Komandan Iran Tewas Diserang Israel, Warga Berduka Massal
Sabtu, 28 Juni 2025 | 18:07 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Kota Teheran dipenuhi duka dan kemarahan. Ratusan ribu warga Iran memadati jalan-jalan ibu kota pada Sabtu (28/6/2025) dalam prosesi pemakaman massal untuk sejumlah tokoh penting militer dan nuklir Iran yang tewas dalam serangan Israel selama konflik 12 hari.
Di antara mereka yang dimakamkan adalah Kepala Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami dan Kepala Program Rudal Balistik Iran Jenderal Amir Ali Hajizadeh.
Kedua tokoh ini gugur dalam hari pertama perang, yakni pada Jumat (13/6/2025) ketika Israel melancarkan serangan mendadak yang bertujuan menghancurkan infrastruktur militer dan program nuklir Iran.
Prosesi pemakaman berlangsung di sepanjang Jalan Azadi sejauh 4,5 kilometer. Peti-peti jenazah para komandan diangkut menggunakan truk terbuka diiringi lautan pelayat yang meneriakkan seruan seperti, “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel.”
Media pemerintah mengeklaim lebih dari 1 juta warga hadir dalam prosesi tersebut. Meski angka itu belum bisa diverifikasi secara independen, siaran televisi menunjukkan lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan utama kota.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak terlihat dalam siaran resmi. Biasanya, Khamenei akan melakukan doa pribadi di atas peti jenazah para komandan sebelum prosesi publik dimulai.
Ketidakhadirannya kembali memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatannya, terlebih ia baru muncul lewat video pada Kamis (26/6/2025) setelah lama absen dari publik.
Sejumlah pejabat tinggi Iran hadir dalam prosesi tersebut, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Kepala Pasukan Quds Jenderal Esmail Qaani. Tampak pula Jenderal Ali Shamkhani, penasihat senior Khamenei, yang terluka dalam serangan awal dan hadir dengan bantuan tongkat.
Komandan Iran yang tewas diserang Israel tidak hanya terbatas pada Salami dan Hajizadeh. Menurut laporan televisi pemerintah, pemakaman juga mencakup ilmuwan nuklir dan pejabat penting lain yang tewas selama konflik, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat Iran, Jenderal Mohammad Bagheri.
Ia akan dimakamkan di kompleks pemakaman Behesht-e-Zahra, berdampingan dengan saudaranya yang gugur dalam perang Iran-Irak tahun 1980-an.
Serangan Israel selama 2 minggu tersebut diklaim telah menewaskan sedikitnya 30 komandan Garda dan 11 ilmuwan nuklir.
Selain itu, delapan fasilitas nuklir dan lebih dari 720 situs militer diserang. Data dari kelompok aktivis hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di Washington menyebut lebih dari 1.000 orang tewas, termasuk 417 warga sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan lebih dari 550 rudal balistik ke wilayah Israel. Meskipun sebagian besar dicegat, beberapa rudal berhasil mengenai sasaran dan menewaskan 28 orang serta merusak infrastruktur.
Prosesi hari Sabtu (28/6/2025) menjadi pemakaman umum pertama pascagencatan senjata yang diberlakukan pada Selasa (24/6/2025), yang disponsori oleh Amerika Serikat (AS). Pemerintah Iran bahkan menutup kantor-kantor pemerintah agar para pegawai negeri bisa turut menghadiri pemakaman.
Suasana di jalan-jalan Teheran tidak hanya dipenuhi duka, tapi juga semangat perlawanan.
“Ini bukan gencatan senjata, ini hanya jeda,” ujar Ahmad Mousapoor, warga berusia 43 tahun yang mengibarkan bendera Iran.
“Kami pasti akan membalas mereka," tambahnya menegaskan.
Laporan terbaru dari kantor berita Mizan juga mengonfirmasi kematian Ali Ghanaatkar, jaksa penjara Evin yang terkenal dan kontroversial, akibat serangan Israel.
Ghanaatkar dikenal luas atas dakwaan-dakwaannya terhadap pembangkang dan aktivis HAM. Ia akan dimakamkan di kota suci Qom.
Meskipun Iran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, Israel melihatnya sebagai ancaman eksistensial.
Oleh karena itu, Tel Aviv menyebut serangan militer yang diluncurkannya sebagai tindakan preventif untuk mencegah Iran mencapai kemampuan senjata nuklir.
Sementara itu, dalam pesan videonya pada Kamis (26/6/2025) lalu, Khamenei menolak klaim keberhasilan AS dalam menghancurkan situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Ia menyebut serangan itu “tidak signifikan” dan menyatakan bahwa Iran telah “menghajar balik” Amerika dan Israel, dengan menyatakan kemenangan moral dalam perang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Prabowo Sambut 3 Jenazah Prajurit TNI di Bandara Soekarno-Hatta




