Peternak Enggan ke Rumah Potong, Daging Sapi Mahal
Senin, 26 November 2012 | 16:32 WIB
Sikap peternak itu mengakibatkan pasokan daging sapi ke pasar untuk konsumen menjadi sangat terbatas
BANDUNG Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan meminta peternak tidak menahan sapi di kandang untuk tujuan menaikkan harga jual.
“Apakah ini cara peternak supaya harga naik? Penumpukan barang tidak boleh,” kata Heryawan di Bandung, Senin (26/11).
Sikap peternak itu mengakibatkan pasokan daging sapi ke pasar untuk konsumen menjadi sangat terbatas dan mahal harganya.
“Kita lihat sehari dua hari ini, kita koordinasikan. Di sisi mana persoalan, kalau berlebihan dan ditahan, kita harus ada dorongan agar mereka mau menjual sapinya,” ujar Heryawan.
Harga daging sapi saat ini di beberapa pasar besar Kota Bandung mencapai Rp90 ribu per kilogram. Harga ini diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun. Normalnya harga jual daging sapi adalah Rp75 ribu per kilogram.
Pemerintah tidak bisa memaksa peternak untuk memotong sapi ke rumah jagal. Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat, Koesmayadie Tatang Padmadinata memperkirakan, kondisi itu akibat mekanisme pasar. Peternak tidak mau memotong sapinya karena merasa harga jualnya terlalu rendah.
Padahal, Dinas Peternakan Jawa Barat mencatat tidak ada penurunan pengiriman sapi dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masuk ke wilayah Jawa Barat.
Data dari dua check point di Losari dan Banjar memperlihatkan pengiriman sapi antara tanggal 11-24 November 2012 mencapai 14.741 ekor.
“Dari jumlah itu sebanyak 3 ribu ekor dikirim ke wilayah DKI Jakarta dan Banten. Sedangkan sisanya masih ada di Jawa Barat. Belum lagi persediaan sapi dari peternak lokal, jadi tidak ada yang namanya kelangkaan sapi. Yang ada, peternak memilih tidak memotong sapinya,” ujar Koesmayadie sembari menambahkan stok sapi yang ada mencukupi untuk kebutuhan hingga akhir tahun.
Kebutuhan sapi potong untuk wilayah Jawa Barat mencapai 500 ribu ekor per tahun. Sedangkan populasi sapi potong di Jawa Barat hanya sekitar 422 ribu ekor per tahun. Untuk memenuhi kekurangan tersebut, sekitar 50 persen sapi potong dipasok dari wilayah Jawa Timur, 30 persen dari Jawa Tengah, dan sisanya dari daerah lain.
Permintaan paling tinggi di Jawa Barat datang dari industri pengolahan makanan. Baik itu dari skala usaha kecil hingga industri besar.
“Sekitar 80 persen kebutuhan sapi potong itu untuk memenuhi industri tersebut,” kata Koesmayadie.
Berkurangnya pasokan sapi ke rumah potong ini diakui oleh Lala Maulana, peternak yang menggemukkan sapi di Majalaya, Kabupaten Bandung.
“Sapinya ada, tapi harga belinya tinggi. Pedagang juga belum mau potong daripada rugi,” ujarnya.
Lala memaparkan, selepas Hari Raya Idul Adha, harga sapi yang biasa dia beli di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah mengalami kenaikan. Dia membeli sapi hidup dengan harga antara Rp31 ribu-Rp32 ribu per kilogramnya.
“Sedangkan harga jualnya sekarang hanya Rp35 ribu per kilogram. Itu tipis sekali untungnya,” imbuh Lala.
Dia membandingkan kondisi itu dengan harga beli sapi selepas Idul Adha pada tahun 2011 lalu. Posisi harga beli sapi kala itu antara Rp23 ribu-Rp24 ribu per kilogramnya.
“Saya masih bisa juga dengan harga Rp35 ribu per kilogram, itu lumayan untungnya,” ungkap Lala.
Karena kondisi harga yang kurang menguntungkan, Lala memilih untuk menjual sapinya dalam kondisi hidup ke pedagang yang datang dari Jakarta.
“Buat apa susah-susah ke rumah potong hewan yang untungnya juga sedikit,” kata peternak yang saat ini masih memiliki stok 50 ekor sapi.
Untuk mengantisipasinya, Koesmayadie mengimbau agar masyarakat mengganti kebutuhan protein hewani ke daging ayam. Menurut dia, cara itu akan efektif untuk menurunkan harga daging sapi. Pada saat bersamaan, peternak atau penggemuk sapi juga tidak akan menahan sapinya terus menerus di kandang. “Karena ada biaya pemeliharaan juga,” ujar Koesmayadie.
