin, atau vaksinasi mandiri, jatuh tempo pembaruan sewa, pengurangan subsidi pemerintah untuk korporasi.

Kedua, determinan utama pada investasi adalah ekosistem usaha yang efisien dan mudah diprediksi (certainty). “Karena itu tantangan kedua terbesar adalah segera merampungkan aturan pelaksana UU Cipta Kerja secara konsisten, reasonable dan prudent atau tidak membebani pelaku usaha dan calon investor secara berlebihan,” jelas Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional ini.

Shinta menilai jika aturan pelaksana dari UU Cipta Kerja tidak konsisten maka tren investasi ini tidak akan bertahan lama. Sebab beban usaha formal akan menjadi terlalu berat bagi pelaku usaha atau investor baru yang umumnya adalah pelaku usaha usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang selama ini beroperasi secara informal.

“Kondisi ini juga tidak baik untuk menarik investasi asing langsung (foreign direst investment/FDI) yang akan menjadi pendorong besar untuk peningkatan produktifitas ekspor, akselerasi adopsi teknologi & integrasi Indonesia ke dalam global supply chain karena UU Cipta Kerjatidak akan menghasilkan hal tersebut tanpa implementasi peraturan yang konsisten di lapangan,”pungkasnya.

Ketiga, perlu reformasi struktural yang berkelanjutan di berbagai sektor dan aspek usaha yang belum di-cover oleh UU Cipta kerja, misalnya efisiensi supply chain dan logistik dalam negeri, efisiensi biaya energi di dalam negeri.

Selanjutnya pemerintah perlu membenahi mismatch produktivitas dan domestic supply chain, masalah keterbatasan skilled workers, masalah produktivitas dan skills mismatch pekerja.

Sementara itu terkait penciptaan nilai tambah dari hilirasi investasi, pemerintah juga perlu meningkatkan komponen jasa yang diintegrasikan ke sektor ekonomi lain sebagai nilai tambah bagi produk atau output sektor ekonomi.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Mendag Sebut Surplus Neraca Dagang 2020 Mengkhawatirkan, Kenapa?

Surplus ini dihasilkan oleh kinerja ekspor yang mencapai US$ 163,31 miliar dan impor US$ 141,57 miliar.

EKONOMI | 26 Januari 2021

Kisah Mitra Grab yang Buktikan Digitalisasi Tak Pandang Usia

Pedagang pasar dan mitra GrabMart Rosdiana Nainggalan membuktikan bahwa digitalisasi tidak pandang usia.

EKONOMI | 26 Januari 2021

Kemhub Terbitkan Surat Edaran soal GeNose Bisa Jadi Syarat Penumpang KA

Pengecekan kesehatan melalui GeNose pada moda kereta api akan dimulai pada 5 Februari 2020 yang akan dimulai di Jakarta dan Yogyakarta.

EKONOMI | 26 Januari 2021

Gandeng Bareksa, OVO Luncurkan Produk Reksa Dana Pasar Uang

Peluncuran fitur 'Invest’ bagian komitmen OVO membuka akses yang terjangkau, terpercaya, dan nyaman dalam pengelolaan investasi.

EKONOMI | 26 Januari 2021

Properti Mulai Bergairah, Pencari Rumah yang Tunda Transaksi Berkurang

Situasi pandemi Covid-19 yang mengakibatkan banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi kekhawatiran utama karyawan untuk mengambil KPR.

EKONOMI | 26 Januari 2021

ANTM dan BBKP Saham yang Paling Banyak Diburu Investor

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan frekuensi 119.493 kali.

EKONOMI | 26 Januari 2021

642 Cabang Pegadaian Raih Label SIBV Safe Guard

Label SIBV Safe Guard mengacu pada praktik global yang telah direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

EKONOMI | 26 Januari 2021

Penerapan ESG yang Baik Pacu Kenaikan Harga Saham Emiten

Jumlah reksa dana dan Exchange Traded Fund (ETF) mengalami peningkatan luar biasa dalam 6 tahun terakhir ini.

EKONOMI | 26 Januari 2021

Rupiah Ditutup Terkoreksi Jadi Rp 14.065 Per Dolar AS

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.052- Rp 14.081 per dolar AS.

EKONOMI | 26 Januari 2021

Sepanjang Tahun 2020, Investasi Manufaktur Bergeliat Posetif

Sepanjang tahun 2020, investasi manufaktur mampu menunjukkan geliat positif, meskipun di tengah terpaan yang cukup berat akibat pandemi Covid-19.

EKONOMI | 26 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS