ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

PMI di Malaysia yang Hilang Kontak 31 Tahun Akhirnya Bertemu Keluarga

Kamis, 14 Mei 2026 | 20:04 WIB
AU
H
Penulis: Achmad Udin | Editor: HE
Gim Suyati (73), PMI asal Batang yang hilang kontak selama 31 tahun di Malaysia akhirnya pulang dan bertemu keluarga.
Gim Suyati (73), PMI asal Batang yang hilang kontak selama 31 tahun di Malaysia akhirnya pulang dan bertemu keluarga. (Beritasatu.com/Achmad Udin)

Batang, Beritasatu.com – Tangis haru pecah di sebuah rumah sederhana di Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, saat Gim Suyati (73) akhirnya pulang ke kampung halamannya setelah hilang kontak selama 31 tahun di Malaysia.

Perempuan yang bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) itu kembali ke Indonesia setelah lebih dari tiga dekade hidup tanpa kabar. Kedatangannya langsung disambut anak-anak, keluarga, tetangga, hingga warga sekitar dengan pelukan dan tangis bahagia.

Anak kedua Gim Suyati, Anto (52), mengaku keluarganya sempat hampir kehilangan harapan karena terlalu lama tidak mendapat kabar.

“Dalam hati kami tetap yakin ibu masih hidup. Namun, setelah lama sekali tanpa kabar, kami hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah,” ujar Anto, Kamis (14/5/2026).

ADVERTISEMENT

Gim Suyati diketahui berangkat ke Malaysia pada 1995 untuk bekerja sebagai pekerja migran demi memperbaiki ekonomi keluarga. Saat itu komunikasi dengan keluarga di Batang masih berjalan lancar melalui telepon umum.

“Tahun 1995 sampai 1997 kami masih komunikasi lewat telepon umum,” kata Anto.

Namun, pada 1997, Gim Suyati sempat memberi kabar ingin pulang ke Indonesia. Sayangnya, kabar tersebut menjadi komunikasi terakhir dengan keluarganya.

“Ibu bilang mau pulang, tetapi ternyata tidak pernah sampai,” ungkap Anto lirih.

Sejak saat itu tidak ada lagi kabar, surat, maupun informasi mengenai keberadaan Gim Suyati. Bahkan keluarga sempat menggelar tahlilan karena mengira ia telah meninggal dunia.

Rasa kehilangan membuat Anto memutuskan merantau ke Malaysia pada 2002 sebagai buruh jahit di Batu Pahat, Johor. Selain bekerja, ia juga berusaha mencari ibunya.

Namun, pencarian itu tidak mudah. Anto tidak memiliki alamat jelas tempat tinggal ibunya di Kuala Lumpur. Di tengah keterbatasan teknologi saat itu, ia hanya bisa mencari dengan cara sederhana.

Saat libur kerja, Anto sering mendatangi Terminal Puduraya Kuala Lumpur dan duduk berjam-jam berharap bisa melihat ibunya lewat. Setelah bertahun-tahun mencari, usahanya tidak membuahkan hasil hingga akhirnya ia pulang permanen ke Batang pada 2008.

Belakangan keluarga baru mengetahui penyebab Gim Suyati tidak pernah bisa pulang ke Indonesia. Ia ternyata berangkat ke Malaysia melalui jalur ilegal dan diduga menjadi korban penipuan agen tenaga kerja.

Akibatnya, Gim Suyati hidup tanpa identitas kewarganegaraan yang jelas selama puluhan tahun. Ia bertahan hidup dengan bekerja serabutan, mulai dari membantu pekerjaan rumah tangga hingga menjadi petugas kebersihan.

Meski beberapa kali meminta bantuan ke KBRI, proses kepulangannya selalu gagal karena tidak memiliki dokumen resmi.

Selain itu, Gim Suyati juga takut pulang melalui jalur ilegal menggunakan kapal tongkang karena khawatir terjadi sesuatu di perjalanan.

Perjalanan panjang keluarga ini mulai menemukan titik terang sekitar 10 bulan lalu. Di Malaysia, Gim Suyati bertemu seorang pensiunan bernama Cik Kamarudin Bin Harun, warga Kuala Lumpur. Setelah mendengar kisah hidup Gim Suyati yang terpisah dari keluarga selama puluhan tahun, pria tersebut merasa iba dan memutuskan membantu.

Tanpa diduga, Cik Kamarudin datang langsung ke Indonesia untuk mencari keluarga Gim Suyati. Pada 14 April 2026, ia terbang dari Kuala Lumpur ke Semarang hanya dengan membawa alamat sederhana bertuliskan “Desa Adinuso, Batang”.

“Beliau bilang yang penting bisa menemukan keluarga ibu saya,” kata Anto.

Setelah berhasil menemukan keluarga, mereka langsung melakukan panggilan video dengan Gim Suyati di Malaysia. Namun, karena terlalu lama berpisah, Anto mengaku sempat sulit mengenali wajah ibunya sendiri.

“Saya sama ibu seperti saling berusaha mengenali,” ucapnya.

Momen tersebut semakin emosional ketika kakak kandung Gim Suyati memastikan perempuan di layar video call adalah adiknya. Tangis keluarga pun pecah setelah penantian selama 31 tahun akhirnya terjawab.

Keesokan harinya, keluarga memutuskan memberangkatkan Anto ke Malaysia untuk menjemput ibunya. Namun, proses pemulangan tidak mudah karena Gim Suyati tidak memiliki dokumen identitas resmi Indonesia. Status kewarganegaraan Gim Suyati bahkan sempat dianggap tidak jelas karena ia pergi sebelum era e-KTP.

Di tengah kesulitan tersebut, keluarga akhirnya meminta bantuan anggota DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo.

“Alhamdulillah setelah dibantu, sehari langsung selesai,” ujar Anto.

Berkat bantuan berbagai pihak, Gim Suyati akhirnya bisa dipulangkan ke Indonesia dan kembali berkumpul bersama keluarganya di Batang.

Kini, rumah keluarga Anto dipenuhi warga yang datang untuk melihat langsung kisah haru tersebut. Tangis, pelukan, dan doa syukur terus mengiringi kepulangan Gim Suyati setelah hilang selama 31 tahun.

“Saya cuma bersyukur ibu akhirnya bisa pulang,” kata Anto sambil menahan tangis.

Sementara itu, Yoyok mengaku tergerak membantu karena prihatin melihat kondisi Gim Suyati yang terlunta-lunta di negeri orang tanpa status kewarganegaraan yang jelas. Ia mengaku akan terus membantu para pekerja migran Indonesia yang mengalami masalah selama masih memiliki kesempatan dan dukungan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon