Gaya Memerintah bak Pedagang Trump Jadi Ancaman Ekonomi Indonesia
Sabtu, 12 Juli 2025 | 12:14 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Presiden AS Donald Trump dinilai memerintah bukan seperti negarawan, melainkan lebih menyerupai seorang pedagang berisiko tinggi di pasar yang kacau.
“Pendekatannya dikenal sebagai teori orang gila (madman theory), mengandalkan ketidakpastian untuk memaksakan hasil yang diinginkan. Namun, ketika kekacauan menjadi gaya utama dalam kepemimpinan, dunia tidak lagi takut, melainkan bingung, waspada, bahkan lumpuh,” ungkap peneliti dari Hubungan Internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ara Trista Larasati
Dalam tulisannya berjudul “Donald Trump: The Madman Theory in Practice” Ara Trista yang kini sedang menempuh pendidikan Magister Manajemen Bisnis Global di Monash University secara detail menggambarkan gaya Trump memimpin AS.
“Kebijakan tanpa prosedur didasari insting, media dosial, dan telepon mendadak. Pada tahun 2025, banyak negara dari Jakarta hingga Brussel mengalami kejutan akibat kebijakan sepihak Amerika Serikat, yaitu tarif impor tiba-tiba yang melambung tinggi,” katanya.
Ara menggambarkan pendekatan Trump dalam pengambilan kebijakan seperti:
- Panggilan telepon tak terjadwal dari Presiden Trump langsung ke pemimpin negara
- Pengumuman kebijakan lewat Truth Social, media sosial milik Trump
- Pembatalan kesepakatan formal hanya dengan satu postingan
- Diplomasi berubah menjadi permainan untung-untungan, bergantung pada suasana hati, intuisi, atau status media sosial sang presiden.
Gaya Trump ini dikeluhkan pada pejabat tinggi Eropa. “Anda tidak bisa membangun aliansi hanya berdasarkan tebakan," ujar Wakil Presiden Komisi Eropa Maroš Šefčovič.
“Setiap kali kami merasa telah mencapai kesepakatan, dia mengubah target,” ungkap pejabat senior Uni Eropa.
Mungkin Vietnam menjadi contoh nyata dari gaya memerintah Trump ini. Awalnya negara Asia Tenggara itu percaya bahwa tarif ekspornya ke AS akan dipertahankan pada angka 11%. Namun setelah Trump melakukan panggilan pribadi kepada Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, yang tidak terlibat dalam negosiasi perdagangan, tarif tiba-tiba naik menjadi 20%, dan bahkan 40% untuk produk yang dicurigai berasal dari Tiongkok.
Kejutan Tarif Impor
Terkait tarif impor Trump 2025 yang berlaku Agustus mendatang, banyak negara dibuat terkejut, termasuk Indonesia yang terkena potongan 32 persen. “Indonesia juga tak luput dari imbas. Meski menjadi mitra dagang ramah dan memberikan tarif rendah untuk produk AS, ekspor Indonesia justru dikenai tarif 32%,” ungkap Ara.
Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, sektor-sektor terdampak meliputi:
- Minyak sawit (Indonesia memasok 85% dari total impor AS)
- Elektronik dan komponen
- Tekstil dan garmen
- Produk berbahan dasar karet
- Alas kaki
Indonesia bahkan telah menawarkan tarif mendekati nol bagi produk asal AS.
“Risiko tarif Trump untuk Indonesia membuat proyeksi pertumbuhan PDB direvisi turun dari 5,2% menjadi 4,7–5,0%, kemudian risiko PHK massal pada sektor ekspor tekstil, kelapa sawit, karet,” ungkap Ara.
Ia menjelaskan, fenomena ini dijuluki para pelaku pasar sebagai TACO (Trump Always Changes Outcome/Trump Selalu Menghindar). “Trump kerap mengumumkan kebijakan ekstrem, lalu membatalkannya secara bertahap. Namun, meski akhirnya dibatalkan, dampaknya nyata ekonomi AS dan Indonesia sama-sama terpukul,” katanya.
Dampaknya nyata dari TACO ini membuat pasar menjadi volatilitas, investasi tertunda hingga diplomasi yang lumpuh. “Tulisan ini bukanlah serangan pribadi terhadap Donald Trump, tetapi kritik terhadap pendekatan kebijakan yang berdampak luas. Ketika kepemimpinan dijalankan berdasarkan ego, kejutan, dan insting alih-alih struktur dan diplomasi, maka bukan musuh yang paling menderita, melainkan mitra,” pungkas Ara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