BANDUNG Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan meminta peternak tidak menahan sapi di kandang untuk tujuan menaikkan harga jual.
“Apakah ini cara peternak supaya harga naik? Penumpukan barang tidak boleh,” kata Heryawan di Bandung, Senin (26/11).
Sikap peternak itu mengakibatkan pasokan daging sapi ke pasar untuk konsumen menjadi sangat terbatas dan mahal harganya.
“Kita lihat sehari dua hari ini, kita koordinasikan. Di sisi mana persoalan, kalau berlebihan dan ditahan, kita harus ada dorongan agar mereka mau menjual sapinya,” ujar Heryawan.
Harga daging sapi saat ini di beberapa pasar besar Kota Bandung mencapai Rp90 ribu per kilogram. Harga ini diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun. Normalnya harga jual daging sapi adalah Rp75 ribu per kilogram.
Pemerintah tidak bisa memaksa peternak untuk memotong sapi ke rumah jagal. Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat, Koesmayadie Tatang Padmadinata memperkirakan, kondisi itu akibat mekanisme pasar. Peternak tidak mau memotong sapinya karena merasa harga jualnya terlalu rendah.
Padahal, Dinas Peternakan Jawa Barat mencatat tidak ada penurunan pengiriman sapi dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masuk ke wilayah Jawa Barat.
Data dari dua check point di Losari dan Banjar memperlihatkan pengiriman sapi antara tanggal 11-24 November 2012 mencapai 14.741 ekor.
“Dari jumlah itu sebanyak 3 ribu ekor dikirim ke wilayah DKI Jakarta dan Banten. Sedangkan sisanya masih ada di Jawa Barat. Belum lagi persediaan sapi dari peternak lokal, jadi tidak ada yang namanya kelangkaan sapi. Yang ada, peternak memilih tidak memotong sapinya,” ujar Koesmayadie sembari menambahkan stok sapi yang ada mencukupi untuk kebutuhan hingga akhir tahun.
Kebutuhan sapi potong untuk wilayah Jawa Barat mencapai 500 ribu ekor per tahun. Sedangkan populasi sapi potong di Jawa Barat hanya sekitar 422 ribu ekor per tahun. Untuk memenuhi kekurangan tersebut, sekitar 50 persen sapi potong dipasok dari wilayah Jawa Timur, 30 persen dari Jawa Tengah, dan sisanya dari daerah lain.
Permintaan paling tinggi di Jawa Barat datang dari industri pengolahan makanan. Baik itu dari skala usaha kecil hingga industri besar.
“Sekitar 80 persen kebutuhan sapi potong itu untuk memenuhi industri tersebut,” kata Koesmayadie.
Berkurangnya pasokan sapi ke rumah potong ini diakui oleh Lala Maulana, peternak yang menggemukkan sapi di Majalaya, Kabupaten Bandung.
“Sapinya ada, tapi harga belinya tinggi. Pedagang juga belum mau potong daripada rugi,” ujarnya.
Lala memaparkan, selepas Hari Raya Idul Adha, harga sapi yang biasa dia beli di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah mengalami kenaikan. Dia membeli sapi hidup dengan harga antara Rp31 ribu-Rp32 ribu per kilogramnya.
“Sedangkan harga jualnya sekarang hanya Rp35 ribu per kilogram. Itu tipis sekali untungnya,” imbuh Lala.
Dia membandingkan kondisi itu dengan harga beli sapi selepas Idul Adha pada tahun 2011 lalu. Posisi harga beli sapi kala itu antara Rp23 ribu-Rp24 ribu per kilogramnya.
“Saya masih bisa juga dengan harga Rp35 ribu per kilogram, itu lumayan untungnya,” ungkap Lala.
Karena kondisi harga yang kurang menguntungkan, Lala memilih untuk menjual sapinya dalam kondisi hidup ke pedagang yang datang dari Jakarta.
“Buat apa susah-susah ke rumah potong hewan yang untungnya juga sedikit,” kata peternak yang saat ini masih memiliki stok 50 ekor sapi.
Untuk mengantisipasinya, Koesmayadie mengimbau agar masyarakat mengganti kebutuhan protein hewani ke daging ayam. Menurut dia, cara itu akan efektif untuk menurunkan harga daging sapi. Pada saat bersamaan, peternak atau penggemuk sapi juga tidak akan menahan sapinya terus menerus di kandang. “Karena ada biaya pemeliharaan juga,” ujar Koesmayadie.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




