Baru Semalam Gencatan Senjata, Thailand-Kamboja Sudah Tegang Lagi
Selasa, 29 Juli 2025 | 08:53 WIB
Surin, Beritasatu.com – Tentara Thailand pada Selasa (29/72025) menuduh Kamboja melanggar gencatan senjata yang baru saja diberlakukan, dengan menyebut bentrokan masih terjadi meski telah ada kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di perbatasan hutan yang diperebutkan.
Kesepakatan gencatan senjata tanpa syarat disepakati pada Senin (28/7/2025) di Malaysia setelah perundingan damai. Gencatan senjata mulai berlaku tengah malam untuk menghentikan pertempuran memperebutkan sejumlah kuil kuno di zona sengketa sepanjang 800 kilometer pada perbatasan kedua negara.
“Pada saat perjanjian berlaku, pasukan Kamboja melancarkan serangan bersenjata ke sejumlah wilayah Thailand,” kata Juru Bicara Militer Thailand, Winthai Suwaree.
“Ini merupakan pelanggaran sengaja terhadap kesepakatan dan upaya merusak kepercayaan bersama. Thailand terpaksa menanggapi dengan tepat demi mempertahankan kedaulatan,” tambahnya.
Seorang jurnalis AFP di Kota Samraong, Kamboja, yang berjarak 20 kilometer dari perbatasan, melaporkan suara ledakan berhenti sekitar 30 menit sebelum tengah malam dan situasi tenang hingga fajar. Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menyatakan melalui Facebook, garis depan telah mereda sejak gencatan senjata diberlakukan.
Konflik yang melibatkan jet tempur, roket, dan artileri sejak Kamis (24/7/2025) pekan lalu telah menewaskan sedikitnya 38 orang dan memaksa hampir 300.000 warga mengungsi. Ketegangan ini mendorong intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama akhir pekan.
Pertempuran kali ini disebut paling mematikan sejak rentetan kekerasan sporadis periode 2008–2011, yang dipicu sengketa wilayah akibat demarkasi batas warisan kolonial Prancis tahun 1907.
Kesepakatan damai akan ditindaklanjuti dengan pertemuan komandan militer kedua negara pada pukul 14.00 WIB, sebelum dilanjutkan dengan komite lintas-perbatasan di Kamboja pada 4 Agustus 2025 untuk meredakan ketegangan lebih lanjut.
Warga yang mengungsi menyambut baik kesepakatan gencatan senjata. “Saya sangat bahagia karena bisa segera kembali ke rumah,” ujar Phean Neth, warga pengungsi Kamboja berusia 45 tahun.
Pernyataan bersama Thailand, Kamboja, dan Malaysia menyebut gencatan senjata ini sebagai langkah penting menuju deeskalasi konflik dan pemulihan perdamaian. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak kedua pihak menghormati kesepakatan dan menciptakan kondisi kondusif untuk perdamaian jangka panjang.
Dalam proses perdamaian ini, Amerika Serikat dan Tiongkok juga berperan aktif. Perdana Menteri Malaysia sekaligus ketua ASEAN Anwar Ibrahim, menjadi tuan rumah perundingan. Hun Manet mengucapkan terima kasih kepada Donald Trump atas dukungannya, sedangkan Penjabat Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai, menekankan pentingnya pelaksanaan gencatan senjata dengan iktikad baik.
Namun, di tengah proses damai, kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan dan menggunakan senjata terlarang, termasuk bom klaster, serta menyerang fasilitas sipil seperti rumah sakit. Thailand melaporkan 11 tentara dan 14 warga sipil tewas, sedangkan Kamboja menyebut delapan warga sipil dan lima tentaranya menjadi korban.
Lebih dari 138.000 warga Thailand dan 140.000 warga Kamboja mengungsi akibat konflik ini. Sementara itu, perayaan ulang tahun ke-73 Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dibatalkan di tengah situasi yang belum stabil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




