Tolak Bangun Dapur MBG di Kampus, UMY Pilih Jadi Mitra Kajian
Kamis, 14 Mei 2026 | 20:35 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengusulkan keterlibatan perguruan tinggi dalam program makan bergizi gratis (MBG) melalui pendekatan akademik, bukan dengan membangun satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di lingkungan kampus.
Wakil Rektor UMY Bidang Sumber Daya, Dyah Mutiarin, mengatakan kampus dapat berkontribusi lebih efektif melalui riset ilmiah dan program magang mahasiswa di SPPG yang telah beroperasi.
Menurut Dyah, pembangunan SPPG di dalam kampus tidak selalu menjadi solusi terbaik, terutama jika hanya bertujuan menjadikan fasilitas tersebut sebagai living laboratory.
“Kalau tujuan membangun SPPG adalah menjadi living laboratory, itu tidak harus berada di dalam kampus. Kampus sendiri terbatas dari sisi lahan, anggaran, dan sumber daya manusia. Sementara itu, SPPG yang sudah ada di luar kampus juga sudah cukup banyak,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Dyah menjelaskan, model pertama yang diusulkan adalah menjadikan perguruan tinggi sebagai mitra kajian akademik bagi SPPG yang sudah berjalan.
Kajian tersebut dapat dilakukan dosen lintas disiplin ilmu, mulai dari bidang gizi, kesehatan, pertanian, hingga manajemen. Penelitian dan evaluasi yang dilakukan mencakup komposisi gizi makanan, efisiensi anggaran, hingga ketepatan sasaran penerima manfaat program MBG.
“Perguruan tinggi dapat memberikan masukan terkait komposisi gizi, langkah pencegahan keracunan makanan, maupun evaluasi dari sisi efisiensi anggaran,” jelasnya.
Selain kajian ilmiah, UMY juga mengusulkan keterlibatan mahasiswa melalui program magang langsung di SPPG yang sudah ada. Menurut Dyah, skema tersebut dinilai lebih efisien karena mahasiswa tetap memperoleh pengalaman lapangan tanpa kampus harus menanggung biaya pembangunan maupun operasional dapur baru.
Ia menilai Muhammadiyah memiliki keunggulan dalam mendukung pelaksanaan program MBG karena jaringan amal usaha pendidikan Muhammadiyah mulai dari tingkat TK hingga SMA sudah menjadi bagian dari ekosistem penerima manfaat program tersebut.
“Kita mendukung dari sisi sumber daya manusia. Selain itu, karena banyak amal usaha pendidikan Muhammadiyah bergerak di lingkup TK, SD, SMP hingga SMA, sebenarnya kita sudah terhubung langsung dengan SPPG itu sendiri,” ungkapnya.
Dengan ekosistem yang telah terbentuk, Dyah menilai UMY tetap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap program prioritas nasional tersebut tanpa harus membangun SPPG baru di area kampus. Menurutnya, model kolaborasi berbasis akademik lebih efisien, berkelanjutan, dan tetap menjaga peran perguruan tinggi sebagai institusi ilmu pengetahuan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




