Xi Jinping kepada Trump: Bisakah China-AS Hindari Jebakan Thucydides?
Kamis, 14 Mei 2026 | 19:50 WIB
Beijing, Beritasatu.com – Presiden China Xi Jinping menekankan pentingnya membangun hubungan yang stabil antara China dan Amerika Serikat (AS) saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Beijing, Kamis (14/5/2026). Dalam pertemuan tersebut, Xi menyoroti pentingnya menghindari “Jebakan Thucydides” di tengah dinamika hubungan kedua negara.
"Mampukah China dan Amerika Serikat lolos dari 'Jebakan Thucydides' dan menciptakan paradigma baru hubungan negara-negara besar? Dapatkah kita menghadapi tantangan global bersama dan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi dunia?" kata Xi saat bertemu Trump di Balai Besar Rakyat, Beijing, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri China, dikutip dari Antara.
Xi menyebut pertanyaan tersebut memiliki makna besar, bukan hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi dunia. Menurut dia, tantangan tersebut menjadi persoalan penting yang perlu dijawab bersama oleh para pemimpin negara besar.
"Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting bagi sejarah, bagi dunia, dan bagi publik. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan zaman yang kita sebagai pemimpin negara-negara besar perlu jawab bersama," ujar Xi.
Istilah Jebakan Thucydides merujuk pada situasi ketika negara yang sedang berkembang pesat dianggap mengancam dominasi kekuatan besar yang sudah mapan. Dalam banyak kasus sejarah, kondisi tersebut sering berujung pada konflik atau perang.
Konteks itu kerap dikaitkan dengan meningkatnya pengaruh China yang dipandang menantang posisi kepemimpinan global AS. Istilah tersebut berasal dari Thucydides, sejarawan Yunani kuno yang menulis "Sejarah Perang Peloponnesia" mengenai konflik Athena dan Sparta pada abad ke-5 sebelum Masehi.
Xi menyatakan siap bekerja sama dengan Trump untuk mengarahkan hubungan kedua negara agar memasuki fase baru. Dia berharap tahun 2026 menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan China-AS.
Presiden China itu juga menegaskan komitmen Beijing untuk membangun hubungan bilateral yang stabil, baik, dan berkelanjutan.
"Saya telah sepakat dengan Presiden Trump tentang visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan stabil secara strategis. Ini akan memberikan panduan strategis untuk hubungan China-AS selama tiga tahun ke depan dan seterusnya, dan akan diterima dengan baik oleh rakyat kedua negara dan komunitas internasional," ucap Xi.
Xi menjelaskan konsep "stabilitas strategis yang konstruktif" mencakup kerja sama sebagai landasan utama, persaingan yang sehat dalam batas wajar, pengelolaan perbedaan secara baik, serta hubungan yang berorientasi pada perdamaian jangka panjang.
Hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS, menurut Xi, juga bersifat saling menguntungkan. Dia menilai perbedaan dan gesekan yang muncul harus diselesaikan melalui konsultasi setara.
"Jika terdapat perbedaan pendapat dan gesekan, konsultasi yang setara adalah satu-satunya pilihan yang tepat. Kemarin, tim ekonomi dan perdagangan kita menghasilkan hasil yang umumnya seimbang dan positif. Ini adalah kabar baik bagi rakyat kedua negara dan dunia," jelas Xi.
Xi menambahkan China akan terus membuka diri bagi kerja sama internasional, termasuk dengan pelaku usaha AS yang selama ini terlibat dalam proses reformasi dan keterbukaan ekonomi negara tersebut.
"China hanya akan membuka pintunya lebih lebar. Bisnis-bisnis AS sangat terlibat dalam reformasi dan keterbukaan China. China menyambut baik kerja sama yang lebih saling menguntungkan dari AS," tegas Xi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




