Laba Bersih Tergerus, Pakuwon Jati Absen Bagikan Dividen
Senin, 12 Juli 2021 | 14:19 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) pada tahun ini absen membagikan dividen untuk laba tahun buku 2020. Perseroan akhir tahun lalu membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 1,11 triliun.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Pakuwon Jati, Minarto Basuki, mengatakan laba bersih untuk tahun buku 2020 akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan agar dapat mendukung kegiatan perseroan yang berkelanjutan, sehingga tidak ada dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
"Perseroan juga menyisihkan dana sebesar Rp 1 miliar sebagai dana cadangan. Adapun sisa laba bersih tersebut akan dimasukan sebagai laba yang ditahan," ujar Minarto dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin (12/7/2021).
Keputusan tersebut sehubungan dengan kondisi pandemi yang masih belum stabil dan berdampak pada keuangan perseroan, sehingga pihaknya perlu untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan tersebut.
Minarto menyampaikan, perseroan masih perlu melakukan pembiayaan untuk konstruksi dan proyek-proyek yang masih berjalan. Selain itu, perseroan juga mempunyai rencana untuk pengembangan dan belanja tanah, pengembangan klaster baru untuk landed property dan pengembangan untuk proyek mixed use development.
Sementara dari sisi kinerja, perseroan mengharapkan target laba pada tahun 2021 mengalami pertumbuhan 30%-40% dari tahun 2020. Perseroan pun juga mengharapkan pandemi Covid-19 dapat ditangani dengan baik sehingga semua dapat kembali berjalan normal dan pertumbuhan dapat berjalan sesuai target. "Di tengah pandemi ini, perseroan tetap fokus pada keseimbangan antara recuiring profit dan development profit," ujar Minarto.
Sebelumnya, Pakuwon Jati membukukan marketing sales sebanyak Rp 427 miliar selama kuartal I-2021, realisasi ini meningkat 17% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Minarto menjelaskan, pertumbuhan ini merupakan kontribusi oleh penerapan tingkat suku bunga yang rendah dan fasilitas insentif PPN oleh pemerintah, hal ini terbukti mampu mendorong kenaikan marketing sales perseroan.
"Nilai marketing sales tersebut ekuivalen dengan 30,5% dari target perseroan untuk tahun 2021 sebesar Rp 1,4 triliun," jelasnya.
Sedangkan untuk pencapaian selama tahun 2020, perseroan mengalami penurunan pendapatan bersih sebanyak 44,86% menjadi Rp 3,97 triliun, dari tahun sebelumnya 7,20 triliun. Sebagian besar penurunan ini dikontribusi oleh berkurangnya pendapatan dari segmen development revenue.
Secara rinci, pendapatan ini berasal dari recurring income yakni sebesar Rp 2,30 triliun atau setara 58% recurring revenue. Jumlah itu menurun 37,7% dari sebelumnya mampun berkontribusi hingga Rp 3,69 triliun. Sedangkan sisanya yakni 42% disumbang oleh development revenue yang berjumlah Rp 1,67 triliun, juga turun 52,2% dari Rp 3,50 triliun.
"Menurunnya segmen development revenue disebabkan oleh penerapan pengakuan penjualan sesuai PSAK 72 yang mulai diberlakukan sejak 2020, dimana pengakuan penjualan berdasarkan handover (penyerahan unit) tidak lagi berdasarkan percentage of completion," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




